KETULUSAN
2 Korintus 9:7-8
Filipi 4:18b. “Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.”
Di suatu kota kecil di negeri Kincir Angin, ada seorang janda tua pembuat roti yang terkenal kelezatannya. Dia menitipkan roti buatannya itu di salah satu toserba di pinggir kota itu untuk dijual. Selain terkenal sebagai pembuat roti yang lezat, janda itu juga terkenal karena sikap kedermawanannya. Setiap malam ia membawa dua keranjang roti buatannya untuk dibagikan kepada para tunawisma di kota itu. Mereka selalu menyambut gembira kedatangan janda itu di tempat penampungan mereka, kecuali seorang pemabuk berandalan yang baru datang ke kota itu. Dia selalu bersikap kasar, bahkan seringkali membuang roti pemberian janda itu. Tetapi janda itu tetap ramah kepadanya.
Pada suatu malam, pemabuk itu tidak ditemukan berada bersama dengan para tunawisma yang lain. Ternyata ia ditahan di sel kantor polisi, karena ia kedapatan mencuri roti di toserba. Mendengar hal itu, segera saja ibu janda itu pergi ke toserba dan mengajak pemilik toserba itu ke kantor polisi untuk mendatangi si pemabuk.
Ibu janda ini berkata “Pak Polisi tolong bebaskan pemabuk itu demi kami. Kami membatalkan gugatan terhadap pemabuk itu.” Para polisi pun tidak bisa berbuat lain kecuali membebaskan pemabuk itu. Begitu dikeluarkan dari sel, pemabuk itu mengucapkan terima kasih kepada para polisi itu. Namun ketika melihat keberadaan janda tua itu beserta pemilik toserba, segera saja ia jadi beringas
“Ini semua gara-gara kalian…manusia serakah dan pelit!” Sergahnya dengan lantang sambil menunjukkan jari ke arah mereka berdua. Melihat hal itu, polisi komandan jaga segera saja memukul pemabuk itu dengan tongkatnya. “Ibu dan Tuan inilah yang telah meminta dan menanggung pembebasanmu!” Mendapat pukulan dan mendengar kata-kata polisi itu gemetarlah seluruh tubuh pemabuk itu.
Allah mau kita memberkati tanpa pertimbangan apa pun. Pelayanan memberi haruslah dengan hati, walau terkadang disertai pertaruhan harga diri.
Doa: “Seperti teladan-Mu, beri kami hati yang tulus tanpa agenda ketika kami memberi, ya Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung