
Ketika kita mendengar kata Tumor atau Kanker sering kali membuat kita takut dan gentar karena kita berpikir bahwa penyakit tersebut mematikan dan membutuhkan pengobatan jangka panjang. Salah satu bentuk kanker yang paling sering adalah Kanker Payudara, terutama bagi wanita. Dengan rasa takut ketika mendengar penyakit ini, tidak sedikit orang akan menunda pemeriksaan karena khawatir akan hasilnya. Padahal, justru dengan mengenali gejala sejak dini dan segera memeriksakan diri, peluang keberhasilan pengobatan menjadi jauh lebih besar.
Melalui artikel ini, kita akan mengenal apa itu kanker payudara, siapa saja yang berisiko mengalaminya, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta langkah-langkah sederhana untuk mendeteksinya sejak dini. Kiranya informasi ini dapat menambah pengetahuan kita, mengurangi rasa takut yang tidak perlu, serta mendorong kita untuk semakin peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi.
Apa Itu Kanker Payudara?
Kanker payudara adalah penyakit yang terjadi ketika sel-sel di dalam payudara tumbuh secara tidak terkendali hingga membentuk benjolan atau menyebar ke bagian tubuh lainnya. Penyakit ini merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering dialami oleh wanita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun lebih banyak terjadi pada wanita, pria juga dapat mengalami kanker payudara, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit.
Kabar baiknya, jika kanker payudara ditemukan sejak stadium awal, peluang untuk sembuh sangat tinggi. Oleh karena itu, mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan secara rutin sangatlah penting.
Apa Penyebab Kanker Payudara?
Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti kanker payudara. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, antara lain:
· Usia di atas 40 tahun.
· Memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker payudara atau kanker ovarium.
· Mengalami menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun atau menopause setelah usia 55 tahun.
· Belum pernah melahirkan atau melahirkan anak pertama setelah usia 30 tahun.
· Obesitas atau kelebihan berat badan.
· Kurang aktivitas fisik.
· Konsumsi alkohol.
· Penggunaan terapi hormon dalam jangka panjang setelah menopause.
· Riwayat pernah menderita kanker payudara sebelumnya.
Memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker payudara. Sebaliknya, seseorang tanpa faktor risiko pun tetap dapat mengalaminya.
Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Beberapa gejala yang sering ditemukan antara lain:
· Muncul benjolan pada payudara atau ketiak yang tidak hilang.
· Perubahan ukuran atau bentuk payudara.
· Kulit payudara tampak berkerut seperti kulit jeruk.
· Puting tertarik ke dalam.
· Keluar cairan dari puting, terutama jika bercampur darah.
· Luka pada payudara yang tidak kunjung sembuh.
· Nyeri pada payudara yang berlangsung terus-menerus (meskipun sebagian besar nyeri payudara bukan disebabkan oleh kanker).
Tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Namun, setiap benjolan yang menetap sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
Bagaimana Cara Mendeteksi Kanker Payudara?
Deteksi dini merupakan langkah paling penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan.
1. SADARI (Periksa Payudara Sendiri)
SADARI dilakukan setiap bulan, sekitar 7–10 hari setelah hari pertama menstruasi. Bagi wanita yang sudah menopause, pilih satu tanggal yang sama setiap bulan.
Langkah-langkah sederhana SADARI:
· Berdiri di depan cermin dan perhatikan apakah ada perubahan bentuk atau ukuran payudara.
· Angkat kedua tangan dan amati kembali.
· Raba seluruh bagian payudara menggunakan ujung jari dengan gerakan melingkar.
· Periksa juga area ketiak.
· Tekan perlahan puting untuk melihat apakah keluar cairan.
Jika menemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan.
2. SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis)
Pemeriksaan dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan terlatih, terutama bagi wanita berusia di atas 30 tahun atau yang memiliki faktor risiko.
3. Mammografi
Mammografi adalah pemeriksaan menggunakan sinar-X khusus untuk mendeteksi kelainan pada payudara, bahkan sebelum benjolan dapat dirasakan.
Wanita berusia 40 tahun ke atas sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai waktu yang tepat untuk mulai menjalani pemeriksaan mammografi secara berkala, terutama bila memiliki faktor risiko tinggi.
Apakah Kanker Payudara Bisa Diobati?
Ya. Pengobatan akan disesuaikan dengan jenis kanker, stadium penyakit, serta kondisi kesehatan pasien.
Pilihan terapi meliputi:
· Operasi untuk mengangkat tumor atau payudara bila diperlukan.
· Kemoterapi.
· Radioterapi.
· Terapi hormon.
· Terapi target.
· Imunoterapi pada jenis kanker tertentu.
Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar kemungkinan pengobatan berhasil dan kualitas hidup pasien tetap baik.
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko?
Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah, risiko kanker payudara dapat dikurangi dengan menerapkan gaya hidup sehat, antara lain:
· Menjaga berat badan ideal.
· Berolahraga minimal 150 menit setiap minggu.
· Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama sayur dan buah.
· Membatasi makanan tinggi lemak dan makanan olahan.
· Tidak merokok.
· Menghindari konsumsi alkohol.
· Menyusui bayi jika memungkinkan.
· Melakukan pemeriksaan payudara secara rutin.
GBI Pasir Koja 39 Bandung