BENIH SULUNG

Benih sulung adalah persembahan ucapan syukur atas panenan dan hasil yang diperoleh, maka petani Israel menyerahkan sebagian hasil panennya kepada Allah. Mula-mula mereka mempersembahkan buah dari hasil yang pertama. Seiring berjalannya waktu, mereka mempersembahkan hasil yang terbaik (gandum, buah anggur, buah zaitun, bulu domba dan lain-lain). Bagian panen yang pertama itu disiapkan untuk kenisah atau persembahan untuk para imam, terutama pada pesta-pesta panen, namun persembahan ini bukan merupakan pemberian keseluruhan hasil panen tetapi hanya seberkas saja (Imamat 23:10-11, 17).

Doa yang di ucapkan bersamanya (Ulangan 26:5-10) merupakan suatu ungkapan untuk memuja dan memuliakan Tuhan sebagai pemberi tanah yang subur (mengenai peraturan tentang doa itu lihat Bilangan 15:17-21; 18:12-13; Imamat 19:24 dan lain-lain). Benih sulung ini menunjukkan kecintaan, ketaatan, dan kesetiaan kasih umat kepada Tuhan-Nya yang senantiasa memberkati mereka dalam keadaan kesulitan ekonomi sebuah bangsa, buah sulung menjadi tanda ketaatan dan kesetiaan jemaat kepada Tuhan. Apakah pemberian benih sulung merupakan upaya manusia untuk memancing Tuhan agar mencurahkan berkat-Nya pada si pemberi benih sulung? Jawabnya, TIDAK!   

Paulus berbicara juga tentang benih sulung dalam penggambaran korban Yesus, bahwa 1 orang saja sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh dosa umat manusia. Jelas sekali yang penting adalah kesetiaan dan ketaatan, bukan soal jumlahnya apalagi keseluruhan hasilnya, tapi persembahan sulung merupakan lambang dari sebuah persembahan dengan memberikan sebagian untuk dikuduskan bagi Tuhan, artinya umat Israel diajarkan kalau seberkas persembahan benih sulung yang diberikan dengan ketaatan akan menguduskan  sisanya dan kemudian umatnya sendiri yang menentukan untuk diapakan sisa dari hasil panennya. Roma 11:16 memakai istilah “yang sulung” sebagai “shadow image” dari Tuhan Yesus Kristus yang dipersembahkan sebagai korban untuk menguduskan sisanya. Maksudnya adalah, benih sulung yang diberikan dengan tulus ikhlas dan takut akan Tuhan, kelak akan menguduskan dan memberkati hasil-hasil panen selanjutnya, pada bulan-bulan berikut pada tahun yang akan berjalan sepanjang waktu.

Jadi, seperti persepuluhan yang jemaat bawa ke rumah Tuhan setiap bulan akan menguduskan sisanya, bahkan Maleakhi 3:10 menjelaskan, “………………..ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Sekali lagi bukan soal jumlah tetapi soal komitmen, kesetiaan dan ketaatan, maka berkat Tuhan akan dicurahkan berlimpah-limpah sepanjang tahun 2020 mendatang.

           Selamat Tahun Baru 1 Januari  2020 Tuhan Yesus memberkati seluruh jemaat, Amin!                      

Oleh: Pdt. Dr. A. L. Jantje Haans                          

Check Also

Artikel Doa

KOSMO

Oleh: Sonny Syam Matius 28:19-20 (TB) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah …