
Pada tanggal 23 Maret 2003, seorang tentara berusia sembilan belas tahun bernama Jessica Lynch mengambil belokan yang salah di padang gurun Irak dan terluka sebagai seorang tawanan perang di sebuah rumah sakit di Nasiriyah. Wanita muda berambut pirang yang cantik dari Palestine, West Virginia, Amerika Serikat ini dulu ingin menjadi seorang guru sekolah, tapi karena tidak memiliki uang untuk biaya kuliah, ia bergabung dalam militer untuk membiayai pendidikannya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa perang akan pecah. Selama disiksa sebagai tawanan perang, ia menderita tulang patah dan retak, dan selama satu minggu ia tidak mendapatkan makanan.
Pada tanggal 1 April 2003, setelah menerima sebuah petunjuk dari seorang pengacara Irak yang menyaksikan Jessica Lynch di rumah sakit sedang ditampar oleh seorang pria Irak yang berpakaian hitam, sebuah tim Angkatan Laut, komando Marinir, para pilot Angkatan Udara, dan pasukan keamanan Angkatan Darat Amerika Serikat mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan wanita muda ini.
Mereka menemukan Lynch terbaring di tempat tidur di rumah sakit, mengintip dari bawah sepreinya, ketakutan. Pada hari-hari berikutnya setelah tindakan penyelamatan yang dramatis, kisah tentang keberanian dan semangatnya membanjiri media massa. Kenyataannya adalah, ia hanya berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat untuk menerima tindakan penuh keberanian dan semangat yang dilakukan oleh orang lain.
Dalam banyak hal, kisah Jessica Lynch adalah kisah kita juga. Tidak banyak dari kita yang merupakan pejuang-pejuang yang tidak mengenal takut. Kita hanya melakukan rutinitas kita sehari-hari sampai pada suatu hari kita berada dalam sebuah situasi di mana kita dipanggil untuk menjadi berani. Ketika itulah kita menemukan bahwa keberanian yang sejati tidak selalu berarti melakukan tugas tanpa rasa takut. Sebaliknya, keberanian sejati adalah terus maju, atau kadang kala berdiri teguh, meskipun lutut kita gemetar dan jantung kita berdebar kencang karena ketakutan – dan memercayakan hasil akhirnya kepada Allah.
Meskipun Anda dan saya tidak pernah berada pada posisi sebagai seorang tawanan perang atau sebagai ratu yang menghadapi risiko kehilangan nyawa demi sebuah bangsa, setiap kita akan mendapati diri kita berada dalam situasi-situasi di mana kita membutuhkan keberanian. Sering kali, kita dipanggil untuk menjadi terang di tengah kegelapan, tepat di mana kita berada, yang membutuhkan keberanian tersendiri – bukan keberanian seperti yang dibutuhkan oleh seorang tentara yang berada di dalam sebuah tank yang berjalan melintasi padang gurun. Namun kita membutuhkan keberanian untuk tetap “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini” (Filipi 2: 15). Kita harus “bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan” (Filipi 2: 15-16).
Kita semua ingin bercahaya bagi Yesus dan menjadi terang di tengah kegelapan, namun sering kali ada jarak yang cukup jauh antara ingin dan bertindak, terlebih jika kegelapan yang ada sangat besar dan terang kita kecil dan lemah. Tarikan untuk berkompromi menjadi sangat kuat.
Ketika Perjalanan Terasa Berat … Berlututlah!
Ester diperhadapkan dengan sebuah dilema. Sebagai orang Yahudi, ia ada di antara orang-orang yang akan dibinasakan, dan hari pembantaian tersebut semakin dekat. Harapan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawanya dan bangsanya adalah dengan memohon kepada sang raja. Namun, jika kunjungannya yang tidak terduga ternyata mengganggu sang raja, ia dapat kehilangan nyawanya. Seperti yang ia lihat, ia menghadapi situasi yang sama-sama tidak menguntungkan kecuali sang raja sedang dalam keadaan senang, dan ia berkenan mengulurkan tongkat kerajaannya kepada Ester.
Karena hidup dan mati dan hati para raja ada ditangan Tuhan, respons pertama Ester mengenai dilema keputusasaannya adalah berpuasa dan berdoa dan mencari wajah Tuhan. Ia berdoa bagi dirinya sendiri, dan ia berdoa bagi bangsanya. Bukan sebagai jalan keluar terakhir, melainkan sebagai jalan keluar pertama. Sebagai orang Kristen, dua senjata terbaik untuk menyerang dan bertahan yang telah diberikan kepada kita adalah firman Tuhan dan doa. Dalam kedua senjata ini, kita menemukan kekuatan dan keberanian yang cukup bagi setiap tugas atau masalah yang Tuhan tetapkan untuk kita hadapi.
Kita pun telah diberi sebuah sistem pendukung, gereja lokal kita. Di sanalah kita menemukan orang-orang percaya yang memiliki pikiran yang sama, yang mengangkat kita ketika kita jatuh dan meneguhkan kita ketika kita lemah dan takut. Sebagai suatu keluarga, kita menangis bersama, tertawa bersama – dan berdoa bersama.
Pada akhirnya, Ester dan bangsanya diselamatkan melalui titah raja yang lainnya, yang mengizinkan orang-orang Yahudi untuk membela diri mereka. Ketika hari pembinasaan yang dijadwalkan tiba, mereka justru membinasakan musuh-musuh mereka.
Kisah Ester adalah kisah tentang apa yang bisa Tuhan lakukan melalui sebuah kehidupan yang biasa. Ester pada awalnya hanya ingin memenangkan sebuah kontes kecantikan dan pada akhirnya ia menyelamatkan bangsanya dari kehancuran. Di antara kedua hal tersebut terletak kisah yang sebenarnya, yaitu bahwa: Tuhan memilih dan memakai orang-orang biasa yang ketakutan, bersembunyi di balik tudung mereka, dan yang tidak selalu tahu apa yang harus mereka lakukan. Namun dalam ketakutan mereka, melalui doa-doa dan permohonan mereka, Tuhan mendekat. Dan oleh karena Dia menyertai mereka, menyertai Anda, menyertai saya, bahkan orang yang paling takut dan kecut sekalipun menjadi dikuatkan.
Kisah tersebut juga merupakan kisah tentang bagaimana Tuhan dapat memakai seorang wanita dan sahabat-sahabatnya untuk berlutut dan mengubah sejarah suatu bangsa lewat doa-doa mereka.
Dikutip dari buku: Doa-doa Para Wanita: Kisah Para Wanita Pendoa di Dalam Alkitab, penulis: Nancy Kennedy, penerbit: Metanoia, cetakan pertama: Mei 2007, Bab 3: Doa Ester : Ia Berdoa dengan Keberanian, halaman 35-49.
GBI Pasir Koja 39 Bandung