MEMBANGUN KARAKTER
Berpikir Positif dalam Perbedaan Karakter
Manusia adalah makhluk yang mempunyai tiga bagian yaitu tubuh, jiwa dan roh (I Tes. 5:23). Ketika kita bertobat dan menerima Yesus, kita mengalami kelahiran baru. Roh kita mengalami penciptaan ulang, (II Kor. 5:17). Hal ini terjadi dalam dunia roh kita, bukan di dalam jiwa dan tubuh fisik kita. Ketika kita lahir baru, pikiran lama kita tidak lenyap, tetapi terus menerus diperbaharui (Ef. 4:23; Rm. 12:2).
Jika seseorang berpikir negatif, kalah, kuatir, tidak mampu, miskin, curiga demikianlah hidup yang dia miliki. Sebaliknya bila orang berpikir positif, menang, mampu, berhasil demikian pula hidup yang akan dia miliki. Berpikir negatif menghasilkan hidup negatif, sebaliknya berpikir positif akan menghasilkan hidup positif. Itulah sebabnya Alkitab menyatakan untuk kita memikirkan hal-hal yang baik, benar, indah, manis, berhasil dan mendatangkan pujian dan kemuliaan (Fil. 4:8).
Kuasa dari Berpikir Positif
Mesin yang bersih selalu menghasilkan tenaga, pikiran yang bersih selalu menghasilkan hal-hal yang luar biasa dan selalu menghasilkan tenaga! Pikiran kita seharusnya melayani roh kita. Jika dia tidak terkendali, pikiran kita itu akan merusak kehidupan kita. Tapi dalam kendali Roh Kudus, pikiran kita memiliki kuasa yang tidak terbatas.
Tuhan Yesus selalu mengajar murid-Nya untuk berpikir besar dan positif. Semua kata-kata Yesus berisi hal-hal positif. “Barangsiapa berkata kepada gunung ini: “Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! … maka hal itu akan terjadi baginya.” (Mrk. 11:23). “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” (Yoh.14:12). “Jangan kuatir akan hidupmu…” (Mat. 6:25). “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu.” (Mat. 5:44).
Firman Allah adalah Pikiran Positif
Firman Allah selalu membuat kita berpikir positif dan ini membuat kita hidup positif (Mzm. 1:3). Bahkan apa saja yang kita perbuat akan berhasil (Mzm. 1:3). Beberapa contoh dalam Alkitab tentang kehidupan orang yang berpikir positif dengan hasil luar biasa:
- Yosua dan Kaleb (Bil. 14:7-8)
Sementara 10 pengintai yang lain berpikir dirinya rendah seperti belalang, Yosua dan Kaleb melihat negeri itu dengan pandangan positif. “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.” (Bil. 14:7). “Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan memberikannya kepada kita …”(ay. 8). Itulah sikap positif yang muncul dari pikiran positif. Yosua dan Kaleb masuk ke tanah Kanaan, tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya, sisanya semua tidak pernah memasukinya.
Jika saudara ingin memasuki dan memiliki kehidupan yang menang , berhasil dan penuh hal-hal positif. Disiplinkan pikiranmu untuk selalu memikirkan hal-hal yang benar, indah, baik, bermutu dan positif. Jangan biarkan pikiran kita diisi dengan sampah, hal-hal yang tidak bermutu, kotor dan jahat. Semua yang masuk ke dalam pikiran kita dan diolah di sana akan menghasilkan hal yang sama.
- Daud
Daud berkata “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita ….” (Mzm. 108:14). Tidak heran bila hidup Daud penuh dengan kemenangan dan keberhasilan yang luar biasa. Kita hanya dapat berpikir besar seperti Daud apabila kita memasukkan sebanyak-banyaknya firman Allah ke dalam pikiran kita (Yes. 55:8-9), seperti Daud yang senantiasa merenungkan firman Tuhan (Mzm. 1:1-3).
Pertanyaan dan Penerapan
- Berdasarkan yang Anda alami sendiri: manakah yang lebih banyak menguasai pikiran Anda, apakah hal-hal positif atau negatif? Jelaskanlah satu atau dua hal di antaranya!
- Ceritakanlah peperangan rohani yang paling sering Anda alami di dalam pikiran Anda akhir-akhir ini, dan menurut Anda bagaimana cara mengatasinya?
Pertemuan 2
Kekristenan adalah hidup yang berubah (manusia lama menjadi manusia baru)
Manusia membangun karakternya dengan tujuan untuk menjadi orang baik (menurut Yes. 64:6a perbuatan baik itu adalah kain-kain kotor bnd. Luk. 18:19). Tetapi orang percaya membangun karakternya adalah untuk menjadi seperti Kristus (1 Kor. 11:1; Rm. 8:29). Orang baik berhenti sampai di kubur dan masuk neraka, karena perbuatan baik tidak membuat seseorang masuk ke sorga. Tetapi orang yang seperti Kristus, sesudah mati tidak saja masuk sorga, ia juga akan dimuliakan di dalam kekekalan (Rm. 8:30)
Dua gambaran perbedaan manusia lama dengan manusia baru:
- Ibarat pakaian lama dengan pakaian baru
Memperbaiki “manusia lama” itu ibarat menambal pakaian lama (Mat. 9:16), akan robek lagi bahkan robeknya akan lebih besar. Tetapi untuk membangun karakter Kristus, manusia lama diganti dengan manusia baru, baju lama dibuang, diganti baju baru (Kor. 3:9-10), hasilnya lahir baru. Yang lama berlalu diganti yang baru (2 Kor. 5:17). Ini sama sekali baru dan lengkap, tetapi dalam bentuk benih yang masih harus ditumbuhkan, juga seperti telur yang dierami, akan bertumbuh lalu menetas dan keluarlah seekor burung.
- Ibarat emas dan tanah liat
Dari sudut mutu pun berbeda, memperbaiki manusia lama itu seperti menempa barang-barang tanah liat, sedangkan membangun karakter Kristus itu seperti menempa barang-barang dari emas. Kalau emas ditempa tidak akan pecah, tetapi tanah liat ditempa satu kali saja langsung pecah. Orang yang sedang diproses menjadi seperti Kristus tidak kecil hati dengan banyak penderitaan, aniaya, kesukaran dan pendisiplinan Tuhan. Ia memandang semuanya itu sebagai pengolahan Tuhan atas hidupnya.
Memperbaiki “manusia lama” berkenan pada manusia dan diam-diam juga pada iblis, tetapi membangun karakter Kristus, itu memperkenankan Allah dan manusia, menjadi berkat bagi manusia dan menyenangkan hati Allah, sebab tabiat baru itu dalam kesucian dan selalu melakukan kehendak Allah, sebab itu selalu sesuai dengan Firman Tuhan. Tetapi yang memperkenankan manusia saja, belum tentu berkenan kepada Allah.
Contoh dari kehidupan Yakub dan Esau
Kita melihat perbedaan tentang kehidupan yang membangun karakter manusiawi dengan membangun karakter Ilahi (menjadi serupa Kristus) melalui kehidupan Yakub dan Esau. Tampaknya Yakub itu jelek, tetapi itu waktu kejatuhannya, segera sesudah bertobat ia menjadi indah kembali. Esau dari luar baik-baik saja, tidak menipu seperti Yakub, tetapi hatinya penuh dengan kebencian dan pembunuhan. Yakub memang bersalah, tetapi sesudah bertobat, ia indah dan diperkenan Allah. Akhirnya Yakub menjadi waris Allah, Esau tidak, Yakub bebas, lepas dari tabiat lama, Esau dari luar baik, tetapi hatinya jahat sebab ia hidup dalam tabiat yang lama dalam perhambaan hukum dosa dan maut oleh iblis.
Jadi kita melihat karakter manusiawi dan Ilahi itu sangat berbeda baik dari segi prinsipnya maupun tujuan yang hendak dicapai. Dari luar hampir sama, tetapi prinsipnya sangat berbeda, sejauh Surga dan Neraka! Berbeda seperti Allah dan iblis, meskipun waktu di dunia terlihat sebagai manusia yang manis bahkan bisa menjadi seperti malaikat terang, tetapi tetap orang lama. Sementara itu, karakter Ilahi membuat manusia lepas dari dosa dan hidup seperti Kristus. Sangat berbeda, sebab yang lama sudah berlalu yang baru sudah datang. Dan nanti waktu Tuhan Yesus datang kita akan berubah menjadi seperti Kristus dalam kemuliaan Ilahi yang abadi (1 Yoh. 3:2). Selain itu, kalau kita telah diubah menjadi seperti Kristus, maka pahala perbuatan kita selama di dunia ini pun akan diperhitungkan di dalam kekekalan (Why. 14:13).
Pertanyaan dan Penerapan
- Menurut Anda, mengapa pembentukan karakter seseorang baru berhasil kalau ia telah lahir baru terlebih dahulu?
- Mengapa orang yang belum lahir baru tidak dapat mengalami perubahan hidup yang sejati?
Pertemuan 3
Pengampunan Mengubahkan Kehidupan (Mat. 6:9-15)
Pengampunan adalah sebagian dari gaya hidup Tuhan Yesus. Ia mengampuni orang yang lumpuh (Mat. 9:2), perempuan yang berdosa (Luk. 7:47), perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah (Yoh. 8:10-11), bahkan mengampuni orang yang memakukan Dia di kayu salib (Luk. 23:34). Sebenarnya seluruh tujuan Yesus datang ke dunia ini ialah untuk mati supaya dosa kita dapat diampuni.
Melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib, Allah telah mengampuni kita, maka sekarang kita juga diutus untuk mengampuni orang lain. Untuk menjelaskan kebenaran ini, Yesus memberi perumpamaan tentang seorang raja yang memberikan pengampunan kepada hambanya dan berharap agar hamba itu juga mengampuni sesamanya (Mat. 18:21-35).
Raja di dalam cerita tersebut melambangkan Allah, dan hamba yang berhutang adalah manusia yang berdosa. Ketika Allah mau menagih perbuatan dosa yang dilakukan manusia, maka manusia tidak mampu melunasi hutang dosa mereka, karena tidak ada yang dapat diperbuat manusia untuk melunasinya. Allah berhak untuk menghukum manusia karena hal tersebut, namun karena belas kasihannya, ia mengampuni manusia dan menghapus dosa-dosa mereka (melalui Yesus yang mati disalibkan menebus hutang dosa dengan darah-Nya).
Manusia yang tidak tahu berterima kasih bertemu dengan saudaranya yang berbuat salah kepadanya, tidak mencontoh belas kasihan yang ditunjukkan oleh Allah, manusia malah menghakimi saudara mereka sendiri tanpa sedikitpun berbelas kasihan. Ia tidak belajar dari pelajaran yang diberikan oleh Allah bahwa Ia telah diampuni dan diberi belas kasihan, maka pada akhirnya Allah akan menghukum orang tersebut yang menindas sesamanya.
Perumpamaan ini disimpulkan oleh Yesus dalam ayat ke-35: “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Dalam Mat. 18:21-22 yang mendahului perumpamaan ini Yesus mengajarkan kepada Petrus (dan murid-murid-Nya yang lain) untuk selalu mengampuni orang lain: “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Pengajaran yang senada juga didapat di Luk. 17:3-4, ketika Yesus mengajar murid-murid-Nya: “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” Paulus pun menasihati jemaat untuk saling mengampuni dengan dasar bahwa Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita (Ef. 4:31-32).
Berkat-berkat dari mengampuni menurut Alkitab:
- Pengabulan doa (Mrk. 11:25-26; Mzm. 66:18). Ayat ini dengan jelas memberitahukan bahwa sikap hati yang tidak mau mengampuni akan menyebabkan Allah tidak dapat menjawab doa-doa kita.
- Kesembuhan luka-luka hati, contoh Yusuf (Kej. 50:20-21).Memberi pengampunan mendatangkan kesembuhan di dalam kehidupan kita. Dr. Richard P. Walters, seorang ahli ilmu jiwa di Rumah Sakit Kristen Pine Rest, di Michigan Amerika Serikat, mengatakan, “Dalam pekerjaan saya memberi terapi, saya melihat bahwa tidak banyak orang yang berhasil mengampuni kesalahan orang lain, jika dalam proses itu orang itu tidak mengikutsertakan iman mereka. Sebaliknya, saya sudah melihat hasil penyembuhan yang agak mengherankan apabila hal itu menyangkut orang beragama yang mempunyai iman yang aktif.”
- Memberi tempat pada Allah untuk bekerja sesuai kedaulatan-Nya (Rm. 12:19; 1 Tes. 5:15; 1 Pet. 3:9).
Pertanyaan dan Penerapan
- Tanyalah setiap anggota care sel, apakah ada di antara mereka yang sedang berjuang untuk menang dari luka-luka hati! Jika ada, belajarlah untuk mengkonselingnya, supaya ia dapat melepaskan pengampunan.
- Dapatkah Anda menyebutkan berkat-berkat lain dari melepaskan pengampunan?
Pertemuan 4
Buah dan akibat pemberontakan (Maz.106:13-23).
Pemberontakan adalah tidak adanya penundukan diri yang rela dan tulus terhadap otoritas. Orang-orang yang memberontak tidak mempunyai hati yang lembut untuk menerima nasehat maupun pengajaran. Kurangnya penundukan diri adalah masalah yang umum dalam perkawinan, hubungan majikan dan pegawai, antara orang tua dan anak, dan menimbulkan huru-hara di dalam masyarakat karena ketidakpuasan terhadap pemerintah. Orang-orang Kristen dipanggil untuk memperlakukan semua otoritas yang ada di atas mereka dengan sikap hormat.
Berbagai bentuk pemberontakan yang dilarang oleh Alkitab: Pemberontakan terhadap Allah (Yak. 4:7), terhadap otoritas suami (Ef. 5:22; 1 Pet. 3:1), terhadap otoritas orang tua (Ef. 6:1-2), terhadap atasan di tempat kerja (Ef. 6:5), terhadap pemerintah (Rm. 13:2; 1 Pet. 2:13-14), terhadap pemimpin rohani (Ibr. 13:17)
Yes. 1:20 berkata: “Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.” Pemazmur mengatakan: “Allah memberi tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara, Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia, tetapi pemberontak-pemberontak tinggal di tanah yang gundul.” (Mzm. 68:7). Ayat-ayat tersebut secara tegas mengatakan bahwa pemberontakan selalu membawa akibat-akibat yang mengerikan dalam kehidupan.
Banyak contoh dalam Alkitab tentang orang-orang yang memberontak kepada Tuhan yang akhirnya harus menanggung akibatnya pula.
- Saul, ketika menjadi raja atas Israel ia hidup dalam ketidaktaatan, sering memberontak kepada Tuhan. Saul memberi kesempatan bagi Iblis sehingga roh pemberontakan itu tumbuh dalam kehidupannya, sehingga ia memilih untuk tidak tunduk kepada perintah Tuhan. Samuel menegurnya dengan keras,”Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya Tuhan mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap.” (1 Sam. 13:13-14a). Akibat memberontak kepada Tuhan kehidupan Saul berakhir dengan kehancuran.
- Korah, Datan dan Abiram (Bil. 16:1-35). Mereka adalah orang-orang yang memberontak terhadap otoritas (pemimpin) rohani. Pemberontakan mereka dimulai dari rasa tidak puas terhadap kepemimpinan Musa yang mereka nilai tidak sanggup membawa Israel (umat Tuhan) ke tanah perjanjian (ay. 14). Mereka merasa, bahwa jika mereka yang memimpin Israel, maka keadaan Israel akan lebih baik dibandingkan jika ada di bawah kepemimpinan Musa. Di samping itu mereka menghasut dua ratus lima puluh orang lain untuk ikut dalam pemberontakan itu. Akibatnya mereka ditelan bumi hidup-hidup dan orang-orang yang ikut bersama mereka dihanguskan oleh api (ay. 31-35).
- Absalom (2 Sam. 15:1-12). Ia memberontak terhadap kepemimpinan Daud baik sebagai ayahnya maupun sebagai raja Israel. Pemberontakannya dimulai dari rasa tidak puas terhadap Daud, yang dinilainya tidak bersikap tegas terhadap kesalahan kakak tirinya Amnon yang telah memperkosa Tamar. Absalom berpikir, bahwa jika Israel ada di bawah kepemimpinannya, maka keadaan mereka jauh lebih baik. Banyak orang tertipu oleh manisnya perkataan Absalom. Akibatnya Absalom mati dengan cara yang sangat tragis dalam peperangan demikian juga orang-orang yang ikut memberontak bersama-sama dengan dia (2 Sam. 18:9-17).
- Ratu Wasti (Est. 1:10-22). Ratu wasti memberontak terhadap kepemimpinan Ahasyweros baik sebagai suaminya maupun sebagai raja. Akibatnya, ia kehilangan kedudukannya sebagai ratu.
Dari berbagai contoh tersebut, nyatalah bahwa setiap pemberontakan selalu membawa akibat-akibat yang mengerikan dalam kehidupan. Seberat apa pun kehidupan kita saat ini jangan pernah memberontak kepada Tuhan. Pemberontakan bukan karakter orang Kristen. Prinsip kehidupan orang Kristen adalah taat. Ketaatan bukan untuk dihindari! Tuhan akan memberikan imbalan apabila kita taat. “Jika kamu menurut dan mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.” (Yes. 1:19). Hari ini Tuhan menghadapkan kita pada suatu pilihan: memberontak atau taat, kebahagian (berkat) atau kehancuran (malapetaka). Mari kita belajar dari kehidupan Tuhan Yesus yang tidak pernah memberontak kepada Bapa meskipun harus mengalami penderitaan, bahkan sampai mati di kayu salib.
Pertanyaan dan Penerapan
- Menurut Anda, mengapa begitu penting untuk menundukkan diri pada setiap otoritas?
- Menurut Anda, mengapa setiap pemberontakan selalu membawa akibat-akibat yang mengerikan dalam kehidupan?
Oleh: Ferry Simanjuntak
GBI Pasir Koja 39 Bandung
