Pertemuan 1
Pentingnya Hidup dalam Kasih (1 Kor. 13:1-13)
Seorang ahli bernama Rene Spitz mengadakan penelitian pada sebuah panti asuhan di Amerika Selatan tentang pengaruh sentuhan dan kasih sayang. Di panti itu ada 97 anak yang berumur antara 3 bulan sampai 3 tahun. Karena keterbatasan dana, panti itu hanya punya beberapa pengasuh untuk merawat anak-anak seperti mengganti popok atau baju, memandikan, memberi makan dan sebagainya. Namun mereka tidak mempunyai waktu untuk bercanda atau bercakap-cakap dengan anak-anak itu.
Setelah tiga bulan, banyak dari anak-anak tersebut mengalami kelainan. Nafsu makan mereka hilang, pandangan mata kosong dan mereka mengalami kesulitan tidur. Setelah lima bulan, kondisi mereka memburuk. Mereka sering merengek-rengek dan ketika dipegang dokter, mereka sering berteriak ketakutan.
Setelah satu tahun, 27 anak meninggal bukan karena kurang gizi atau perawatan kesehatan, melainkan karena kurang sentuhan dan gizi secara emosional. Pada tahun kedua, 7 anak lagi meninggal. Hanya 21 dari 97 anak yang bertahan hidup dan mampu mengatasi gangguan psikologis yang serius. Bayi dan anak-anak membutuhkan sentuhan, perhatian dan kasih sayang.
Sama seperti mereka, untuk bertumbuh secara rohani, setiap orang Kristen pun membutuhkan sentuhan, perhatian dan pelayanan kasih. Itu sebabnya firman Tuhan berkata, semua pelayanan kita harus digerakkan oleh kasih Allah jika tidak akan menjadi sia-sia bahkan berbahaya seperti yang terjadi pada panti asuhan tersebut. I Korintus 13:1-3 mengatakan bahwa:
1. Walaupun kita dapat berbicara secara luar biasa, tanpa kasih perkataan kita hanya omong kosong atau “tong kosong nyaring bunyinya” (ay. 1)
2. Mempunyai karunia-karunia yang luar biasa seperti iman yang memindahkan gunung, tanpa kasih itu akan menjadi tidak berguna (ay. 2)
3. Melakukan pengorbanan yang luar biasa seperti: menyumbang materi habis-habisan dan mengorbankan tubuh untuk dibakar, tanpa kasih itu jadi tidak berfaedah (ay. 3)
I Korintus 13:4-7 menjelaskan kasih itu artinya: a) Sabar, b) murah hati, c) tidak cemburu, d) tidak memegahkan/menyombongkan diri, e) tidak melakukan yang tidak sopan, f) tidak mencari keuntungan diri sendiri, g) tidak pemarah, h) tidak menyimpan kesalahan orang lain i) tidak bersukacita karena ketidakadilan, j) menutupi segala sesuatu, k) percaya segala sesutau, l) mengharapkan segala sesuatu, m) dan sabar menanggung segala sesuatu.
Ternyata kedewasaan rohani bukan diukur dari karunia-karunia rohani yang kita miliki tapi dari kasih kita kepada Tuhan dan kepada orang lain (ay. 11). Itu sebabnya, dibandingkan dengan iman dan pengharapan, kasihlah yang terbesar (ay. 13).
Pertanyaan dan Penerapan
1. Sebutkanlah tiga cara bagaimana Anda dapat mengasihi sesama anggota Care Cell Anda?
2. Dari begitu banyaknya pengertian kasih di atas, menurut Anda manakah hal prioritas yang harus diterapkan dalam Care Cell Anda? Apa alasannya?
Pertemuan 2
Kasih yang Tidak Berpura-pura (contoh kasih orang Samaria) (Luk. 10:25-37)
Kasih atau cinta mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa dalam kehidupan kita. Demi cinta, orang rela mendaki gunung, menuruni lembah, menyeberangi lautan atau menempuh rintangan apa pun. Kidung agung berkata “air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya.” (Kid. 8:7). Cinta membuat kita bergairah dan bersedia melakukan apa saja untuk orang yang kita cintai bahkan tindakan-tindakan yang terlihat konyol dan “gila”.
Simon Inzaghi, pemain sepakbola dari SS Lazio – Italia, jatuh cinta kepada Michelle Hunziker, artis papan atas dari Swiss yang sangat terkenal di Italia dan Jerman. Untuk menyatakan cintanya, setiap hari tanpa lelah ia mengirim 500 mawar segar ke apartemen pujaan hatinya itu. Sampai akhirnya Michelle menyambut cintanya dan menerima kiriman 500 mawar itu dengan gembira.
Cinta jugalah yang membuat Yakub rela bekerja keras dan menjalani penderitaan (terik matahari, dinginnya malam, kurang tidur, bahaya musuh dan binatang buas di tempat penggembalaan) selama 14 tahun demi mendapatkan Rahel (Kej. 29:20, 30). Itu pun dianggap Yakub seperti beberapa hari saja.
Dalam Lukas 10:25-37 Yesus memberikan sebuah contoh tentang bagaimana kasih atau cinta dapat kita tunjukkan kepada sesama kita. Ada tiga kelompok orang yang disebutkan dalam kisah ini:
1. Para penyamun (ay. 30)
Para penyamun adalah gambaran dari orang-orang yang melakukan kejahatan terhadap sesamanya. Tidak ada belas kasihan, mereka “merampok sesamanya” habis-habisan tanpa ampun. Tindakan mereka meninggalkan luka-luka yang parah dalam kehidupan. Orang-orang seperti ini banyak di dunia bisnis, perbankan, pemerintahan, kejaksaan, pengadilan, pendidikan dan lain-lain. Tuhan Yesus pernah menyebut Herodes yang adalah raja pada waktu itu sebagai “si serigala”. Sebutan itu, adalah gambaran bahwa Herodes memerintah dengan kekerasan dan kekejaman yang luar biasa, sehingga ia mencabik-cabik kehidupan rakyat tanpa ampun.
2. Seorang Imam dan seorang Lewi (ay. 31-32)
Imam dan orang Lewi ini adalah gambaran para pemimpin agama, yang terlihat seolah-olah sangat saleh dan dengan ketat menjalankan tugas-tugas keagamaan tapi tidak mau menyentuh penderitaan umat. Mereka sebenarnya tidak peduli dengan luka-luka kehidupan dan penderitaan yang dialami umat sehari-hari. Itu sebabnya Tuhan Yesus menyebut mereka sebagai orang munafik.
3. Orang Samaria (ay. 33-35)
Orang Samaria adalah gambaran Tuhan Yesus yang hati-Nya tergerak oleh belas kasihan karena melihat penderitaan manusia berdosa. Tuhan Yesus melihat betapa berat penderitaan manusia berdosa itu, Ia melihat mereka seperti domba yang lelah, terlantar dan tidak bergembala. Tergerak oleh belas kasihan, Tuhan Yesus mau mengorbankan nyawa-Nya sendiri bagi kita. Selain itu, orang Samaria itu juga bisa menjadi gambaran orang-orang yang mau peduli terhadap sesamanya yang menderita. Mereka rela berkorban dan memberi pertolongan kepada sesamanya tanpa hitung-hitungan untung ruginya. Seharusnyalah gereja, care cell dan orang-orang percaya berbuat seperti itu bagi sesamanya. Jangan seperti Yudas, yang ketika melihat banyaknya pengeluaran uang dalam pelayanan lalu berkata “untuk apa pemborosan itu?” (Mat. 26:8).
Pertanyaan dan Penerapan
1. Menurut Anda, apakah yang harus dilakukan setiap anggota Care Cell agar gerakan kasih kepada sesama ini menjadi makin besar?
2. Menurut Anda, bagaimanakah caranya agar kita dapat menghilangkan kasih yang munafik atau pura-pura dari kehidupan kita secara pribadi?
Pertemuan 3
Pengharapan adalah Sauh yang Kuat (Ibr. 6:13-20)
Penulis Ibrani menggambarkan kehidupan ini sebagai kapal di lautan. Jiwa atau diri kita adalah kapalnya yang mengangkut muatan berharga, yaitu: anugerah keselamatan (ay. 9). Kita tengah berlayar menuju pelabuhan sorga. Pencobaan, penganiayaan, penderitaan adalah angin dan gelombang yang berpotensi mengandaskan kapal kita. Karenanya kita memerlukan sauh (jangkar) yang kuat. Sauh atau jangkar yang kuat itu adalah keteguhan. Sauh yang kuat itu tidak lain adalah pengharapan di dalam Yesus Kristus.
Di tengah dunia yang penuh gelombang ketidakpastian, kita dapat tetap tenang karena Yesus telah melabuhkan sauh kapal jiwa kita ke belakang tabir, yaitu ruang Mahakudus di surga. Ruang Mahakudus ini adalah tempat berdiamnya hadirat Allah yang mulia, yang tidak terpengaruh oleh keadaan dunia. Di sanalah Yesus menjadi Imam Besar yang kekal dan tidak mungkin gagal menolong umat-Nya.
1. Pengharapan orang Kristen adalah suatu hal yang pasti digenapi (ay. 13-14)
Pengharapan orang Kristen akan hidup kekal adalah suatu hal yang pasti digenapi. Penulis Ibrani mengambil contoh dari janji dan sumpah yang diberikan Allah kepada Abraham. Karena janji itu diberikan oleh Allah sendiri dan Allah mengikatkan diri-Nya dengan sumpah saat Ia berjanji kepada Abraham, maka janji itu akhirnya digenapi. Janji pada Abraham pada waktu itu adalah memberkatinya dengan berlimpah-limpah dan memberikan banyak keturunan kepada Abraham. Penggenapan janji itu sama sekali tidak bergantung kepada Abraham yang memang sudah lanjut umur dan tidak mungkin lagi bisa punya anak. Tetapi toh akhirnya Abraham diberkati secara berlimpah-limpah dan bisa punya anak. Karena Allah yang menjanjikannya adalah Pribadi yang Mahakuasa yang sanggup melakukan hal-hal yang mustahil.
2. Orang Kristen harus tetap bersabar menantikan penggenapan pengharapan mereka (ay. 15).
Orang Kristen harus bersabar menantikan digenapinya pengharapan mereka. Sama seperti Abraham juga harus bersabar menanti digenapinya pengharapannya akan mendapat keturunan. Sejak diucapkannya janji Allah sampai digenapinya, Abraham menanti selama kurang lebih 24 tahun. Masa 24 tahun adalah suatu masa penantian yang panjang. Itu sebabnya dibutuhkan kesabaran. Demikian juga janji keselamatan yang diberikan Allah pada orang Kristen. Kelak saat Yesus datang kedua kalinya, maka pengharapan orang Kristen akan keselamatan kekal akan digenapi sepenuh-penuhnya. Namun sejak Yesus terangkat ke sorga sampai nanti kedatangan-Nya yang kedua kali adalah suatu masa yang panjang, karena itu kita pun harus tetap bersabar menantikannya.
Pertanyaan dan Penerapan
1. Menurut Anda, mengapa seringkali orang Kristen tidak sabar menantikan penggenapan janji-janji Allah dalam hidup mereka?
2. Untuk menguatkan pengharapan kita, kita harus ingat betapa besar upah yang menanti kita kelak di sorga. Menurut Anda, apakah upah yang diberikan kepada orang-orang percaya kelak saat Yesus datang kedua kalinya?
Pertemuan 4
Keep calm and have faith (Menjadi tenang dan percaya) (Mark. 5:25-34)
Perempuan yang sakit pendarahan itu berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa menjamah jubah Yesus di tengah-tengah desakan kerumunan. Ini adalah situasi yang menggambarkan kesulitan yang harus ia tempuh ketika mengharapkan kesembuhan, tetapi niatnya tidak surut. Ada tiga pelajaran rohani yang bisa kita dapatkan dari perikop ini:
1. Jangan menyerah terhadap situasi yang terjadi
Sebuah lirik lagu dari d’massive “Jangan Menyerah”, merupakan gambaran bagaimana manusia itu seharusnya tidak menyerah di dalam segala situasi apapun yang terjadi pada dirinya. Terkadang kita mengira bahwa apa yang telah terjadi merupakan akhir dari segalanya. Belum tentu! Berdasarkan ayat 26 kita tahu bahwa perempuan ini tadinya adalah orang kaya sehingga bisa menghabiskan uang dalam jumlah yang besar untuk biaya pengobatannya. Ini artinya perempuan ini sekarang menghadapi masalah dalam dua hal: pertama penyakit yang tak kunjung sembuh, kedua kebangkrutan ekonomi.
Hal yang luar biasa dari perempuan ini adalah upayanya yang pantang menyerah dalam rangka mencari kesembuhan. Dia tidak bisa lagi bersandar pada uang, karena seluruh hartanya sudah habis. Ia tidak bisa lagi bersandar pada dokter, karena tidak ada satu dokter pun yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Satu-satunya harapan terakhir yang dia miliki hanyalah Tuhan Yesus. Masalahnya adalah untuk bisa menjamah jubah Yesus, ia harus berjuang di tengah-tengah desakan kerumunan orang banyak. Dan ia berjuang sampai akhirnya bisa menjamah jubah Tuhan Yesus dan mengalami kesembuhan.
Orang Kristen sejati juga seharusnya tidak mengenal kata menyerah. Orang Kristen tidak bergantung pada situasi, tetapi yang dibutuhkan adalah sikap pantang menyerah ketika menghadapi masalah. Allah tidak menginginkan umat-Nya hanya berpangku tangan atau pasrah dengan keadaan. Ketika masalah itu muncul, Allah juga hadir di sana untuk menunjukkan kemahakuasaan-Nya.
2. Datang dengan kerendahan hati ke hadapan Allah
Dengan iman yang dia miliki perempuan itu berusaha untuk menjamah jubah Yesus supaya dia sembuh. Ketika Yesus merasakan ada kuasa yang keluar dari diri-Nya, Ia menanyakan kepada murid-Nya siapa yang melakukan hal itu. Dengan rasa takut dan gemetar perempuan itu tampil dan tersungkur di hadapan Yesus dan mengakui apa yang dia perbuat (ay. 33). Namun Yesus justru mengatakan bahwa iman perempuan itulah yang telah menyelamatkanya.
Perlu Anda ketahui bahwa di dalam keseluruhan Injil Markus hanya terdapat empat kali kata tersungkur. Kata itu mempunyai arti rebah tak berdaya, terkulai, yaitu sikap merendahkan hati di hadapan Allah. Artinya ada rasa ketidakmampuan, ketidak berdayaan dan ketidaksanggupan ketika kita datang kepada Tuhan untuk meminta kepada-Nya. Allah hanya melihat kerendahan hati seseorang ketika datang kepada-Nya, Allah tidak memandang rupa entah itu kaya, miskin, ganteng, cantik, tua atau muda, tetapi Allah melihat sikap kita ketika datang kepadaNya.
3. Datang dengan iman kepada Tuhan Yesus
Ketika perempuan itu tersungkur dan mengakui apa yang telah terjadi pada dirinya Yesus mengatakan “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (ay. 34). Ungkapan itu tidak begitu saja keluar dari mulut Yesus, namun Yesus sudah mengetahui lebih dahulu bagaimana usaha perempuan ini untuk mendapat kesembuhan dari diri-Nya. Berusaha pantang menyerah, merendahkan hati, lalu percaya apa yang dikehendaki dan diperbuat Allah di dalam Yesus. Itulah gambaran karakteristik dari perempuan yang sakit pendarahan itu.
Sering sekali kita melihat situasi dan kondisi di dalam kehidupan kita yang tidak mungkin lagi bisa diubah, kita terkadang lupa bahwa masih ada kuasa yang Ilahi yang mampu menolong kita dari situasi yang terjepit. Asal kita percaya, maka Allah akan memulihkan situasi itu. Ketika kita percaya pada kebesaran kuasa Allah, maka kita melihat pemulihan sebagai karya Allah, sehingga kondisi kehidupan yang terjepit bisa dipulihkan. Iman memampukan manusia untuk melihat harapan di tengah situasi yang terjepit. Iman memberikan kekuatan untuk mengatasi berbagai masalah, bahkan tragedi sekalipun.
Pertanyaan dan Penerapan
1. Mintalah anggota Care Cell untuk menceritakan kehidupan mereka, kalau-kalau ada situasi yang sangat sulit dialami saat ini!
2. Berilah dorongan semangat untuk ia tidak menyerah, dan datang pada Tuhan Yesus dengan rendah hati dan iman seperti perempuan yang sakit pendarahan itu! Lalu semua anggota Care Cell yang lain mendoakannya!
Pertemuan 5
Living in Faith (Hidup dalam Iman) = Tokoh Alkitab bisa Belajar Rasul Paulus di Penjara (Fil. 1:12-26)
Selama kita masih hidup dalam dunia, jalan hidup kita tidak selalu mulus. Ada saatnya kita mengalami sukacita, ada saatnya mengalami dukacita bahkan penderitaan. Namun kita harus sadar bahwa penderitaan tidak selalu mendatangkan kerugian atau hal-hal negatif. Seringkali berkat Allah dan hal-hal positif muncul melalui penderitaan.
Seorang tokoh gereja di Inggris bernama John Bunyan telah mendapat manfaat positif dari penderitaannya. Setelah bertobat, ia aktif berkhotbah. Tetapi pemerintah menganggap kegiatannya itu melanggar hukum sehingga tahun 1661 ia ditangkap dan dipenjarakan selama 12 tahun. Di dalam penjara ia sangat menderita, namun waktunya ia pergunakan untuk membaca Alkitab, berkhotbah pada tahanan lain dan menulis buku. Setelah masa tahanannya selesai tahun 1672, ia lalu dibebaskan dan segera berkhotbah lagi. Pemerintah Inggris menangkap dan memenjarakannya kembali tahun 1675. Selama di penjara untuk kedua kalinya ia menulis buku lagi yang berjudul A Pilgrim Progress (Perjalanan Seorang Musafir) dan The Holy War (Peperangan Kudus). Buku-buku tersebut masih diterbitkan sampai sekarang dan telah memberkati jutaan orang. Seandainya ia tidak dipenjarakan buku-buku yang telah memberkati jutaan orang itu tentu saja tidak akan pernah ditulis.
Rasul Paulus juga sebelumnya mengalami hal yang sama. Karena iman, dan karena memberitakan Injil ia telah dipenjarakan. Dari dalam penjara, ia menulis surat Filipi. Dari Filipi 1:12-26 kita dapat menarik beberapa pelajaran rohani:
1. Penderitaan Paulus menyebabkan kemajuan Injil dan sekaligus mendorong (menjadi pemicu / triger) bagi orang Kristen lain untuk berani bersaksi (ay. 12-14).
Tahanan pada waktu itu selalu diikatkan dengan rantai kepada seorang prajurit yang akan diganti setiap 6 jam. Jadi setiap harinya setidak-tidaknya Paulus mempunyai kesempatan untuk bersaksi kepada 4 orang prajurit. Selain itu, kasusnya telah membuat dia dihadapkan kepada para penguasa (lingkungan istana) sehingga ia dapat bersaksi kepada mereka.
Di luar penjara, orang-orang Kristen lain telah mendapatkan dorongan untuk lebih berani lagi bersaksi, karena kasus Paulus adalah “kasus besar” maka kasusnya telah menjadi bahan percakapan sehari-hari diseluruh kerajaan Roma. Mungkin untuk saat ini, kasus Paulus seperti kasus Ahok di Indonesia.
2. Penderitaan Paulus menyebabkan motivasi banyak orang Kristen menjadi jelas (ay. 14-18)
Goncangan dalam perjalanan membuat kentang-kentang kecil yang ada di dalam bak sebuah truk turun ke bawah, sedangkan kentang-kentang besar naik ke atas. Demikian juga penderitaan memisahkan orang-orang besar dan orang-orang kecil. Penderitaan bahkan dapat menyaring manakah orang-orang yang tulus dan manakah orang-orang yang tidak tulus. Penderitaan Paulus telah menggoncang kehidupan banyak orang termasuk orang Kristen pada saat itu. Orang-orang yang tulus menjadi terlihat jelas demikian juga orang-orang yang motivasinya tidak tulus pun terlihat sangat jelas.
3. Penderitaan Paulus telah memuliakan Kristus (ay. 20) dan menyebabkan ia memberi lebih banyak buah bagi Kerajaan Allah (ay. 22).
Sebuah teleskop dapat membuat bintang-bintang yang jauh dan terlihat samar menjadi terlihat dekat dan jelas. Melalui penderitaan, Yesus Kristus memakai kehidupan Paulus dan kita juga untuk membuat diri-Nya lebih dekat dan terlihat jelas kepada orang banyak.
Demikian juga mikroskop membuat benda-benda yang kecil tampak lebih besar. Bagi orang-orang yang belum percaya, Yesus Kristus tidak begitu besar. Orang dan benda-benda lain jauh lebih penting dan besar bagi mereka. Tetapi, apabila orang yang tidak percaya memperhatikan orang Kristen yang sedang menderita, seharusnya mereka dapat melihat betapa besarnya Yesus Kristus itu. Demikianlah seharusnya, melalui kehidupannya orang Kristen dapat membuat “Kristus yang terlihat kecil” oleh orang-orang tidak percaya menjadi sangat besar. Dan “Kristus yang terlihat sangat jauh” bagi orang-orang tidak percaya menjadi nampak sangat dekat.
Pertanyaan dan Penerapan
1. Jika Allah dapat memakai penderitaan Paulus untuk memuliakan Allah, apakah menurut Anda Allah juga mau memakai penderitaan Anda untuk memuliakan Dia?
2. Menurut Anda, sikap yang bagaimanakah sepatutnya dimiliki orang Kristen saat mengalami penderitaan?
Oleh: Ferry Simanjuntak
GBI Pasir Koja 39 Bandung