Kendati masih dalam keadaan yang lemah, namun mereka tidak kehilangan semangat, pada tengah malam Paulus dan Silas menaikkan doa dan pujian kepada Tuhan! Suatu suara yang keras yang terdengar oleh tahanan lain seperti suatu erangan/teriakan dari mereka yang telah terpukul. Lalu kemudian, ada gempa bumi yang mengguncangkan penjara! Tiba-tiba pintu terbuka, dan dengan menakjubkan, belenggu Paulus, Silas dan tahanan yang lain terlepas! Kuasa dahsyat apakah ini? Ini Kuasa Pujian & Penyembahan!
KUASA PUJIAN MASUK KE DALAM HADIRAT TUHAN
Paulus dan Silas mengetahui rahasia masuk ke hadirat Allah yang penuh kuasa melalui pujian. Pujian dan Penyembahan dari hati akan membawa ke dalam hadirat Tuhan yang begitu menyenangkan dan Tuhan untuk menyalurkan kuasa-Nya dalam hidup kita.
Perjanjian Lama menuliskan, “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” (Maz. 100:4). Sesuai dengan pengajaran Yesus, kehadiran-Nya akan tinggal pada orang yang percaya nama-Nya: “Karena di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat. 18:20). Berkumpul di dalam nama-Nya” berarti Yesus menjadi fokus, pusat kumpulan itu. Ia berada di sekitar, saat kita memuji dan menyembah. “kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”” (Ibr. 2:12).
APAKAH PUJIAN ITU?
Pujian berarti “memuji, bertepuk tangan atau memperbesar kuasa-Nya.” Untuk orang-orang Kristen, pujian pada Tuhan adalah suatu ungkapan pemujaan, menyembah dan memuliakan Tuhan. Sebagai suatu ungkapan dalam humbling, merendahkan diri kita dan memusatkan perhatian kepada Tuhan dengan ungkapan cinta, rasa syukur dan penyembahan. Pujian akan membawa roh kita ke dalam suatu puncak keakraban dan persahabatan antara kita dan Tuhan – itu memperbesar kesadaran kita tentang hubungan rohani dengan Tuhan.
Pujian membawa kita ke dalam dunia Roh dan ke dalam kuasa Tuhan. “Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu” (Maz. 89:15).
Ada banyak tindakan yang melibatkan pujian kepada Tuhan – ungkapan rasa syukur dan pemujaan lisan, bernyanyi, bermain instrumen, sorak-sorai, menari, mengangkat atau menepukkan tangan. Tetapi pujian benar bukanlah “melulu” gerakan ini. Yesus membicarakan kemunafikan orang farisi, yang hanya kegiatan luar dan bukan keluar dari hati. “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mat. 15:8). Pujian asli adalah sesuatu yang dinaikkan dengan kerendahan hati dan tulus hati kepada Tuhan dari dalam. Menurut kitab Injil, berbagai ungkapan pujian membawa berkat Tuhan. Kita menunggu dan rindu akan kehadiran dan kuasa-Nya di manifestasikan tengah-tengah kita “…penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian (Yoh. 4:23).
PUJIAN KEPADA TUHAN ADALAH LIFESTYLE / GAYA HIDUP
Seringkali, pujian kepada Tuhan adalah sesuatu yang banyak ditinggalkan orang di gereja; Bagaimanapun, pujian harus menjadi bagian dari lifestyle (gaya hidup orang percaya), sebagai bagian dari hidup doa sehari-hari mereka, di tempat kerja, di dalam mobil, di rumah, di tempat tidur atau di manapun; memuji Tuhan membawa kehadiran bersama dengan kuasa dalam pengurapan-Nya “… aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; pujian-pujian kepada-Nya tetap dalam mulutku (Maz. 34:2).
Pujian adalah suatu ungkapan iman, suatu deklarasi kemenangan! Pujian mengumumkan, bahwa kita percaya TUHAN dan TUHAN ada bersama kita dan bertanggung jawab atas keadaan kita (Rm. 8:28). Pujian adalah “mengorbankan” sesuatu yang yang kita miliki dan menawarkan kepada Tuhan, tidak hanya sebab kita merasa seperti itu, tetapi sebab kita percaya kepada-Nya dan ingin menyenangkan-Nya. ” Sebab itu marilah, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibr. 13:15).
Oleh: Pdt. Jantje Haans
GBI Pasir Koja 39 Bandung