Apakah Smartphone Mengakibatkan Keterlambatan Bicara Pada Balita?

Pada era kemajuan teknologi, hampir semua orang memiliki dan menggunakan gawai. Gawai dan aplikasi game menawarkan banyak kemudahan dan hiburan pada anak-anak. Sehingga banyak orangtua menggunakan gawai ini untuk menenangkan anak dan bahkan balita mereka. Namun, beberapa orangtua yang memiliki anak-anak pada masa kini mempertanyakan tentang efek gawai terhadap perkembangan anak. Apakah teknologi ini mempengaruhi perkembangan otak mereka?. Apakah teknologi ini dapat mengganggu perkembangan emosi anak?. Apakah gawai dapat mengakibatkan keterlambatan bicara pada anak?.

Sering kali kita tidak memikirkan akibat buruk yang ditimbulkan oleh gawai pada anak. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pediatric Academic Societies Meeting mengungkapkan fakta yang mengejutkan, Studi ini menjelaskan bahwa anak-anak usia 6-24 bulan yang terbiasa bermain dengan gawai dan permainan elektronik lain memiliki resiko tinggi untuk mengalami keterlambatan bicara. Dari 900 balita, 20% balita telah menggunakan gawai sekitar 28 menit perhari. Setiap pertambahan 30 menit penggunaan gawai maka resiko gangguan bicara akan meningkat sebesar 49%. Namun tetap diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi kebenaran penelitian ini.

Walaupun hasil penelitian ini masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut, namun setidaknya penelitian ini dapat membuka wawasan kita. American Academy of Pedriatics merekomendasikan bahwa anak kurang dari 18 bulan tidak diperbolehkan untuk bermain gawai kecuali untuk aktifitas video call dengan keluarga mereka.

Di era perkembangan teknologi yang sangat cepat saat ini, sangatlah penting bagi orangtua untuk memiliki hikmat dari Tuhan untuk mendidik dan membesarkan anak-anak kita.

Amsal 22:6

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak menyimpang dari jalan itu.

Oleh: dr. Hanna Gunawan

Check Also

Kesehatan April 26 copy

ASAM LAMBUNG NAIK,TERASA TERBAKAR & NYERI DI DADA : Keluhan Sepele Yang Tidak Boleh Diabaikan

Oleh: Andreas Adiwinata, dr., M.Biomed Banyak orang pernah merasakan sensasi panas di dada setelah makan, …