Bahan Care Cell April 2016

carecellPertemuan 1

PENGAJARAN

Firman Tuhan Sebagai Makanan Rohani

Setiap orang Kristen yang ingin bertumbuh dalam Kristus membutuhkan makanan rohani yaitu firman Allah (Mat. 4:4; I Pet. 2:2). Seperti makanan yang menguatkan tubuh manusia, demikian pula firman Tuhan memberikan kekuatan rohani kepada orang Kristen dan sekaligus mencegah penyakit rohani yaitu dosa (Mzm. 119:9, 11; II Tim. 3:16-17). Manusia perlu makan setiap hari, orang-orang Kristen juga perlu mencari makanan rohani dari Alkitab setiap hari. Orang Kristen yang tidak biasa membaca dan mempelajari Alkitab tentulah orang Kristen yang sakit dan lemah secara rohani. Itu sebabnya penting sekali bagi kita untuk menikmati Alkitab setiap hari.

Bagaimana caranya kita dapat menikmati Alkitab sebagai firman Allah?. Sama seperti hal-hal yang lain, rasa nikmat itu harus disertai dengan keinginan, kerinduan dan kegembiraan. Demikian pula seharusnya sikap kita terhadap Alkitab bila kita ingin menikmatinya (Yeremia 15:16). Dalam Yesaya 55:1, Allah mengundang umat-Nya untuk menikmati makanan dan minuman rohani. Seperti apakah Alkitab itu bagi kita?.

Susu (I Pet. 2:2). Susu itu penting untuk pertumbuhan jasmani dan mental, lagipula dapat dicerna dengan mudah. Sesungguhnya firman Tuhan itu enak untuk dinikmati, tidak sukar. Jika kita hidup dari air susu firman Allah, maka kita akan tumbuh subur.

Roti (Mat. 4:4). Jika kita makan makanan rohani, yaitu firman Allah, kita menjadi kuat dan dapat mengalahkan dosa.

Makanan keras (Ibr. 5:13-14). Dalam Alkitab ada pengajaran yang dalam agar kita mengetahui kehendak Allah (Yoh. 4:34). Pengajaran yang lebih dalam disebut sebagai makanan keras. Jika kita makan makanan keras dari firman Allah, panca indera rohani kita menjadi terlatih untuk membedakan manakah kehendak Allah dan manakah yang bukan kehendak Allah dalam hidup kita. Manakah pengajaran yang murni/ sehat dan sesuai dengan firman Tuhan dan manakah pengajaran yang sesat.

Madu (Mzm. 19:11). Firman Tuhan lebih manis dari madu (Mzm. 19:11). Jika hidup kita dikuasai firman, maka hidup kita menjadi manis sehingga dapat menarik orang lain datang kepada Kristus

Jadi jika seseorang benar-benar dapat hidup menikmati firman Allah, ia akan bertumbuh, kuat untuk mengalahkan dosa, dapat memilih dengan tepat dan akan dapat menarik orang lain datang kepada Tuhan.

Bahan diskusi dan penerapan

  1. Berapa lamakah waktu yang Anda sediakan setiap hari untuk membaca Alkitab?.

□ Tidak pernah sama sekali      □ 5-15 menit            □ 20 – 30 menit       □ di atas 30 menit

  1. Sebutkanlah langkah-langkah apa yang dapat Anda lakukan sejak hari ini, untuk meningkatkan pembacaan Alkitab Anda!

Pertemuan 2

Mempelajari Alkitab

Mempelajari Alkitab sangat penting bagi kita agar kita memiliki iman kepada Kristus (Yoh. 21:31; II Tim. 3:15). Selain itu firman Tuhan bermanfaat melengkapi orang percaya untuk berbuat baik, yaitu hidup yang berkenan kepada Allah (II Tim. 3:16-17). Saat bersama Allah merupakan saat terpenting dalam hidup kita setiap hari. Jika kita memulai tiap hari dengan mempelajari petunjuk-Nya maka Allah akan memimpin jalan hidup kita. Itu sebabnya kita perlu mempelajari Alkitab setiap hari. Agar kita dapat meresapi kebenaran firman Tuhan, ada enam langkah yang harus kita lakukan terhadap Alkitab, yakni:

  • Mendengar (Rm. 10:17)

Kita dapat mendengar khotbah dan pengajaran firman dengan cara menghadiri kebaktian di gereja, mendengarkan radio, televisi, kaset dan lain-lain. Biasakan diri untuk membuat catatan atau ringkasan khotbah untuk membantu kita mengingat apa yang kita dengarkan, karena kita biasanya melupakan 90% dari apa yang kita dengarkan. Membuat catatan juga membantu kita mengkonsentrasikan pikiran waktu kita mendengarkan firman Tuhan.

  • Membaca (I Tim. 4:13; Wah. 1:3)
  1. a) Sediakan waktu khusus setiap hari untuk membaca Alkitab, di tempat tenang.
  2. b) Bacalah Alkitab secara berurutan per kitab, misalnya Matius sampai Wahyu (PB), baru

Kejadian sampai Maleakhi (PL). Bila setiap hari kita membaca sekitar empat pasal,

seluruh Alkitab akan habis dibaca dalam satu tahun.

  1. c) Gunakan catatan dan pulpen warna-warni untuk menandai bagian Alkitab tertentu.
  • Menyelidiki (Kisah Para Rasul 17:11)

Untuk mencegah kemacetan dalam membaca, apabila kita menjumpai pokok yang sangat menarik untuk dipelajari, catatlah pokok itu pada buku catatan lalu pelajari setelah kita selesai membaca bagian Alkitab pada hari itu. Kita juga harus memahami garis besarnya, memahami latar belakang penulisannya, menemukan jalan ceritanya dan menerapkan pesannya yang praktis yang disampaikan oleh perikop itu dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperluas pemahaman kita tentang Alkitab, kita membutuhkan bahan bacaan, seperti: Konkordansi, Kamus Alkitab, Pembimbing dan Pengenalan Perjanjian Lama, serta Pembimbing dan Pengenalan Perjanjian Baru. Tafsiran dan buku-buku rohani lainnya juga dapat membantu.

  • Menghafal (Mzm. 119:11)

Menghafal ayat Alkitab adalah cara yang paling ampuh untuk menyimpan firman dalam ingatan dan hati kita, sehingga setiap saat firman Allah itu dapat dipakai seperti mesin otomatis oleh Roh Kudus (Yoh. 14:26) untuk bersaksi dan untuk melawan godaan Iblis (Mat. 4:1-11). Kita bisa menghafal dengan cara membaca ayat itu berulang-ulang hingga meresap.

  • Merenungkan (Yos. 1:8; Mzm. 1:1-3)

Merenungkan firman berarti kita meresapkan firman itu ke dalam hati dan pikiran kita. Bagaikan lembu yang memamah makanan untuk memperoleh sari-sari makanan untuk menumbuhkan badannya demikian juga kita harus “mengunyah” dan mengkaji firman agar kita bertumbuh secara rohani.

  • Melakukan (Yak. 1:22, 25)

Inilah bagian yang terpenting, sebab tanpa mau melakukan apa yang kita telah pelajari, semuanya akan sia-sia belaka. Tetapi berbahagialah orang yang mentaati seluruh firman Tuhan.

Bahan diskusi dan penerapan

  1. Buatlah rencana pembacaan Alkitab selama seminggu ke depan sehingga Anda dapat

menceritakannya pada pertemuan care sel berikutnya!.

  1. Ceritakanlah hal-hal yang selama ini menghambat pembacaan Alkitab Anda, dan menurut Anda bagaimana cara mengatasinya? Ceritakanlah!

Pertemuan 3.

Sikap Waktu Mempelajari Alkitab

Pada waktu kita membaca dan mempelajari Alkitab, kita harus memiliki sikap khidmat, penuh pengharapan untuk menjumpai Kristus, Firman yang hidup itu dan bergantung pada pimpinan Roh Kudus yang memberikan penerangan sehingga kita dapat mengerti kehendak-Nya.

Sikap yang harus kita miliki pada waktu membaca Alkitab:

  1. Seperti seorang calon pengantin yang membaca surat kekasihnya. Alkitab perlu dibaca secara lengkap setiap baris dan kata dengan hati cinta. Alkitab merupakan surat cinta kasih dari Tuhan, orang yang mengasihi Tuhan tentu suka membaca firman-Nya.
  2. Seperti seorang musafir (pengembara dalam perjalanan). Alkitab seperti peta jalan yang harus dibaca terus-menerus agar pada setiap jalan dan persimpangan hidup, kita dapat melangkah di jalan yang benar menuju kehidupan kekal. Firman Tuhan bagaikan pelita yang menerangi jalan kita (Mzm. 119:105).
  3. Seperti seorang pelajar membaca buku pelajaran. Alkitab harus dibaca dengan teliti sebagai buku pegangan yang membuat kita lebih bijaksana (Mzm. 119:97-100). Sehingga saat kita menghadapi ujian-ujian kehidupan kita bisa lulus dengan hasil yang memuaskan.
  4. Seperti seorang prajurit yang mentaati atasannya. Alkitab adalah surat perintah dari Panglima Agung yang harus dibaca dengan seksama untuk ditaati.

Memahami Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Dalam mempelajari Alkitab, kita harus memahami perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Cara Allah menyatakan atau menerangkan kehendak-Nya di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak sama.

Cara dalam Perjanjian Lama sebagian besar memakai bayangan, ibarat, perlambangan atau teladan hidup (Ibr. 10:1; Kol. 2:16-17; Gal. 4:24; I Kor. 10:11). Sedangkan Perjanjian Baru menerangkan dalam kenyataannya, dalam arti sesungguhnya. Masa berlakunya Perjanjian Lama secara hurufiah adalah sampai Kristus. Kini Perjanjian Lama tetap berlaku tetapi cara memahaminya berbeda, yaitu dengan menyingkapkan “selubungnya” (II Kor. 3:14). Kini adalah zaman “isi”nya, arti rohaninya, yaitu Perjanjian Lama yang sudah dibuka selubungnya. Jadi Perjanjian Lama adalah bayangannya, Perjanjian Baru adalah realitas atau kenyataannya. “Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah”. (I Kor. 15:46).

Bagi kita sekarang sebagian besar dalam Perjanjian Lama tidak dimaksudkan dikerjakan secara hurufiah, tetapi secara rohaniah. Misalnya: Yosua 6:21 menumpas orang kafir = menumpas atau mematikan perbuatan kafir (Kol. 3:5-6); Sunat = buang kenajisan (Rm. 2:29). Bila mentaati perintah dalam Perjanjian Lama secara hurufiah bisa berbahaya dan bertentangan dengan firman Allah. Misalnya membunuh orang yang kedapatan berzinah atau menyembah berhala dan terlibat okultisme (Im.t 20:10; Kel. 22:19-20).

Bahan diskusi dan penerapan

  1. Coba ceritakan salah satu bagian Perjanjian Lama yang Anda rasa sulit untuk memahaminya, lalu diskusikanlah dengan teman-teman di care sel.
  2. Menurut Anda mengapa sikap yang benar sangat diperlukan saat Anda mempelajari Alkitab?

Pertemuan 4

Kesulitan-kesulitan dalam Alkitab

Pada waktu kita mempelajari Alkitab, kadang-kadang kita menemukan hal-hal yang sulit dimengerti bahkan kelihatannya ada yang bertentangan satu dengan yang lainnya, sehingga banyak orang menjadi bimbang. Alkitab adalah buku rohani yang harus dimengerti secara rohani dengan pertolongan Roh Kudus. Manusia duniawi dengan pikirannya sendiri tidak dapat memahami perkara rohaniah (I Kor. 2:14). Sebetulnya tidak ada pertentangan yang sungguh-sungguh dalam Alkitab. Kita menganggapnya demikian karena kita kurang memahami firman Allah. Orang yang sungguh-sungguh beriman tidak akan bimbang dan terganggu oleh hal-hal yang belum diketahuinya, sebab ia tahu bahwa pada saatnya yang tersembunyi akan dibukakan (Mat. 10:26), kelak kita akan mengerti segala sesuatu (Yoh. 13:7). Apa yang harus kita lakukan bila ada bagian Alkitab yang belum dapat kita mengerti?.

  1. Simpanlah semua itu dalam hati, seperti Maria (Luk. 2:19). Yang belum kita pahami, simpan dulu. Tapi hal yang sudah kita pahami lakukanlah itu (Ul. 29:29).
  2. Berdoalah minta Roh Kudus menerangkan (Mat. 7:7-8; Yak. 1:5).
  3. Menunggu jawaban Tuhan dengan sabar (Pkh. 3:1).
  4. Kita juga dapat mendiskusikannya dengan saudara seiman.

Beberapa contoh hal-hal yang sulit dimengerti:

  1. Kisah Para Rasul 9:7, nampaknya bertentangan dengan Kisah Para Rasul 22:9.

Jawab: Teman-teman Paulus mendengar suara tetapi tidak mendengarnya sebagai bahasa yang dapat dimengerti (seperti guruh).

  1. Matius 27:44 dan Markus 15:32 nampaknya bertentangan dengan Lukas 23:39-43.

Jawab: Mula-mula kedua penyamun itu menghujat Yesus, namun kemudian salah satu dari mereka bertobat.

  1. Daftar silsilah Yesus dalam Matius 1:1-17 nampaknya bertentangan dengan Lukas 3:23-38.

Jawab: Matius memberikan garis keturunan Yusuf, sedangkan Lukas memberikan garis keturunan Maria (anak Eli). Kebiasaan umum di kalangan orang Yahudi dalam mencatat daftar silsilah ialah menurut nama ayah, kakek dan seterusnya. Jadi Yesus adalah keturunan Eli dari pihak ibunya. Kata “anak” di sini memiliki arti keturunan.

Hal yang perlu kita camkan adalah: jangan kita menafsirkan Alkitab dari sudut pandang kita sendiri. Kekeliruan yang sering terjadi dalam penafsiran Alkitab dikarenakan si penafsir tidak melakukan “exegese” melainkan “eisegese”. Yang dimaksud dengan exegese ialah si penafsir berusaha mengeluarkan isi yang terkandung di dalam teks Alkitab, dengan demikian Alkitab dibiarkan untuk berbicara dari dalam dirinya sendiri. Jadi Alkitab harus menafsirkan dirinya sendiri. Penafsiran yang benar memang harus bertolak dari exegese.

Sedangkan dalam eisegese si penafsir justru memasukkan pandangan atau gagasannya sendiri ke dalam teks Alkitab tadi, padahal teks itu tidak memaksudkannya demikian. Eisegese jelas berbahaya sebab di samping tidak membiarkan Alkitab berbicara dari dalam dirinya sendiri, juga sebenarnya hanya memperalat ayat-ayat Alkitab untuk mengukuhkan pendapatnya atau untuk membela kepentingannya sendiri. Contoh: untuk membela pendapatnya tentang poligami maka kemudian dipilih ayat-ayat tentang tokoh-tokoh Alkitab yang beristri lebih dari satu terutama raja Salomo yang istrinya 1000 orang.

Karena itu mari kita mempelajari Alkitab dengan seksama di bawah pimpinan Roh Kudus agar kita memiliki pondasi iman yang kokoh dan agar kita dapat melaksanakan setiap perintah Allah dalam hidup sehari-hari sebagai bukti bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Dia (Yoh. 14:15).

Oleh: Ferry Simanjuntak

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …