IMAN DI TENGAH KESULITAN HIDUP
Habakuk 3:1-19
Habakuk 3:19. “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.”
Habakuk pasal tiga menceritakan isi doa Habakuk kepada Allah yang menyatakan kegentaran dirinya. Pada saat itu bangsa Israel sedang dalam keadaan menderita karena dihukum oleh Allah. Habakuk sadar, bahwa segala kesulitan yang dialami bangsanya itu karena hukuman Allah akibat dari ketidaktaatan dan pemberontakan bangsanya kepada Allah. Namun, dalam doanya di tengah murka Allah, Habakuk selalu mengingat akan kasih setia Allah. Bagi Habakuk, kasih setia Allah dan belas kasihan Allah kepada bangsa Israel lebih besar daripada murka Allah. Suatu saat murka Allah akan surut, hal ini hanyalah soal waktu Allah.
Habakuk sangat yakin dengan Allah dalam beberapa hal, yaitu bahwa Allah pasti akan menyelamatkan dan melepaskan bangsa Israel dari cengkeraman bangsa-bangsa lain; hukuman Allah tidak akan memunahkan bangsa Israel; Kasih dan anugrah Allah yang memilih bangsa Israel tidak akan pernah pudar, meski pun bangsa ini sudah berbuat jahat dan kurang ajar di hadapan Allah.
Habakuk berkata dengan tenang, “Akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombol menyerang kami,” pada ayat 16. Meski pun segalanya nampak buruk, yang digambarkan dengan gagal panen, kematian ternak, Habakuk tetap memiliki hati dan iman yang mempercayai Allah, bahwa suatu saat Allah pasti akan membebaskan umat Israel dari penderitaan ini.
Iman seperti Habakuk inilah yang perlu kita tumbuhkan dan kembangkan dalam diri kita kepada Tuhan Yesus saat ini. Ketika kesulitan hidup yang menimpa kita karena kesalahan kita sendiri, maka jangan keraskan hati, rendahkan diri dan segera mohon ampun kepada Allah. Terimalah dengan lapang dada akibat-akibat yang ditimbulkan sebagai kesalahan kita. Dengan tetap berharap dan percaya, bahwa Allah pasti akan membebaskan kita dan memberi jalan keluar yang terbaik untuk kita semua.
Doa: “Ampuni kesalahan kami, ya Tuhan. Biarlah kami belajar dan tidak mengulanginya lagi. Dan kami mau tetap percaya akan kasih dan anugerah-Mu yang besar atas kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung