Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ingatlah perkataan yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidak lebih besar daripada tuannya. Jika mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yohanes 15:20).
Secara khusus, Petrus mengingatkan orang Kristen untuk tidak berpikir bahwa semua penderitaan pastilah penganiayaan. “Jangan ada di antara kamu yang menderita sebagai pembunuh, pencuri, pelaku kejahatan, atau sebagai orang yang suka mencampuri urusan orang lain” (1 Petrus 4:15; lihat 2:20). Ketika orang Kristen menderita karena melakukan yang dilarang Allah, mereka bukan mengalami penganiayaan Kristen dan tidak boleh memelintir Kitab Suci dalam upaya untuk menghibur diri mereka dengan janji-janji yang dirancang bagi mereka yang menderita karena iman mereka kepada Kristus.
Adalah sah untuk berbicara tentang “gereja yang teraniaya” saat memikirkan tempat-tempat di dunia ini, yang di situ saudara dan saudari kita secara sistematis diserang dengan kekerasan dan bahkan kekerasan fisik karena iman mereka. Namun, kita harus berhati-hati untuk tidak membatasi pemahaman kita tentang penganiayaan hanya pada situasi ekstrem tersebut. Pemenggalan, mutilasi, dilempari batu, dan pemenjaraan yang dilakukan terus-menerus terhadap orang Kristen hanya karena mereka orang Kristen adalah contoh penganiayaan yang berat. Namun, Alkitab tidak membatasi definisi tentang penganiayaan pada tingkat keparahan tertentu. Bukan hanya aksi kekerasan fisik yang merupakan penganiayaan. Bentuk-bentuk oposisi yang kurang daripada itu terhadap pengikut Kristus juga disebutkan. Yesus berkata, “Diberkatilah kamu apabila orang mencelamu dan menganiayamu, dan mengatakan segala macam perkataan jahat terhadapmu dengan fitnah karena Aku” (Matius 5:11). Dia menyebutkan tiga kategori oposisi. Yang pertama dan ketiga secara eksklusif bersifat verbal, dan yang kedua mencakup serangan verbal dan fisik. Penganiayaan Kristen meliputi itu semua.
Bila seorang percaya diejek atau dihina karena pengabdiannya kepada Kristus, pada saat itulah dia mengalami penganiayaan. Memang, itu tidak seberat kekerasan yang dilakukan terhadap orang-orang yang menderita secara fisik karena iman mereka, tetapi tetap saja nyata. Hal yang sama berlaku untuk tuduhan fitnah terhadap orang percaya karena pengabdian mereka kepada Kristus.
Ketika kita mengalami hal-hal seperti itu, Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita harus “bersukacita dan senang” karena dua alasan, yang pertama, sebab upah kita “besar di surga”. Yang kedua, sebab dengan cara yang sama “mereka menganiaya para nabi yang sebelumnya [kita]” (Matius 5:12). Dalam bagian paralel Lukas, Yesus berkata, “Diberkatilah kamu saat orang membencimu, mengucilkanmu, menghinamu, serta mencemarkan nama baikmu karena Anak Manusia,” sebab seperti itulah nenek moyang mereka memperlakukan para nabi (6:22-23). Dengan kata-kata ini, Dia memperluas pemahaman tentang penganiayaan, yaitu bahkan termasuk sikap dan disposisi kebencian.
Jadi, penganiayaan Kristen dapat mencakup berbagai macam tanggapan terhadap orang percaya — mulai dari cemoohan, kebencian, dan ejekan sampai kekerasan fisik, pemenjaraan, dan kematian. Namun, untuk oposisi semacam itu, tidak peduli seberapa ringan atau parahnya, dapat dianggap sebagai penganiayaan dalam arti alkitabiah, jika ditimbulkan karena pengabdian orang percaya kepada Yesus Kristus dan kebenaran-Nya.
Tuhan kita mengalami tentangan. Kebencian terhadap Dia menyebabkan penyaliban-Nya. Yang mengikut Dia harus menyadari bahwa dengan mengenal Yesus, kita mengundang ke dalam hidup kita pertentangan yang timbul melawan Dia. Dia berkata, “Jika dunia membencimu, kamu tahu bahwa dunia telah membenci Aku sebelum membencimu” (Yohanes 15:18).
Para pengikut seorang guru yang dianiaya, akan dianiaya. Bila kita dengan sungguh hidup sesuai dengan jalan Kristus, kita pasti akan bertemu dengan orang-orang yang membenci Kristus. Entah oposisi itu datang dalam bentuk yang berat seperti kekerasan fisik, pemenjaraan, dan hilangnya nyawa, atau dengan bentuk yang relatif ringan seperti nilai rendah ujian sekolah, kehilangan posisi di tim olahraga, atau diejek oleh keluarga dan teman. Jika itu memang ditimbulkan karena ketundukan kepada Kristus dan ketaatan kepada perintah-perintah-Nya, itu adalah penganiayaan Kristen.
Kita tidak boleh menyebut setiap penderitaan yang menimpa orang Kristen merupakan penganiayaan. Itu harus ditujukan untuk oposisi yang muncul karena pengabdian kepada Kristus. Kita juga jangan mengabaikan penganiayaan yang lebih ringan karena tidak mengakibatkan pertumpahan darah. Sebagai gantinya, kita harus ingat bahwa jalan yang dibuka oleh Juru Selamat bagi kita adalah jalan penderitaan dan kematian. Sewaktu kita mengikuti Dia dan menolak untuk mengompromikan pengabdian kita kepada-Nya, saat penganiayaan datang, dalam bentuk apa pun, kita harusnya dikuatkan oleh nasihat Petrus (1 Petrus 4:12-13)
Diterjemahkan dari:
The Joshua Project; https://joshuaproject.net/people_groups/13027/ID , Lematang in Indonesia.
GBI Pasir Koja 39 Bandung