
Pertemuan 1
Doa Bapa Kami (Mat. 6:9-13)
Pendahuluan
Doa adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya. Berulang-ulang Alkitab menasihati kita agar berdoa dengan tekun, tidak jemu-jemu, berdoa senantiasa. Melalui doa kita mendapatkan kekuatan rohani, hikmat, pimpinan dan campur tangan Tuhan. Dan Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa kami sebagai pola doa orang percaya.
Isi
Di dalam doa Bapa Kami, kita mendapatkan enam poin penting yang harus ada dalam doa kita:
- Doa didasari hubungan yang benar dengan Allah
Kalimat “Bapa kami yang di sorga” menunjukkan doa yang benar adalah doa yang didasari oleh hubungan yang benar dengan Allah, karena doa adalah persekutuan dengan Allah. Hubungan yang benar dengan Allah terjadi kalau dosa disingkirkan, dan itu terjadi melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib.
- Prioritas doa adalah kepentingan Kerajaan Allah
Doa bukanlah cara untuk mendahulukan keinginan dan kepentingan diri sendiri. Tuhan Yesus mengajarkan kita agar kita berdoa bagi kepentingan Kerajaan Allah terlebih dahulu. Ia mengajarkan agar prioritas doa kita adalah agar nama-Nya dikuduskan, Kerajaan-Nya datang dan kehendak-Nya jadi di bumi sama seperti di sorga.
- Melalui doa kita dapat meminta apa yang kita butuhkan kepada Bapa kita di sorga (ay. 11)
Tuhan Yesus juga mengajarkan agar kita mendoakan kebutuhan kita kepada Bapa di sorga, dan kita percaya bahwa Bapa dengan murah hati mengaruniakan apa yang kita butuhkan.
- Jangan menyimpan kesalahan orang lain (ay. 12)
Tuhan juga mau agar kita melepaskan pengampunan dengan tulus kepada orang lain, karena kepahitan, kebencian, amarah adalah penghalang doa.
- Peperangan rohani (ay. 13)
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa melalui doa kita juga dapat melakukan peperangan rohani, karena si jahat berusaha mencobai kita.
- Memberi kemuliaan dan pujian kepada Bapa
Jangan lupa akhiri doa dengan memberi kemuliaan dan puji-pujian kepada Bapa kita di Sorga.
Kesimpulan
Doa Bapa Kami dapat menjadi pola doa kita setiap hari. Banyak orang bersaksi bahwa ketika menggunakan Doa Bapa Kami sebagai pola doa mereka, maka kehidupan doa mereka pun berkembang. Jadi mulailah gunakan pola doa ini setiap hari.
Pertanyaan dan Penerapan
- Apakah yang menghalangi Anda untuk berdoa dengan tekun selama ini?
- Menurut Anda, apakah langkah-langkah praktis yang dapat Anda lakukan untuk mengembangkan kehidupan doa Anda secara pribadi?
Pertemuan II
Yesus Pendoa Syafaat (Ibr.5:7; Mat. 14:23; Mat. 26:36)
Pendahuluan
Tuhan Yesus adalah teladan bagi semua pendoa sepanjang masa. Kita harus meniru teladan Tuhan Yesus dalam hal berdoa.
Isi
Seumur hidup-Nya selama di dunia ini, Tuhan Yesus telah menghabiskan banyak waktu-Nya untuk berdoa.
- Tuhan Yesus berdoa dengan tekun
Ia berdoa pagi-pagi sekali. Ia juga berdoa semalam-malaman. Ia berdoa saat akan melayani. Ia berdoa saat mengambil keputusan penting, seperti ketika akan memilih murid-murid-Nya. Ia berdoa pada waktu menghadapi masa yang sulit, seperti ketika akan disalibkan.
- Tuhan Yesus berdoa syafaat bagi muri-murid-Nya dan bagi semua orang percaya
Ia berdoa bagi murid-murid-Nya dan bagi semua orang yang kemudian percaya pada Injil yang diberitakan oleh para murid agar mereka semua tetap bersatu dan saling mengasihi. Melalui doa syafaat-Nya Petrus dipulihkan walaupun sebelumnya telah menyangkal Tuhan Yesus.
- Melalui doa, pelayanan-Nya disertai tanda-tanda dan mukjizat
Melalui doa-Nya terjadi pelipatgandaan dan mukjizat, kesembuhan dan kebangkitan orang mati.
- Tuhan Yesus selalu mendahulukan kehendak Bapa-Nya
Dalam semua doa-Nya Ia selalu mendahulukan kehendak Bapa-Nya. Ia berkata “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tapi kehendak-Mulah yang jadi.”
Tuhan Yesus bukan saja berdoa semasa hidup-Nya di dunia ini, tetapi juga sampai sekarang Ia tetap menjadi pendoa syafaat kita di sorga. Ibrani berkata bahwa Ia adalah Imam Besar kita. Imam Besar adalah orang yang terus-menerus berdoa. Karena itu, kita percaya sekarang pun di Sorga, Tuhan Yesus masih tetap berdoa bagi kita semua.
Kesimpulan
Orang percaya dipanggil untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Salah satunya adalah panggilan untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus dalam hal berdoa. Marilah kita terus berdoa.
Pertanyaan dan Penerapan
- Apakah Anda telah berdoa dengan tekun dalam segala keadaan?
- Jika belum, menurut Anda apakah penghalang yang harus disingkirkan agar Anda dapat berdoa dengan tekun?
Pertemuan III
Roh Kudus Membantu Kita Berdoa (Rm. 8:26-29; Yoh. 14:16-17, 26)
Pendahuluan
Orang percaya seharusnya dapat berdoa dengan tidak jemu-jemu, karena mereka tidak berdoa sendiri. Roh Kudus yang telah dicurahkan untuk menyertai kita sekarang telah menjadi adimitra kita dalam doa.
Isi
Menurut Alkitab, kita sebenarnya tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa, tetapi Roh Kudus menolong kita. Apa sajakah pertolongan yang diberikan Roh Kudus saat kita berdoa?
- Roh Kudus memakai firman Tuhan
Roh Kudus menggunakan firman Tuhan yang kita baca atau dengar untuk menjadi dasar kita berdoa. Misalnya: pada saat kita kuatir. Roh Kudus mengingatkan kita akan firman Tuhan yang berkata “Janganlah kamu kuatir tentang apa pun juga.”
- Roh Kudus mengaruniakan bahasa roh
Ada saat kita tidak dapat lagi berdoa dengan akal budi kita yang terbatas, Roh Kudus dapat mengaruniakan bahasa roh untuk menjadi bahasa doa kita. Dan menurut Alkitab, walaupun kita tidak mengerti artinya, tetapi melalui bahasa roh itu, Roh Kudus menyampaikan keluhan-keluhan kita yang tidak terucapkan kepada Bapa di sorga.
- Roh Kudus mengingatkan
Roh Kudus juga dapat mengingatkan kita tentang seseorang atau suatu keadaan tertentu yang perlu didoakan. Misalnya, Roh Kudus mengingatkan kita akan seorang hamba Tuhan, maka saat itu sebenarnya Roh Kudus sedang menolong kita untuk mendoakan hamba Tuhan tersebut.
Kesimpulan
Sekarang kita tahu, bahwa Roh Kudus telah diutus untuk menjadi adimitra kita dalam doa. Itu berarti, sekarang kita dapat memenuhi panggilan untuk berdoa senantiasa. Roh Kudus mengatasi semua kelemahan kita, sehingga kita dapat menjadi pejuang di dalam doa.
Pertanyaan dan Penerapan
- Mintalah pertolongan Roh Kudus terus-menerus untuk meningkatkan kehidupan doa syafaat Anda!
- Milikilah hati yang senantiasa terbuka pada pertolongan Roh Kudus saat Anda berdoa!
Pertemuan IV
Minta, Cari dan Ketuk (The Three Levels of Prayer)
(Luk. 11:9-13)
Pendahuluan
Kata mintalah, carilah, dan ketoklah dalam Lukas 11:9 dalam tata bahasa Yunani berbentuk present imperative, artinya perintah yang harus dilakukan terus-menerus. Kalimat itu harus diartikan sebagai suatu perintah agar kita berdoa secara terus-menerus, tidak jemu-jemu, berdoa senantiasa.
Isi
Di sini Yesus mengajarkan bahwa doa itu harus dilakukan secara terus-menerus, tidak jemu-jemu, tidak putus-putusnya. Jadi yang ditekankan Yesus adalah ketekunan orang percaya dalam hal berdoa.
Mengapa kita harus bertekun dalam doa? Tuhan Yesus mengatakan karena kita mempunyai Bapa yang baik yang akan mengaruniakan pemberian yang baik kepada kita anak-anak-Nya ketika kita berdoa.
Tuhan Yesus memberikan dua ilustrasi untuk menjelaskan hal ini. Pertama Ia memberi ilustrasi bahwa seorang sahabat saja dapat memberikan pertolongan pada saat kita membutuhkannya (Luk. 11:5-8). Yang kedua, bapa yang jahat saja di dunia ini tahu memberi pemberian yang baik bagi anak-anaknya (Luk. 11:11-12).
Jadi Yesus sedang membuat perbandingan yang menyolok di sini. Jika manusia saja tahu memberi pemberian yang baik, apalagi Bapa kita di sorga. Seharusnya hal itu memberi dorongan agar kita senang untuk berdoa dan senantiasa bertekun dalam doa.
Kesimpulan
Bapa kita di sorga adalah Bapa yang baik, sudah sepantasnyalah kita terdorong untuk senang mendekat kepada Bapa kita melalui doa dan percaya bahwa Ia akan memberi pemberian yang baik kepada kita anak-anak-Nya.
Pertanyaan dan Penerapan
- Alkitab berulang-ulang mengajarkan untuk bertekun dalam doa. Menurut Anda mengapa kita harus bertekun dalam doa?
- Sebutkanlah paling tidak tiga ciri dari orang yang bertekun dalam doa!
Pertemuan ke V
Keluarga yang Berdoa, Keluarga yang Kuat (Mat. 18:19-20; Kis. 1:14)
Pendahuluan
Yesus berkata : “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 18:19). Tentu saja penerapan ayat ini paling ideal dimulai di dalam sebuah keluarga. Sebab sebuah keluarga paling sedikit terdiri dari dua orang (suami dan isteri).
Artinya, doa dimulai dari rumah atau keluarga kita sendiri. Dan tentu saja keluarga yang berdoa pastilah juga menjadi keluarga yang kuat.
Isi
Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang berdoa:
- Tentukan waktu bersama untuk berdoa
Waktu yang sudah kita tentukan bersama, haruslah disepakati oleh setiap anggota keluarga kita. Tidak boleh ada anggota keluarga yang melakukan aktifitas lain pada waktu yang kita telah sepakati tersebut.
- Ayah dan Ibu memiliki peran utama
Ayah dan Ibu memiliki peran utama untuk memimpin seluruh anggota keluarga. Keteladanan utama harus datang dari Ayah dan Ibu. Karena itu tunjukkan teladan dan konsistensi di hadapan seluruh anggota keluarga kita.
- Buatlah jadwal tugas secara bergilir
Mintalah partisipasi setiap anggota keluarga. Misalnya hari ini Ayah membagikan sharing firman Tuhan, Ibu berdoa syafaat bagi bangsa dan negara, anak berdoa untuk kebangunan rohani bagi pelajar. Besok, anak memimpin pujian, Ibu memimpin sharing firman Tuhan dan Ayah berdoa bagi para hamba Tuhan dan para penginjil agar berhasil dalam pelayanan mereka. Dan seterusnya.
Kesimpulan
Mulailah berdoa di rumah kita masih-masing, dari keluarga kita masing-masing. Pada saat kita berdoa bersama seluruh anggota keluarga, tanpa sadar hubungan sesama anggota keluarga menjadi semakin kuat dan akrab, maka akhirnya keluarga kita pun menjadi semakin kuat.
Pertanyaan dan Penerapan
- Ayah dan Ibu ambillah inisiatif untuk memimpin seluruh keluargamu untuk membangun mezbah doa keluargamu, jangan lagi menunda-nunda waktu. Lakukanlah sekarang juga!
- Mintalah setiap anggota keluarga untuk bertugas dan membawakan pokok-pokok doa secara bergilir!
GBI Pasir Koja 39 Bandung