DIA MERELAKAN ANAK-NYA
Yohanes 3:16
Yohanes 3:16. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Pengalaman menunggui anak sakit di rumah sakit, ternyata lebih ‘horor’ ketimbang menunggui orang dewasa. Bagaimana tidak? Terdengar erangan hingga jeritan silih berganti. Ada yang karena ditusuk jarum saat diambil sampel darahnya. Ada yang karena menolak minum obat. Sebagian lagi takut dengan para medis. Ada juga yang terus meronta meminta pulang.
Josa, anak kedua saya, yang harus menginap di rumah sakit karena dehidrasi mengalami hal serupa. Dia kelihatan tertekan setiap kali ada perawat atau dokter yang menghampiri. Beberapa kali mengamuk di tempat tidurnya dan terpaksa diikat kakinya pada pembatas tempat tidur. Adegan yang membuat saya sebagai ayah, tidak tega. Tetapi saya juga berada dalam ketidakberdayaan untuk menolong. Semuanya untuk kebaikan dan kesembuhan Josa.
Saat-saat menunggu semacam itu membawa saya kepada ingatan akan sebuah ayat yang saya kutip di atas. Bapa merelakan Sang Anak untuk mengambil rupa seorang manusia sebagai misi penyelamatan. Kristus, Sang Anak Tunggal, dikaruniakan Bapa kepada dunia yang berdosa agar siapa saja yang percaya kepada-Nya tidak binasa, sebaliknya menikmati kehidupan kekal. Kasih tak terbatas yang mendasari semua tindakan-Nya itu.
Betapa besar kasih-Nya yang merelakan Anak-Nya! Terlalu besar! Sementara saya berada di dalam ketidaktegaan saat melihat anak yang terbaring sakit, Bapa Sorgawi memberikan Anak-Nya menjadi korban penebus salah. dosa.
Demikianlah Natal, sebagaimana Paskah, menjadi pengingat bagi kita tentang pengorbanan. Kita bisa bersukacita menyenandungkan Gita Sorga Bergema karena ada landasan kasih yang rela berkorban. Kita dapat memanggil orang lain Hai Mari Berhimpun dan Bersukaria karena Sang Anak rela meninggalkan kemuliaan-Nya, turun menjadi manusia. Selamat Natal! (NK).
Doa: “Terima kasih untuk kasih-Mu yang luar biasa atas kami, yang pada hari ini kami rayakan. Sungguh kami bersyukur dan bersukacita. Bagi-Mu lah kini seluruh hidup kami, ya Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung