Renungan Harian (19 Februari 2018)

HADIRAT YANG SESUNGGUHNYA

Yohanes 20:24-29

Yohanes 20:29. “Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Kata “hadirat Tuhan” tentunya sangat sering kita dengar dalam ibadah. Seringkali kita dengar pendeta atau pemimpin pujian membangkitkan emosi jemaat untuk lebih bersemangat dalam pujian penyembahan agar hadirat Tuhan turun atau meminta hadirat Tuhan memenuhi ibadah baik dalam lingkup ruang maupun hati dan pikiran. Dan ketika menurut mereka hadirat Tuhan sudah turun, maka akan ada tanda secara fisik yang bisa terasa, ada yang menangis terharu, ada juga yang merasa lega, ada yang merasa merinding, ada juga yang tubuhnya merasa bergetar. Apakah mengalami hadirat Tuhan hanya di dalam ibadah dan harus ada kejadian yang bisa dirasakan secara jasmani?

Adalah pengertian dan konsep yang salah tetapi telah mengakar kuat dalam beberapa aliran kekristenan bahwa mengalami Tuhan harus secara spektakuler. Sebenarnya hal ini adalah konsep agama-agama kafir non Kristen sejak dulu kala, yang selalu menghubungkan ritual atau upacara agama mereka dengan allah mereka yang selalu terjadi secara spektakuler.

Dan untuk hal-hal spektakuler yang diharapkan terjadi biasanya harus ada pemimpin agama atau imam besar yang menjadi mediator antara umat dengan dewa atau allah sesembahan mereka. Hal spektakuler jadi keharusan buat mereka, itulah sebabnya ritual mereka disertai demonstrasi untuk menunjukkan kekuatan allah mereka. Sejatinya ini adalah penipuan terhadap jemaat, tapi sudah berlangsung bertahun-tahun dan disukai mayoritas, sehingga menjadi sebuah standar.

Mengalami “hadirat Tuhan” bukan berarti harus mutlak mengalami hal-hal yang spektakuler. Tetapi orang yang bergaul dengan Tuhan setiap hari pasti ia membangun sikap takut akan Allah secara benar. Ia hadir dalam setiap tarikan napas kita. Jadi sadarilah kehadiran hadirat-Nya secara benar dan mulailah hidup layaknya hidup dalam hadirat Tuhan. (NK).

Doa: “Kami menyadari, bahwa Engkau hadir dalam setiap tarikan napas kami karena-Nya kami mau hidup layaknya dalam hadirat-Mu yang kudus dan suci. Amin.”

 

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …