MENGANDALKAN TUHAN
Yesaya 2:6-22
Yesaya 2:22. “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?”
Dalam bacaan kita hari ini pengalaman bangsa Israel menunjukkan bahwa mereka mengandalkan harta benda. Mereka juga terpengaruh pada bangsa sekitarnya sehingga menaruh kekuatan pada berhala-berhala. Di balik itu semua, mereka adalah orang yang mengandalkan diri sendiri. Padahal semuanya itu tidak berarti karena dalam sekejap saja Tuhan mampu melenyapkan apa yang dibanggakan dan diandalkan oleh manusia. Mengandalkan diri sendiri berawal dari kesombongan. Pernyataan nabi Yesaya menunjukkan bahwa kesombongan itulah yang menjadi akar persoalan. Berulang kali Yesaya menuturkan pokok kesombongan ini, yaitu merasa diri mampu, seolah-olah merasa berhak menentukan hidupnya sendiri. Allah tidak dipedulikan. Bangsa Israel merasa bebas mengikuti bangsa-bangsa sekitar untuk memilih pada ilah mana mereka akan beribadah. Mereka juga tidak lagi peduli apakah tindakan mereka sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.
Allah membenci orang yang sombong. Oleh sebab itu mereka akan direndahkan. Kesombongan dilukiskan seperti pohon aras dan tarbantin yang berdiri tegak seakan-akan siap menembus langit. Namun pohon itu dengan mudahnya dirubuhkan oleh kekuatan Allah. Manusia perlu mengingat, bahwa keberadaannya bagaikan hembusan napas belaka. Yesaya menegaskan bahwa semua kebanggaan dan milik mereka akan lenyap seketika.
Pada umumnya, kita berusaha mendapatkan apa yang dianggap paling berharga bagi dunia. Dengan segala usaha kita berusaha menggapainya, termasuk hal-hal yang di luar kehendak-Nya. Akibatnya kita melupakan kebaikan Tuhan. Pengalaman umat Israel menunjukkan bahwa mengandalkan manusia dan dunia akan membawa hidup ini berakhir dengan kekecewaan dan kebinasaan.
Doa: “Ampuni kami ya Allah, kalau kami sombong dan mengandalkan diri kami sendiri. Ajar kami untuk selalu mengandalkan Engkau dalam segala aspek hidup kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung