Bahan Care Cell Agustus 2018

KEMERDEKAAN (KEPEMIMPINAN ROHANI)

Pertemuan 1

Tokoh Timotius

Timotius adalah pemimpin jemaat Efesus yang sangat muda. Diperkirakan ia baru berusia 20 tahun saat ditahbiskan menjadi hamba Tuhan. Tampilnya Timotius sebagai seorang pemimpin adalah bentuk penggenapan janji Tuhan: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, . . .” (Kis. 2:17). Hal itu mengingatkan kita pada figur Daud di masa silam, yang di luar perhitungan Samuel, Daud yang masih muda dipilih Tuhan menjadi raja (1 Sam. 16:11-12).

Timotius menjadi pemimpin yang berhasil, di tengah banyak tantangan. Banyak jemaat yang meremehkan dia karena ia masih muda. Itu sebabnya kadang kala ia merasa minder (1 Tim. 4:12). Kadang juga ia merasa takut, karena itu Paulus menasihati dia bahwa ketakutan itu bukan berasal dari Tuhan (2 Tim. 1:7). Paulus beberapa kali harus meratakan jalan terlebih dahulu agar Timotius dapat berhasil dalam pelayanannya (1 Kor. 16:10-11). Selain itu, Timotius mengidap penyakit pencernaan (1 Tim. 5:23).

Ada dua faktor yang membuat Timotius menjadi seorang pemimpin yang berhasil pada masa muda:

  1. Faktor keluarga

Ia dilahirkan dalam keluarga yang beriman. Dia dididik dalam iman oleh neneknya Louis dan ibunya Eunike (2 Tim. 1:5). Dalam hal ini kita melihat bagaimana faktor keluarga mempengaruhi pertumbuhan rohani seorang pemimpin masa depan.

  1. Faktor pemuridan

Sejak Paulus menemukan Timotius, ia langsung dimuridkan secara intensif oleh Paulus. Timotius sangat beruntung, sebab selain memiliki orang tua biologis yang beriman ia juga memiliki orang tua rohani (Paulus) yang baik (1 Tim. 1:1-2; 2 Tim. 1:1-2).

Pdt. Julius Ishak pernah memberi nasihat pada para dosen di STT Kharisma, bahwa untuk menghasilkan hamba-hamba Tuhan, maka STT Kharisma harus memperhatikan dua hal, yakni: faktor keluarga dari mana calon mahasiswa itu berasal, dan kedua setiap mahasiswa seharusnya dipandang sebagai anak-anak rohani yang harus dimuridkan secara intensif oleh para dosen. Terbukti bahwa mahasiswa yang bermasalah dan tidak dapat menyelesaikan pendidikan mereka sebagai hamba Tuhan adalah mereka yang berasal dari keluarga yang berantakan dan mahasiswa yang tidak dimuridkan.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Menurut Anda mengapa faktor keluarga menjadi sangat penting bagi pertumbuhan pemimpin masa depan?
  2. Menurut Anda mengapa faktor pemuridan juga menentukan bagi pertumbuhan calon pemimpin di care cell? Dan bagaimanakah membangun gerakan pemuridan di care cell?

 

Pertemuan 2

Tokoh Filemon

Surat Filemon  menjelaskan seorang yang bernama Onesimus yang adalah budak Filemon telah melarikan diri, dan kemungkinan saat melarikan diri dia terlebih dahulu mencuri harta Filemon (ay. 12, 16, 18). Saat melarikan diri, Onesimus tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Di penjara ia bertemu dengan Paulus, dan dibimbingnya ke dalam pertobatan sehingga Onesimus bertumbuh menjadi seorang Kristen yang setia dan potensial.Kemudian Paulus menyuruh Onesimus pulang kepada tuannya Filemon. Agar Filemon dapat menerima kembali Onesimus maka Paulus menulis surat, dimana surat tersebut dibawa atau dititip langsung ke tangan Onesimus.

Di dalam surat ini Paulus meminta agar Filemon bersedia memandang dan menerima Onesimus sebagai seorang saudara di dalam Tuhan. Bukan lagi sebagai budak seperti dahulu. Paulus ingin menjaga nama baik Filemon dan kesaksian hidupnya sebagai penatua jemaat di tengah-tengah mereka yang belum percaya. Paulus, menyatakan kerugian yang pernah ditimbulkan Onesimus akan ia yang menanggungnya atau menggantinya. Paulus pun yakin bahwa Filemon dapat memenuhi permintaannya.

Dari kisah ini, kita dapat mengambil beberapa prinsip untuk dapat diterapkan:

  1. Seperti Kristus telah menerima kita, maka kita pun juga harus sedia menerima orang lain, sekalipun orang tersebut telah merugikan kita sendiri.
  2. Sebagai orang Kristen, kita mempunyai tanggung jawab untuk membawa damai (band. Mat. 5:9). Masalah perbedaan status dan latar belakang tidak lagi patut dipertahankan oleh setiap orang percaya. Di dalam Kristus, kita semua bersaudara, baik di dunia hingga nanti di surga.
  3. Kita perlu dan harus menjaga nama baik orang percaya, sekalipun tadinya ia berlatar belakang “jahat”. Kita harus mencari jalan, bagaimana memulihkan nama baiknya yang sudah tercemar itu. Ia perlu didorong untuk melakukan “retribusi” terhadap orang-orang yang pernah ia rugikan. Inilah tanggung jawab kita secara sosiologis, sebagai anak-anak terang.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Menurut Anda mengapa kita harus mengampuni orang yang telah bersalah pada kita dan telah merugikan kita?
  2. Menurut Anda mengapa perbedaan status dan latar belakang tidak patut dipertahankan dalam komunitas orang percaya?

 

Pertemuan 3

Menang atas Konflik (Mzm. 44:6-9)

Konflik datang dalam kehidupan manusia sejak kejatuhan dalam dosa. Adam dan Hawa saling menyalahkan, dan sejak itu konflik rohani pun terus terjadi antara manusia dan keturunannya dengan Iblis (Kej. 3:15). Konflik baru akan hilang saat kita memasuki langit dan bumi yang baru (Why. 21:4). Semua tokoh-tokoh iman pernah mengalami konflik: Abraham, Musa, Daud, murid-murid, Paulus, gereja mula-mula, bahkan Tuhan Yesus sendiri.

Ada dua respon orang menanggapi konflik: tidak mau menghadapinya, seolah-olah tidak ada masalah atau menghadapinya. Jika konflik tidak dihadapi maka: perubahan tidak akan terjadi, perasaan kesal dan benci terus menumpuk, ketidakpuasan, gosip dan fitnah bertumbuh. Contoh orang yang tidak bersedia menghadapi konflik:

  1. Saul

Tidak mau menghadapi Goliat dan tentara Filistin, akibatnya mentalitas tentara Israel runtuh (1 Sam. 17:24). Israel terus-menerus berada di bawah bayang-bayang intimidasi.

Bila konflik dihadapi dengan benar, akibatnya: masalah diselesaikan, kemenangan terjadi, dan pertumbuhan pun terjadi. Contoh bagaimana ketika konflik diatasi dengan benar, maka pertumbuhan terjadi:

  1. Daud

Berbeda dengan Saul, Daud bersedia menghadapi konflik dengan Goliat dengan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Kemenangan terjadi, semangat dan iman ditimbulkan kembali dalam hati tentara Israel (1 Sam. 17:32-37; 51-52)

  1. Gereja mula-mula

Terjadi sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan. Para Rasul mengatasinya dengan mengangkat para diaken. Akibatnya: firman Allah makin tersebar dan jumlah murid makin bertambah (Kis. 6:1-7).

Dua cara untuk menghadapi konflik:

  1. Cara Iblis (Yak. 3:14-16)

Menghadapi konflik dengan iri hati, mementingkan diri sendiri, kesombongan, dusta. Hasilnya: kekacauan dan segala macam kejahatan.

  1. Cara Yesus (Yak. 3:17-18)

Menghadapi konflik dengan hati yang murni, pendamai, ramah, penurut/taat, belas kasihan, buah-buah yang baik, tidak memihak, tidak munafik. Hasilnya: konflik teratasi, kedamaian terjadi.

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Mintalah salah satu anggota care cell untuk menceritakan konflik kehidupan yang mereka hadapi baru-baru ini!
  2. Dan tolonglah bagaimana dia dapat menyelesaikan konflik tersebut!

 

Pertemuan 4

Double Portion (2 Raj. 2:8-10)

Sumber segala berkat dalam kehidupan kita adalah urapan Roh Kudus. Urapan Roh Kudus yang membuat kita berhasil baik dalam kehidupan kita sehari-hari maupun dalam pelayanan. Belajar dari Elisa, ada empat perjuangan yang akan kita hadapi untuk memasuki kehidupan yang dipenuhi urapan Roh Kudus.

  1. Perjuangan di Gilgal (2 Raj. 2:1-2)
  • Gilgal adalah tempat di mana bangsa Israel disunat (Yos. 4:19-5:5). Jadi Gilgal adalah lambang dimana kedagingan dan hal-hal duniawi ditanggalkan dalam kehidupan kita. Urapan hanya datang saat kedagingan ditanggalkan.
  • Penyediaan supranatural, yaitu manna berhenti di Gilgal (Yos. 5:10-12). Sejak saat itu orang Israel harus menabur dan menuai sendiri. Gilgal juga adalah lambang di mana berkat-berkat kerajaan bukan lagi terjadi secara kebetulan tetapi harus diusahakan/diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.
  1. Perjuangan di Betel (2 Raj. 2:3-4)
  • Di Betel, Yakub mengalami perjumpaan dengan Tuhan (Kej. 28:10-19) dan mendedikasikan keuangan – hasil jerih payahnya – pada Tuhan (Kej. 28:18-22). Betel adalah lambang dimana Anda harus mengenal Tuhan secara pribadi, bukan bergantung pada apa kata orang lain tentang Tuhan.
  • Betel juga adalah lambang Anda harus mendedikasikan seluruh usaha Anda bagi Tuhan, supaya urapan datang dalam kehidupan Anda.
  1. Perjuangan di Yerikho (2 Raj. 2:5-6)
  • Yerikho adalah tempat peperangan. Di tempat ini juga orang-orang yang tidak setia harus disingkirkan. Tua-tua Israel diminta untuk berkomitmen membunuh semua orang yang mengeluh terhadap Yosua (Yos. 1:18). Yerikho juga adalah tempat penghukuman bagi mereka yang menentang otoritas (1 Raj. 16:34).
  • Untuk mengalami urapan Anda akan memasuki pertempuran rohani, membunuh sungut-sungut, menyingkirkan ketidaksetiaan dan menegakkan otoritas rohani.
  1. Perjuangan di Sungai Yordan (2 Raj. 2:7, 10)
  • Di sungai Yordan, Elisa harus berjaga-jaga untuk tetap dapat melihat kuda dan kereta rohani yang akan mengangkat Elia. Di sungai Yordan juga Elisa mengoyakkan pakaiannya dan mengenakan jubah urapan.
  • Sungai Yordan adalah lambang tetap berpegang dan berjaga-jaga atas visi Ilahi, serta menanggalkan identitas pribadi kita (mengoyakkan pakaian) serta memakai dan bergerak dalam identitas baru (urapan Roh Kudus).

Pertanyaan dan Penerapan

  1. Penghalang terbesar urapan adalah hidup di dalam kedagingan. Menurut Anda mengapa urapan berhubungan dengan kekudusan?
  2. Berdoalah bersama-sama, agar setiap anggota cell menerima kepenuhan Roh Kudus!

Oleh: Ferry Simanjuntak

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …