Bahan Care Sel Nopember 2016

carecellPertemuan 1

DOA

Doa yang memindahkan gunung (Mat. 17:19-20; Luk. 11:9-13)

Gunung berbicara tentang pergumulan atau masalah hidup yang besar yang sedang dihadapi. Hal itu bisa sakit penyakit, masalah keuangan atau apapun yang lain. Dalam Matius 17:14-21, gunung yang dimaksud adalah sakit ayan disertai dengan bisu dan tuli yang diderita oleh seorang anak sejak  masa kecilnya (Mrk. 9:25). Dan sakit itu berulang-ulang hampir membuat anak itu meninggal (Mat. 17:15; Mrk. 9:22). Ternyata penyakit itu bukan disebabkan oleh faktor medis atau alamiah tetapi karena anak itu dirasuk oleh setan/roh jahat.

Murid-murid mencoba mengusir roh jahat yang menyebabkan anak itu sakit, tetapi mereka tidak dapat (Luk. 9:40). Tetapi ketika anak itu dibawa kepada Yesus, Tuhan Yesus menegor (bahasa Yunaninya epitimesen = memberi perintah kepada setan dengan keras karena yang memberi perintah adalah seseorang yang mempunyai otoritas/kuasa), dan seketika anak itu sembuh dan dengan seketika itu juga roh itu keluar dari anak itu.

Ketika murid-murid bertanya, mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu? Tuhan Yesus menjawab karena murid-murid kurang percaya (dalam bahasa Yunani disebut a pistia = tidak beriman). Jadi satu-satunya alasan mengapa murid-murid tidak dapat mengusir roh itu adalah karena mereka tidak beriman.

Lalu Tuhan Yesus mengajar murid-murid, bahwa jika mereka mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, mereka dapat memberi perintah kepada gunung (pergumulan, persoalan, penyakit, masalah keuangan) untuk pindah, dan gunung itu akan pindah.

Jadi doa yang memindahkan gunung adalah doa yang diucapkan dengan iman. Iman di dalam doa itu memberikan kepada kita otoritas/kuasa, sehingga ketika kita memerintahkan gunung-gunung persoalan untuk menyingkir, maka gunung-gunung persoalan itu akan taat.

Menurut Roma 10:17, iman itu datang ketika kita membaca firman Tuhan, maka baca dan renungkanlah firman Tuhan setiap hari sehingga firman itu mengalirkan iman ke dalam hati Anda. Maka pada saat Anda berdoa, Anda mempunyai otoritas untuk memindahkan gunung-gunung persoalan atau sakit-penyakit.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Jika iman datang dengan cara mendengarkan firman Tuhan, dan iman itu membuat doa kita mempunyai otoritas untuk memindahkan gunung. Maka menurut Anda, apakah benar bahwa sebaiknya orang Kristen itu selalu membaca Alkitab mereka setiap hari, sehingga iman senantiasa ada di dalam hati mereka ketika mereka berdoa?
  2. Berdoalah bersama-sama untuk setiap gunung persoalan yang sedang dialami oleh siapa pun dalam care sel. Perintahkan gunung-gunung persoalan itu untuk menyingkir, maka gunung-gunung itu akan taat!

Pertemuan 2

Dalam doa kita menguduskan segala sesuatu (1Tim. 4:4-5).

Teks I Timotius 4:1-16 adalah perikop tentang nasehat Paulus terhadap Timotius dalam menghadapi pengajar sesat atau bidat. Dalam ayat 3 disebutkan “mereka itu (pengajar sesat/para bidat) melarang orang kawin, melarang orang makan-makanan yang diciptakan Allah.” Larangan untuk melakukan perkawinan dan makan makanan tertentu adalah praktek hidup asketis yang dipraktekkan oleh para bidat pada zaman itu. Praktek hidup asketis adalah praktek hidup yang berpantang pada hal-hal jasmani. Praktek ini didasari karena keyakinan bahwa segala hal yang ada di dunia ini  atau yang bersifat materi dan jasmaniah adalah jahat. Diantaranya adalah perkawinan dan makanan. Jadi para bidat menganggap bahwa jika orang berpantang total terhadap nafsu seksual atau tidak menikah maka ia menjadi lebih kudus. Demikian juga jika orang berpantang makan makanan tertentu maka diyakini ia bisa menjadi lebih kudus.

Ajaran ini ditentang oleh Paulus. Karena ajaran ini tidak menyadari bahwa Allah mengaruniakan perkawinan dan makanan kepada manusia sebagai sesuatu yang baik. Paulus berkata: “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur.” (ay. 4). Selain itu, Paulus menambahkan bahwa “semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.” (ay. 5).

Kata kudus sejak dalam Perjanjian Lama, mengungkapkan tentang ide bahwa sesuatu atau seseorang telah dipisahkan untuk hanya dipakai dan dipersembahkan bagi kemuliaan Allah saja. Misalnya, orang-orang mempersembahkan emas, perak dan lain-lain untuk dikuduskan. Maka emas dan perak itu hanya dapat dipakai untuk kemuliaan Allah saja. Lalu emas dan perak itu misalnya diolah menjadi bahan-bahan bagi pembuatan Kemah Suci di mana kemuliaan Allah berdiam.

Contoh lain, misalnya seseorang dikuduskan menjadi imam. Maka sejak saat ia dikuduskan, ia telah dipisahkan dari pekerjaan atau aktivitas yang lain untuk hanya melakukan tugas-tugas keimaman. Walaupun di kemudian hari banyak imam tergoda juga untuk pergi beternak, dan berladang, sehingga meninggalkan tugas-tugas keimamannya. Pada saat hal itu terjadi memang Israel langsung mengalami kemerosotan rohani yang tajam. Karena imam-imam telah melanggar kekudusan panggilan mereka.

Dengan demikian, jika dikatakan bahwa doa menguduskan segala sesuatu, itu berarti melalui doa kita menguduskan segala sesuatu atau hidup kita sendiri yang kita doakan itu untuk hanya dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan saja.

  1. Misalnya, melalui doa kita menguduskan makanan, maka kita berkomitmen bahwa saat kita makan maupun sesudah kita makan, kita melakukannya untuk kemuliaan Tuhan. Itu berarti kita harus menguasai diri saat makan, dan sesudah makan kita mendapatkan kekuatan baru, maka kekuatan itu kita persembahkan untuk kemuliaan Tuhan.
  2. Demikian juga ketika kita menguduskan pekerjaan atau bisnis kita melalui doa. Maka sejak saat itu kita mendedikasikan pekerjaan atau bisnis kita untuk kemuliaan Tuhan. Tentu saja sebagai konsekuensinya, kita harus menempuh jalan kekudusan. Menghindari kecurangan, menghormati atasan, memperlakukan karyawan dengan kasih dan sebagainya.
  3. Jika seseorang di dalam doa menguduskan studinya, maka ia mempersembahkan studinya sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Konsekuensinya, ia tidak mencontek, mengerjakan tugas-tugas dengan segenap hati dan tepat waktu, dan sungguh-sungguh belajar.
  4. Jika seseorang di dalam doa menguduskan rumahnya, maka ia mempersembahkan rumahnya sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan. Mungkin salah satu caranya adalah dengan membuka rumah sebagai tempat Care Sel sehingga banyak orang bisa dibina imannya.
  5. Jika seseorang di dalam doa menguduskan gajinya setiap bulan, maka ia mempersembahkannya untuk memuliakan Tuhan. Konsekuensinya, tentu saja ia akan menyisihkan sepersepuluh untuk dipersembahkan sebagai persepuluhan. Lalu menggunakan sisanya dengan sikap takut akan Tuhan. Menghindari pemborosan, pembelian benda-benda yang tidak bermanfaat apalagi merusak seperti rokok dan lain-lain.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Sudahkah Anda menguduskan segala aspek hidupmu melalui doa setiap hari?
  2. Apakah konsekuensinya, jika Anda telah menguduskan segala aspek hidupmu bagi kemuliaan Tuhan?

Pertemuan 3

Doa di mana saja dan kapan saja (2 Raja-raja 17:26)

Doa adalah nafas kehidupan orang percaya. Sebagaimana bernafas yang bisa kita lakukan di mana saja dan kapan saja demikian juga dengan doa. Doa kita tidak dibatasi oleh waktu, tempat bahkan keadaan. Paulus dan Silas bisa tetap berdoa walaupun mereka sedang dibelenggu di dalam penjara (Kis. 16:23-25). Saya percaya Daniel pun pasti berdoa sementara ia dimasukkan ke dalam gua singa, sebab karena kebiasaan berdoalah maka Daniel dimasukkan ke dalam gua singa (Dan. 6:14). Stefanus tetap berdoa sementara orang-orang melemparinya dengan batu (Kis. 7:59).

Untuk memberi kesempatan berdoa di mana saja dan kapan saja, maka Allah memberikan enam jenis doa kepada kita:

  1. Doa pribadi

Doa pribadi adalah doa yang dilakukan setiap hari secara rutin oleh kita secara pribadi (sendirian). Doa pribadi dapat dilakukan kapan saja menurut waktu yang kita miliki. Doa pribadi dapat kita lakukan entah pada waktu pagi, siang, sore atau malam hari.

Doa pribadi adalah waktu khusus yang kita miliki untuk membangun hubungan secara pribadi dengan Allah. Ketika kita berdoa secara pribadi, maka kita sedang hidup bergantung dengan Allah. Tuhan Yesus memberikan contoh kepada kita tentang doa pribadi. Meskipun Ia memiliki jadwal yang sibuk, Ia tetap membangun hubungan yang intim dengan Allah Bapa. Ia selalu mengundurkan diri dari keramaian dan mencari tempat yang sunyi untuk berdoa.

  1. Doa bersama (Mat. 18:18-20)

Doa bersama adalah doa yang dilakukan oleh lebih dari satu orang secara bersama-sama. Di dalam doa bersama diperlukan kesatuan hati, sebab jika dua orang atau lebih bersehati dalam doa yang dikehendaki Tuhan, maka Tuhan akan menjawab doa kita.

Bentuk doa bersama dapat kita lakukan di care sel atau di dalam keluarga kita. Agar kita dapat sehati dalam doa bersama, maka perlu dibuat catatan pokok-pokok doa agar kita dapat mendoakannya bersama dan memiliki fokus hati yang sama pula. Doa dapat dipanjatkan oleh satu orang dan yang lain hanya mengaminkan saja, atau dapat juga diucapkan secara bersama-sama.

  1. Doa syafaat

Doa syafaat adalah doa yang kita panjatkan untuk orang lain. Doa syafaat dapat dilakukan dalam bentuk doa-doa yang lain seperti doa pribadi, doa bersama, doa rantai dan lain-lain. Isi doa syafaat dapat untuk keselamatan orang lain, pergumulan orang lain atau hal yang memang Tuhan gerakkan untuk kita doakan.

Doa syafaat untuk keselamatan orang lain sangat penting. Sebab jika kita tidak berdoa maka akan banyak orang yang jiwanya binasa. Doa syafaat yang kita panjatkan akan besar juga dampaknya bagi keselamatan kota atau negara (Yer. 29:7). Jika kita mau melakukan doa syafaat, maka kita akan menjadi alat Tuhan untuk kemuliaan-Nya.

  1. Doa rantai

Doa rantai adalah doa yang kita lakukan bersama-sama dengan orang lain secara berkesinambungan. Orang yang berdoa bisa berada di tempat lain tetapi telah bersepakat untuk berdoa bergantian menurut waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari doa ini adalah memiliki doa yang terus-menerus, tiada putus-putusnya tentang suatu pokok doa (I Tes. 5:17).

Doa rantai tidak dilakukan dalam keadaan biasa dan tidak bersifat pribadi, tetapi biasanya dilakukan jika ada hal-hal yang sungguh-sungguh sedang digumulkan secara bersama dan sangat mendesak. Contoh: kita berdoa rantai untuk keamanan negara yang sedang mengalami banyak kerusuhan, berdoa rantai untuk KKR atau pelayanan di suatu tempat yang menghadapi banyak tantangan. Berdoa rantai untukk gereja-gereja yang sedang dalam penganiayaan besar.

  1. Doa puasa

Doa puasa adalah doa yang disertai dengan berpuasa. Bisa dengan puasa total seperti Musa (Ul.9:9) dan Ester (Est. 4:16). Puasa dari makanan enak seperti Daniel (Dan. 10:2-3), atau puasa dari makan tetapi minum seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (Luk. 4:1-2).

Dengan berpuasa, kita berpantang dari makanan tertentu atau semua makanan bagi suatu tujuan rohani dan kerinduan rohani yang dalam. Karena kebulatan tekad untuk berdoa begitu kuat atau peperangan rohani begitu mendesak sehingga untuk sementara waktu kita mengesampingkan kebutuhan jasmani agar kita bisa berdoa dan merenungkan firman Tuhan.

  1. Doa peperangan (Ef. 6:12)

Doa peperangan adalah doa yang dinaikkan untuk memerangi, melawan, melucuti, menghancurkan, merobohkan dan mengikat kuasa-kuasa jahat yang menghalangi dan membutakan jiwa-jiwa untuk bertobat datang kepada Tuhan.

Dalam Ef. 6:12 disebutkan bahwa perjuangan kita bukan melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

Untuk memenangkan sesuatu di alam nyata, terlebih dahulu kita harus memenangkannya di alam roh yaitu melalui doa peperangan. Melalui doa peperangan, kita membiarkan kuasa Roh Allah bekerja dan melakukan segala sesuatu yang tidak mampu kita kerjakan di alam nyata.

Ini waktunya untuk menggerakkan seluruh jemaat untuk doa peperangan! Dan berjalan melawan pintu gerbang neraka dan membebaskan tawanan. Kita harus mengambil sikap menyerang dan bukan bertahan. Jemaat harus digerakkan sebanyak mungkin untuk melakukan doa peperangan. Kita telah diberi kuasa dan otoritas untuk menghancurkan benteng-benteng Iblis (II Kor. 10:5), untuk mengikat dan melepaskan (Mat. 16:19), sebab Roh yang ada di dalam kita lebih besar dari roh yang ada di dalam dunia ini (I Yoh. 4:4).

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Sudahkah Anda mempraktekkan keenam jenis doa di atas? Jika belum, utarakanlah alasannya!
  2. Sepakatilah bersama dengan para anggota care sel, untuk memilih satu jenis doa tertentu untuk dipraktekkan sepanjang minggu ini!

Pertemuan 4

Doa sumber kuasa yang tidak terbatas (Yak. 5:13-20)

Doa adalah unsur hakiki dan mutlak yang harus ada dalam kehidupan orang Kristen. Menurut Yakobus bila orang Kristen menderita baiklah ia berdoa (ay. 13a). Kalau ia bergembira baiklah ia menyanyi (ay. 13b) (bahasa Yunani menyanyi adalah psalleto = berdoa dengan cara dinyanyikan sebagai mazmur), dan kalau ia sakit hendaklah memanggil para penatua supaya mendoakan (ay. 14).  Jadi menurut Yakobus, orang Kristen harus tetap berdoa dalam keadaan apa pun, baik pada waktu menderita, bergembira atau saat sedang sakit. Hal ini juga pernah disampaikan oleh Paulus dalam I Tes.  5:18 “Tetaplah berdoa”.

Yakobus juga berkata: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak. 5:16). Namun tidak semua doa memperoleh jawaban. Menurut Yakobus agar doa dijawab dan memiliki kuasa yang sangat besar, maka ada tiga syarat yang harus dipenuhi:

  1. Doa orang benar

Doa yang efektif adalah doa yang dipanjatkan oleh orang benar. Alkitab mengajarkan, yang disebut orang benar adalah mereka yang “dibenarkan karena percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Rm. 3:26; 5:1). Orang benar bukanlah orang yang tidak berdosa, tetapi orang benar adalah orang berdosa yang selalu sadar dan mengaku bahwa ia berdosa.

Selain dibenarkan karena percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, orang benar juga adalah orang yang dalam praktek kehidupannya sehari-hari hidup di dalam kebenaran.

  1. Dengan yakin didoakan

Doa yang efektif muncul karena adanya keyakinan. Keyakinan itu lahir dari iman. Dan iman timbul dari pendengaran, pendengaran akan firman Kristus (Rm. 10:17). Maka berdoa dengan yakin bisa terjadi karena ada dasar firman Tuhan yang kita pegang.

Selain itu, keyakinan bisa muncul karena tidak ada tuduhan di hati kita. Itu sebabnya, Yakobus 5:16a mengajarkan untuk kita saling mengaku dosa kita sebelum saling mendoakan. Pengakuan dosa yang tulus akan menghilangkan tuduhan di hati kita. Jadi sebelum berdoa, hendaknya kita bertanya dalam hati: Apakah ada dosa yang perlu dibereskan? Apakah ada kesalahan yang perlu diakui?

  1. Ketekunan

Yakobus 5:17 memberikan contoh tentang Elia yang berdoa dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan dalam doa melibatkan ketekunan. Elia berdoa dengan tekun, tujuh kali berdoa sebelum muncul awan sebesar telapak tangan yang menghasilkan hujan (Yak. 5:17-18; I Raj. 18:43-45). Orang yang berdoa dengan tekun, akan tetap berdoa sampai jawaban doa datang.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Ceritakanlah pengalaman doa Anda masing-masing! Baik doa yang dijawab maupun yang tidak dijawab!
  2. Lalu evaluasilah secara jujur, mengapa ada doa Anda yang dijawab dan mengapa ada doa yang tidak dijawab! Sharingkanlah!

Oleh: Ferry Simanjuntak

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …