Kami bersyukur Tuhan berikan kesempatan kepada kami (Pdp Eddy, Peni, Ronny, Surya dan Ria) untuk melayani di dusun Muwur, Ruteng – pulau Flores. Kami menempuh perjalanan udara kurang lebih 4 jam dan transit dengan tujuan akhir Bandara Komodo di Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, kami menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam menuju Ruteng. Perjalanan darat luar biasa menantang dengan kondisi medan yang ekstrem kadang berbelok dengan sudut hampir 180 derajat. Sehingga jika tidak hati-hati dan berpengalaman dalam mengemudi akan sangat berbahaya karena di kiri dan kanan adalah jurang yang dalam.
Sesampai di Ruteng, kami bergabung dengan tim pelayanan lokal yang dipimpin oleh Pdt. David Supendi. Selama di Ruteng kami tinggal di tempat bpk. Manurung. Kami mendapatkan sambutan yang luar biasa dan saling berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan.
Pada hari Sabtu, kami mengadakan pengobatan masal yg meliputi pelayanan pemeriksaan umum dan gigi. Kami melayani kurang lebih 100 pasien umum dan pasien gigi kurang lebih 10 orang.
Pada hari Minggu, kami berkesempatan beribadah dengan jemaat GBI Ruteng. Pdp Eddy Kurniawan membagikan Firman Tuhan mengenai pengampunan yang membuka berkat Tuhan dan itu sangat memberkati setiap yang hadir. Sementara itu Ibu Ria melayani Sekolah Minggu bersama Pdt. Jason.
Dalam perjalanan misi kali ini, kami berkesempatan untuk mengunjungi dan tinggal di dusun Muwur selama 2 hari. Perjalanan masuk ke dusun Muwur tidak semudah yang dibayangkan, jalanan sempit dan terjal, jurang yang dalam sehingga truk yang kami tumpangi harus berjalan dengan hati-hati. Ada satu momen truck kami berhadapan dengan truk lain dari arah berlawanan dan sulit untuk bisa lewat. Lebar jalan masuk ke dusun Muwur hanya sekitar 3 meter dan itu benar benar pas dengan ukuran satu truk. Kami hanya berdoa. Puji Tuhan, supir kami diberi hikmat dan kepintaran sehingga truk kami berhasil melewati medan sulit tersebut sampai di dusun Muwur.
Saat kami tiba di dusun Muwur kami disambut dengan upacara adat. Sungguh suatu kehormatan bagi kami. Dalam adat Muwur, penyambutan ini berarti mereka menerima kami sebagai saudara. Di dusun Muwur, kami melakukan beberapa hal seperti ibadah bersama, Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Jason sementara Ria dan Peni membantu mempersiapkan segala yang akan dipakai dalam pengobatan. Peni melakukan penyuluhan dan training untuk menanam jagung. Pengobatan di dusun Muwur sungguh luar biasa, pasien yang datang berobat lebih dari 150 orang. Dan pasien gigi dengan jumlah pasien lebih dari 20 orang. Kami bersyukur karena kami disambut dengan baik oleh masyarakat disini. Kondisi kesehatan masyarakat, cukup banyak pasien yang menderita penyakit kulit. Sementara itu kondisi sosial ekonomi masyarakat di dusun Muwur didominasi oleh golongan menengah ke bawah, bermatapencaharian bertani. Keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan semangat anak-anak di dusun Muwur untuk belajar dan juga hadir ke Sekolah Minggu, sungguh semangat yang luar biasa. Kami sungguh diberkati saat melihat semangat dan kesungguhan mereka.
Di dusun Muwur, sudah ada beberapa keluarga yang percaya kepada Tuhan Yesus dan membuka rumah mereka untuk ibadah, bahkan ada sebuah keluarga yang menyumbangkan tanah mereka yang ada di puncak bukit untuk pembangunan gereja, Puji Tuhan. Kami berdoa agar Tuhan mencukupkan segala kebutuhan pembangunan gereja dan kami sangat berharap saat kembali ke sana, gereja sudah terbangun!
Hal yang paling berkesan dalam perjalanan kali ini adalah mengenai menjaga hati dan perkataan dalam pelayanan. Hari itu saat semua pelayanan sudah selesai dan kami berencana kembali ke Bandung. Kami bercanda dan bersukacita dengan semua yang sudah kami kerjakan sepanjang melayani Tuhan di Ruteng dan dusun Muwur. Keesokan pagi harinya saat kami akan berangkat menuju Labuan Bajo, tanpa kami sadari ada salah satu anggota tim yang tersinggung oleh kata-kata candaan kami. Teman kami marah sekali dan sudah memanggil mobil sewaan untuk langsung kembali ke Labuan Bajo malam itu juga, awalnya kami tidak menyadari kemarahannya. Hanya salah satu aggota tim saja yang menyadari hal tersebut dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Akhirnya kami berempat duduk berdiskusi tentang beberapa hal sambil meluruskan kesalahpahaman. Singkat cerita, sampailah kita pada obrolan mengenai kesombongan rohani, tiba-tiba Tuhan mengingatkan sesuatu tentang hal ini. Saya bertanya kepada teman-teman yang lain “mengapa kita berkumpul berempat dan berdiskusi hal-hal yang tidak terarah seperti ini, apa maksud Tuhan ya, karena tidak mungkin tidak ada tujuannya ?”. Saya kemudian melanjutkan bertanya dan mengkonfirmasi apa yang saya dapatkan, “apakah ada yang mendapatkan sesuatu?” semua menjawab: doa, dan saya diingatkan Tuhan untuk bersaksi mengenai hari saat kepulangan saya dari Tumbang Bemban, Kalimantan Tengah. Saya ingat betul kami merasa sudah selesai pelayanan dan sukacita dengan luar biasa dan sedikit terlena, kami tidak berdoa dengan sungguh-sungguh seperti saat kami berangkat. Saat itu kami mengalami kecelakaan saat kembali dari Tumbang Bemban ke Palangkaraya dan kehilangan teman sepelayanan yang kami kasihi.
Saat itu juga kami berempat, bersepakat untuk berdoa dan kami dengan segenap hati memohon ampun untuk semua dosa-dosa kami sepanjang pelayanan, bersyukur untuk semua perlindungan Tuhan dan memohon perlindungan Tuhan saat perjalanan kembali. Damai sejahtera dari Tuhan melingkupi kami saat itu.
Pagi hari pukul 06.00, kami berangkat ke Labuan Bajo untuk kembali ke Bandung. Tidak ada yang aneh dalam perjalanan dan semuanya terasa lancar. Sampai 3 jam perjalanan menjelang memasuki kota Labuan Bajo, pada jalan yang DATAR, pada saat menurunkan kecepatan kendaran, ban sebelah kiri belakang meletus. Mungkin terdengar tidak ada yang aneh, namun coba bayangkan jika tempat meletusnya ban mobil kami bergeser 300 – 500 meter mungkin ceritanya akan lain, bisa jadi mobil yang kami tumpangi akan terguling. Puji Tuhan, kami sangat bersyukur akan perlindungan Tuhan yang sempurna, tepat pada waktunya dan kami yakin tidak ada yang kebetulan dalam Tuhan.
Pesan yang kami dapat dalam pelayanan kali ini adalah dalam segala hal kita harus senantiasa berdoa dan berjaga-jaga apalagi di dalam pelayanan, tantangan dan kesulitan selalu ada, serangan-serangan dari si jahat selalu ada dalam berbagai bentuk, namun kuasa Tuhan yang sempurna itu yang menjaga dan menopang kita untuk menjadi lebih dari seorang pemenang.
Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kritus Yesus, Tuhan kita.
1 Tesalonika 5:16-18
Tuhan memberkati kita semua.
Oleh: Ronny Lesmana
GBI Pasir Koja 39 Bandung