MELUKAI DIRI SENDIRI
2 Samuel 3:22-37
Efesus 4:26. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”
Seekor ular memasuki gudang tempat kerja seorang tukang kayu di malam hari. Kebiasaan si tukang kayu adalah membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan dan tidak merapihkannya. Secara kebetulan ular itu merayap di atas gergaji. Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut ular terluka. Ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan yang bertubi-tubi menyebabkan mulutnya luka parah. Marah dan putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhirnya untuk mengalahkan musuhnya. Ia lalu membelit dengan kuat gergaji itu. Belitan yang menyebabkan tubuhnya terluka amat parah, akhirnya ia pun mati binasa. Kisah diatas mungkin ilustrasi saja. Namun bacaan Alkitab hari ini mencatat tentang orang yang mendendam dan akibatnya.
Yoab, panglima Daud dendam kepada Abner, panglima perang Saul. Abner membunuh Asael, Adik Yoab, dalam sebuah pertempuran. Yoab bukan saja tidak mau mengampuni tetapi berusaha membalas dendam. Apa yang dilakukan Yoab adalah hal yang tidak pantas, sehingga raja Daud mengutuki perbuatan Yoab (2 Samuel 3:29).
Di saat marah, kita ingin melukai orang lain. Setelah semua berlalu, kita baru menyadari bahwa yang terluka lebih parah sebenarnya diri kita sendiri. Banyaknya perkataan yang terucap dan tindakan yang dilakukan saat amarah menguasai, sebanyak itu pula kita melukai diri kita sendiri. Tidak ada musuh yang tidak dapat ditaklukkan oleh cinta kasih. Tidak ada permusuhan yang tidak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tidak ada batu keras yang tidak dapat di pecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari diri kita.
Dendam, benci, curiga, pikiran negatif apa pun itu, sebenarnya bagaikan ular yang membelit gergaji, yang bisa terus menerus menusuk dan membakar batin kita sendiri. Latihlah setiap saat untuk memaafkan, mampu dengan cepat melepaskan dan membuang sampah pengotor batin dan pikiran kita.
Doa: “Terima kasih Bapa kalau hari ini kami diingatkan untuk memaafkan dan tidak membiarkan kemarahan menguasai kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung