MENGGERUTU VS MENGUCAP SYUKUR
Yakobus 3:9-11
Yakobus 3:9-10. “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.”
Seorang pria memiliki kebiasaan menggerutu untuk makanan apa pun yang istrinya sajikan di meja makan. Namun, karena ia adalah seorang Kristen, ia terbiasa memanjatkan doa sebelum makan. Suatu hari, setelah kebiasaan menggabungkan gerutuan dan doa makan tersebut selesai, putrinya yang masih kecil bertanya, “Ayah, apakah Allah mendengar ketika kita berdoa?”
“Tentu saja, sayang,” jawabnya. “Ia selalu mendengar setiap kita berdoa.”
Putri kecilnya tertegun dan bertanya , “Jadi, apakah Ia mendengar apa pun yang kita ucapkan di sepanjang waktu?”
“Ya, sayang, setiap kata,” jawabnya. Ia mulai merasa senang dan mengira putrinya mulai tertarik tentang hal-hal rohani. Namun, harga dirinya langsung jatuh ketika Ia mendengar pertanyaan selanjutnya, “Jadi, Ayah, yang manakah yang Dia dengar? Gerutuan Ayah atau doa ucapan syukur sebelum makan?”
Kisah di atas menjadi perenungan kita hari ini, bahwa terkadang kita hanya menganggap doa ucapan syukur sebelum makan sebagai suatu ritual yang wajib kita lakukan, hanya karena kita adalah orang Kristen. Namun kita kehilangan esensi pengucapan syukur tersebut. Ketika makan, berapa banyak dari antara kita yang benar-benar bersyukur untuk makanan yang tersedia di depan kita? Untuk mereka yang menyediakannya? Dan berapa banyak orang di luar sana yang kesulitan hanya untuk makan sesuap nasi?
Hari ini marilah kita mengucap syukur dengan segenap hati atas berkat-berkat yang Tuhan sediakan dan janganlah menggerutu. Tuhan Yesus memberkati.
Doa: “Ampuni kami ya Allah, kalau kami kerap menggerutu dan mengeluarkan kata-kata yang buruk dari bibir kami. Kini kami mau lebih lagi mengucap syukur, karena Engkau sungguh amat baik. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung