PASKAH
Pertemuan 1
Only by His Grace (Efesus 2:8-10)
Dari Efesus 2:8-10, kita bisa menangkap tiga maksud Allah bagi kehidupan orang percaya, yaitu :
- Keselamatan dan hidup kita adalah karena kasih karunia (ayat.8)
Berarti :
- Keselamatan, berkat jasmani, kepandaian, kekayaan, dan sebagainya bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah.
- Keselamatan dan hidup adalah pemberian yang sangat berharga yang harus kita pertanggungjawabkan
Karena itu sebagai orang yang telah menerima kasih karunia dari Tuhan, kita harus menghargai kasih karunia tersebut dalam tindakan nyata dengan hidup saleh dalam keseharian, ibadah dan semakin setia dalam pelayanan kepada Tuhan.
- Hidup dengan kerendahan hati (ayat. 9)
- Karena semua adalah pemberian Allah bukan hasil usaha atau pekerjaan kita, tidak sepatutnya kita memegahkan diri sebaliknya harus hidup dalam kerendahan hati.
- Jika hidup diberkati, bisnis sukses, pelayanan berhasil dan sebagainya janganlah kita menyombongkan diri tetapi naikkan syukur karena kasih karunia tersebut.
Firman Tuhan menasihati kita: “Dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, janganlah engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu,…..(Ul. 8:12-14).
Allah mengasihi orang yang rendah hati tetapi membenci orang yang congkak (1 Ptr. 5:5).
Contoh:
- Daniel berniat untuk merendahkan diri dengan segala ketulusan di dalam doanya dan Tuhan menjawab doanya dan memberikan kemurahan kepada Daniel. Daniel 10:12. “Lalu katanya kepadaku: “Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu.”
- Sebaliknya, Nebukadnezar menyombongkan diri dan TUHAN menghukum dia menjadi gila dan direndahkan sedemikian rupa seperti binatang (Dan. 4:29-33).
- Hidup dalam Tujuan Allah (ayat 10)
- Untuk menghargai kasih karunia Allah sebagai ciptaan baru dalam Kristus Yesus, hidup kita harus punya tujuan yaitu untuk melakukan segala hal yang baik.
- Untuk mencapai tujuan Allah itu, kita harus KUAT dan JANGAN PUTUS ASA.
- Contoh: Yusuf (Kej. 34-37) walaupun rintangan begitu berat menghalanginya ia tidak putus asa untuk menggapai tujuan hidup yang Allah kehendaki dan Yusuf juga memiliki iman yang bekerja oleh kasih (Gal. 5:6).
Pertanyaan dan Penerapan
- Ajaklah semua anggota Care Cell untuk mengucap syukur kepada Tuhan buat keselamatan kekal dan segala yang baik yang telah Ia berikan kepada kita masing-masing!
- Kasih karunia Allah tidak saja telah menyelamatkan kita, tetapi diberikan dengan tujuan untuk kita melakukan suatu pekerjaan baik. Rencanakanlah suatu pekerjaan baik sepanjang satu minggu ke depan bersama-sama semua anggota Care Cell Anda!
| Hari | Rencana Pekerjaan Baik |
| Minggu | Contoh: Setelah pulang ibadah mengajak keluarga makan bersama untuk keakraban |
| Senin | |
| Selasa | |
| Rabu | |
| Kamis | |
| Jumat | Contoh: Mengunjungi teman Care Cell yang belum dapat pekerjaan untuk menguatkan dan menghibur hatinya, supaya Ia tetap berharap pada Tuhan. |
| Sabtu |
Pertemuan 2
Kematian-Nya Membawa Hidup (1 Kor. 15:12-34)
Berdasarkan 1 Korintus 15:12-34, ada empat hal yang telah dicapai oleh kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita, yaitu:
- Memberi kuasa kepada kita untuk mengubah orientasi atau arah hidup kita (ayat. 19).
Jemaat di Korintus telah percaya kepada Tuhan, tetapi sangat disayangkan hidup mereka hanya tertuju untuk hal-hal yang sementara di dunia ini (ayat. 19).
Orang yang hidup seperti ini, adalah orang yang paling malang. Mengapa? Karena ia tidak sadar bahwa semua hal-hal di dunia ini akan berlalu. Kita tidak membawa apa-apa saat dilahirkan dan juga tidak membawa harta dunia saat kita meninggal kelak. Musa rela meninggalkan kesenangan Mesir karena pandangannya ia arahkan kepada upah kekal (Ibr. 11:26-27).
- Memberi kuasa kepada kita untuk memerintah (ayat. 24-25).
Jemaat di Korintus tidak menyadari bahwa orang percaya dipanggil untuk ikut memerintah bersama Kristus (ayat. 24-25). Karena hal itu mereka tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang tidak berarti dalam jemaat. Yusuf diberi urapan raja, karena itu ia dimampukan untuk menyelesaikan masalah-masalah di tingkat bangsa (masalah-masalah yang rumit dalam skala yang besar) (Kej. 41:33-36). Banyak orang Kristen tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan kecil dalam kehidupan mereka sehari-hari karena mereka tidak melihat dan tidak menerapkan kuasa kebangkitan Yesus di dalam hidup mereka.
- Memberi kuasa kepada kita untuk menang atas setiap masalah (ayat. 26-28; ayat 30-32).
Masalah kematian. Jemaat di Korintus tidak menyadari bahwa Kristus telah mengalahkam musuh-musuh orang Kristen termasuk kematian (ayat. 26-28). Sekarang orang Kristen tidak perlu takut terhadap kematian. Bahkan karena kuasa kebangkitan Yesus, Paulus tetap bersemangat walaupun menghadapi berbagai tantangan (ayat. 30-32). Janda di Sarfat tetap kuat dalam iman walaupun persediannya tinggal segenggam tepung, tetapi karena kuasa Allah, ia mengalami mujizat dan melewati masa-masa sulit dalam hidupnya dengan penuh kemenangan (1 Raj. 17:11-15).
- Memberi kuasa kepada kita untuk tidak berbuat dosa (ayat. 33-34).
Kebangkitan Yesus mematahkan kuasa dosa dalam hidup kita sehingga kita dimampukan untuk tidak berbuat dosa lagi. Ini adalah pengalaman yang dapat dicapai orang Kristen di dunia ini. Yesus mengampuni perempuan yang kedapatan berzinah, tetapi Ia selanjutnya berkata: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh. 8:11).
Pertanyaan dan Penerapan
- Tanyakanlah kepada setiap anggota Care Cell, apa orientasi hidup mereka sebelum ini! Dan mintalah mereka menilainya sendiri, apakah itu adalah orientasi pada hal-hal duniawi atau pada kekekalan!
- Mintalah, dua atau tiga orang anggota Care Cell di bidang kehidupan mana mereka telah merasakan kemenangan dalam seminggu terakhir ini!
Pertemuan 3
Respon Yesus Terhadap Perlakuan yang Tidak Menyenangkan (Matius 5:38-42; Roma 12:19-21)
- Melepaskan hak (ayat. 39).
Pada saat Yesus ditampar oleh seorang penjaga, Yesus tidak diam dan memberikan pipi kirinya , tetapi membalasnya dengan berkata, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh.18:22-23). Apabila kita renungkan kembali, maka ucapan dan tindakan Yesus sangat bertolak belakang. Yesus memang tidak membalas penjaga tersebut dengan tamparan, tetapi Yesus juga tidak diam, namun Dia membalasnya dengan kata-kata. Untuk itulah kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang makna dari “ditampar pipi kanan, berilah pipi kirimu”.
Di Israel pada zaman itu, perselisihan antara dua orang seringkali dilakukan di depan umum. Seseorang boleh memaki lawannya secara habis-habisan di depan umum. Dalam gaya bahasa Yahudi itu disebut “menampar pipi”. Setelah itu, lawannya mempunyai hak untuk membalas dengan mencaci maki pula. Dalam gaya bahasa Yahudi itu disebut “membalas menampar”.
Pelajaran penting untuk kita di sini, bahwa dalam menjalin relasi dengan sesama kita, mungkin saja timbul konflik-konflik yang bisa diakibatkan oleh kesalahan kita atau orang lain. Tetapi hari ini kita harus tetap belajar mengalah dan melepaskan hak untuk tidak membalas. Hal ini lebih dijelaskan lagi di dalam Roma 12:19-21, karena pembalasan adalah hak Tuhan.
- Tidak merugikan orang lain (ayat. 40).
Pada zaman itu ada kebiasaan dalam hal-hal pinjam meminjam barang. Jika kita meminjam sesuatu dari seseorang, maka orang tersebut berhak untuk meminta jaminan (boreh), misalnya sehelai baju kita sendiri. Apabila kita lalai memberi jaminan, kita dapat dilaporkan kepada yang berwajib. Dalam ukuran normal, seharusnya jaminan yang diberikan kepada pemberi hutang adalah berupa barang yang nilainya setara dengan uang yang dipinjam. Tetapi dalam ayat ini, walaupun utang yang diberikan nilainya setara dengan sebuah baju, kelihatannya si pemberi pinjaman menginginkan jaminan (boreh) yang lebih besar dari itu, itu sebabnya ia meminta jubah sebagai jaminannya. Si pemberi pinjaman mungkin sudah mengkalkulasi bahwa kalau nilai jaminan setara dengan uang yang dipinjamkan jangan-jangan kelak seandainya jaminan itu ia jual malah nilainya berkurang karena ada nilai penyusutan barang. Karena itu ia meminta jaminannya lebih besar dari nilai uang yang dipinjamkannya, untuk menghindari kerugian di masa mendatang seandainya timbul persoalan tidak mampu membayar.
Dalam kasus ini, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita jangan merugikan orang lain. Tuhan Yesus pun tidak merugikan orang lain. Misalnya, suatu saat dia meminjam perahu Simon Petrus sebagai tempat untuk berkhotbah. Saat perahu itu dipinjam, Simon Petrus kehilangan waktu dan sarana untuk mencari nafkah. Tetapi setelah Yesus berkhotbah, Ia memberi mujizat kepada Simon sehingga mendapatkan hasil yang berlipat ganda, lebih besar dari hasil yang dapat dicapainya sendiri (Luk. 5:1-6).
- Kesediaan untuk menolong saat orang lain membutuhkan (ayat. 41-42).
Ada pula kebiasaan masyarakat Israel pada zaman itu dalam hal membantu orang asing. Apabila ada orang yang menanyakan suatu daerah, maka kita wajib untuk menunjukkan jalan dan mengantar dia sejauh satu mil atau bila perlu sejauh dua mil. Dan selama perjalanan, kita bertanggung jawab atas keselamatan orang asing itu.
Jadi ayat 41-42 menekankan tentang kesediaan untuk menolong saat orang lain membutuhkannya. Hal ini kita lakukan karena terlebih dahulu kita telah menerima pertolongan Tuhan dalam hidup kita.
Pertanyaan dan Penerapan
- Menurut pendapat Anda, apakah kita masih mungkin menerapkan apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 5:38-42 dalam kehidupan kita saat ini?
- Mintalah 2 atau 3 orang anggota Care Cell untuk berbagi pengalaman mereka tentang salah satu dari ketiga hal tersebut (apakah: pengalaman melepaskan hak, tidak merugikan orang lain, atau kesediaan untuk menolong saat orang lain membutuhkan)!
Pertemuan 4
Pembuktian Kehebatan Kuasa Tuhan. (1 Kor. 15:50-58)
Kehebatan kuasa Tuhan dibuktikan ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian. Itu berarti maut telah dikalahkan. Dan kebangkitan Tuhan Yesus itu:
- Membuat orang Kristen menjadi pemenang (ayat. 57).
Paulus menjelaskan bahwa kebangkitan Tuhan kita, Yesus Kristus, memberikan kita kemenangan! Namun, kemenangan kita ini bukan karena kekuatan dan kebaikan kita sendiri, tetapi ini kemenangan yang dianugerahkan oleh Allah dalam Kristus Yesus.
- Menang dari pengajaran sesat
Jemaat di Korintus pada waktu itu diganggu oleh pengajaran sesat yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Allah melarang orang percaya bergaul dengan penyesat (1 Kor. 15:33; Titus 3:10-11; 2 Yoh. 1:10). Dan Tuhan Yesus sebelumnya mengingatkan kita bahwa di akhir zaman akan muncul nabi-nabi dan penyesat-penyesat (Mat. 24:11). Tetapi kita telah diberi kuasa untuk mengalahkan mereka. Jemaat Efesus telah menang dari penyesat (Why. 2:2), maka kita pun bisa menang.
- Menang dari dosa (ayat. 55-56)
Dosa menyebabkan manusia binasa, ditelan oleh maut! Dosa mendatangkan kematian kekal, dimana manusia terpisah selama-lamanya dengan Allah. Tetapi saat kematian Kristus di kayu salib, maka dosa telah diselesaikan! Dia menanggung hukuman dosa kita. Dan kebangkitan Tuhan Yesus membuktikan bahwa maut tidak berkuasa lagi! Orang yang percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi kelak akan dibangkitkan dan tidak akan mengalami maut lagi sehingga bisa tinggal bersama Kristus selamanya.
Karena dosa telah dikalahkan, maka orang Kristen sepatutnya tidak dikuasai dosa lagi dalam kehidupan mereka sehari-hari.
- Menang dari pergumulan hidup
Pergumulan hidup dapat menggoncangkan iman. Tetapi Tuhan Yesus telah menang, dan kita pun dapat menang dari setiap pergumulan hidup. Walaupun mungkin dalam pergumulan itu kita mengalami ratap tangis seperti Yesus (Ibr. 5:7), tetapi kita tetap adalah pemenang. Karena Kemenangan Yesus menjadi kemenangan kita.
- Membuat orang Kristen dapat berdiri teguh dalam pelayanan (ayat. 57-58).
Seorang pemain bola yang berhasil memasukkan bola ke gawang lawan, akan berlari-lari dengan antusiasme dan kegirangan besar, walaupun sudah sangat lelah. Kemenangan selalu memberikan energi yang luar biasa dalam kehidupan kita. Sebelum Yesus bangkit, murid-murid dalam keadaan lesu dan ketakutan. Tetapi setelah Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada mereka, murid-murid mendapatkan energi dari kebangkitan Yesus itu. Simon Petrus berkhotbah dengan berapi-api sehingga 3.000 orang bertobat. Simon Petrus adalah orang yang sama, yang beberapa hari sebelumnya ditimpa oleh rasa bersalah, lesu dan kehilangan gairah serta kembali kepada kehidupannya yang lama sebagai penjala ikan.
Itu sebabnya Paulus menasihati kita “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Mengapa? Karena dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Pertanyaan dan Penerapan
- Menurut Anda mengapa ada orang Kristen yang dulunya sangat giat melayani, tetapi sekarang malah undur dari Tuhan?
- Praktekkanlah saling mendoakan, supaya setiap anggota Care Cell mengalami kemenangan dalam kehidupan mereka dan memiliki roh yang senantiasa berkobar-kobar untuk melayani!
Pertemuan 5
Berkat dari Paskah (1 Kor. 15:3-4; Luk. 24:28-32)
Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus berulang-ulang menampakkan diri kepada para murid. Yang kedua kali Tuhan Yesus menampakkan diri kepada dua orang murid yang sedang melakukan perjalanan menuju Emaus (Luk. 24:13-35). Berkat Paskah dari kisah ini adalah:
- Kebangkitan Yesus memulihkan persekutuan/ibadah kita bersama orang percaya yang lain
Emaus berjarak 7 mil (sekitar 11 km lebih) dari Yerusalem. Sebelumnya Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid untuk tetap tinggal di Yerusalem (Luk. 24:13). Murid-murid yang lain tetap tinggal di Yerusalem, tetapi dua murid ini malah pergi meninggalkan Yerusalem menuju ke Emaus. Dengan pergi ke Emaus sebenarnya mereka juga meninggalkan persekutuan/ibadah bersama dengan murid-murid lain. Tetapi setelah Yesus menampakkan diri kepada mereka, maka mereka kembali lagi ke Yerusalem (Luk. 24:33).
Jadi kedua orang tersebut adalah gambaran dari orang-orang percaya yang telah mundur dari pertemuan-pertemuan ibadah. Tetapi berita kebangkitan Yesus mempunyai kuasa untuk memulihkan kembali orang-orang yang telah mundur secara rohani.
- Kebangkitan Yesus memberi terang pada kita sehingga bisa memahami firman Tuhan dengan benar
Ke dua murid ini tidak memahami firman Tuhan dengan benar. Sehingga tidak memahami bahwa kematian dan kebangkitan Yesus sebenarnya sudah dinubuatkan oleh para nabi (Luk. 24:25-27). Tetapi ketika tiba-tiba Yesus hadir di tengah-tengah mereka dan bercakap-cakap dengan mereka, maka Yesus yang telah bangkit itu menerangkan Kitab Suci kepada mereka sehingga mereka mengerti dan hati mereka berkobar-kobar (Luk. 24:32).
- Kini Yesus senantiasa hadir dalam seluruh perjalanan hidup kita
Sama seperti Yesus hadir dalam perjalanan ke dua murid itu, kinipun Yesus senantiasa hadir dalam perjalanan hidup kita. Yesus berjanji bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Nya, Ia hadir di sana (Mat. 18:20). Dan Yesus-pun berjanji untuk menyertai kita sampai kesudahan zaman ini (Mat. 28:20). Jika Yesus bersama kita, maka kemenangan pasti menjadi bagian kita.
- Kebangkitan Yesus adalah berita yang harus disampaikan ke semua orang
Setelah ke dua murid di Emaus sadar bahwa pribadi yang hadir bersama mereka adalah Yesus sendiri, maka mereka segera bergegas kembali ke Yerusalem untuk memberitakan kebangkitan Yesus itu kepada murid-murid yang lain (Luk. 24:32-35). Demikianlah seharusnya kita, senantiasa memberitakan kebangkitan Tuhan Yesus pada semua orang.
Pertanyaan dan Penerapan
- Berdoalah untuk orang-orang Kristen yang telah undur rohani supaya mereka dipulihkan kembali! Tuliskanlah nama-nama mereka sehingga seluruh anggota Care Cell dapat mendoakannya bersama-sama secara serempak!
- Jika Yesus senantiasa hadir dalam hidup Anda, menurut Anda hal-hal yang bagaimanakah seharusnya terjadi di dalam diri Anda!
Oleh: Ferry Simanjuntak
GBI Pasir Koja 39 Bandung