Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” Kejadian 1:28
Melihat kehidupan ikan Salmon, membuka mata kita bagaimana harga untuk tetap melanjutkan keturunan. Setelah menjalani kehidupan di laut bertahun-tahun, ikan Salmon akan memulai perjalanan kembali ke tempat dimana ia dilahirkan yaitu ke sungai.
Setelah menempuh beratus-ratus kilometer dan melalui rintangan yang sangat berat; dikejar predator, bahkan kadang-kadang mereka harus berenang menanjak, melompat melewati air terjun dan bebatuan, menuju hulu sungai tempat terbaik mereka bisa meletakkan telur-telur mereka . Setelah perjalanan yang begitu heroik, mereka mati kelelahan. Semua jerih lelah itu terbayar ketika telur-telur mulai menetas dan menghasilkan ribuan ekor anak-anak Salmon yang siap untuk melanjutkan hidup kembali di laut, menjadi besar dan mengulang ritual yang sama setelah mereka dewasa .
Demi menghasilkan keturunan mereka membayar mahal, bahkan dengan nyawa. Perintah pertama kepada manusia setelah Tuhan memberkati mereka adalah supaya mereka beranak cucu dan bertambah banyak (“be fruitfull and multiply”, amplified Bible). Tuhan mau kita berbuah lebat (Yoh. 15:8) bahkan itu adalah ciri kita yaitu murid yang sejati. Berbuah lebat berarti menghasilkan banyak jiwa bagi Kristus. Menghasilkan keturunan rohani yang terus bermultiplikasi sampai kekekalan. Sama seperti ikan Salmon yang terus menerus melakukan apa yang telah dilakukan oleh induknya, Tuhan mau kita memuridkan dan memenangkan jiwa sama seperti Kristus. Setiap jiwa yang kita menangkan memiliki potensi. Kita tidak tahu apa yang Tuhan bisa kerjakan dalam hidup mereka setelah mereka lahir baru, mungkin mereka akan menjadi penginjil hebat, seorang pengusaha sukses, pendeta yang diurapi, politsi, pemimpin perusahaan, bupati, menteri, atau apapun yang tidak terbayangkan. Sama seperti benih yang ditanam akan menjadi pohon yang besar dan menghasilkan buah mungkin beribu-ribu dan tersebar menjadi pepohonan lagi. Demikianlah dampak dari misi dan memuridkan orang. Tuhan mau kita tidak hanya berbuah lebat dan bermultiplikasi tetapi juga Dia mau kita menaklukkan dan berkuasa (“subdue and have dominion”, Amplified Bible), Itulah sebabnya Tuhan Yesus memberi perintah agung agar kita menjadikan segala bangsa murid dan mengajar mereka (Mat. 28:18-19). Benih yang ditanam harus dipelihara dan dirawat agar bukan hanya bertambah banyak tapi juga berdampak besar. Sister Barbara (Margaret E. Barber) adalah seorang penginjil yang sederhana di China, tidak banyak orang yang dia menangkan disana selama masa pelayanannya, tetapi orang-orang yang dia menangkan menjadi berkat bagi jutaan orang di daratan China bahkan bagi seluruh dunia. Namanya adalah Wachman Nee dan Witness Lee. Dua orang ini mempersiapkan gereja sebelum komunisme akhirnya menghancurkan gereja dan memporak porandakan kekristenan disana. Melalui buku yang dia tulis, jutaaan orang China bisa bertahan melewati masa-masa penganiayaan dan terus bertumbuh dan berkembang bahkan memengaruhi orang-orang keturunan China di perantauan. Sister Barbara tidak pernah membayangkan dua anak muda yang sederhana yang dia layani menjadi raksasa rohani yang jadi berkat bagi bangsa-bangsa. Setiap misi dan penginjilan yang kita lakukan adalah menabur benih, kita tidak tahu mana yang akan berkembang mana yang tidak, tapi bagian kita adalah tetap menabur, Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Oleh: Pdt. Simon Irianto
GBI Pasir Koja 39 Bandung