ENGKAULAH MERPATIKU
Matius 10:16
Matius 10:16. “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
Alkitab menuliskan tentang burung merpati berpuluh kali, itu artinya merpati sangat layak dijadikan contoh oleh orang-orang percaya. Pada peristiwa air bah Nuh, burung merpati dipakai Allah sebagai lambang perdamaian antara Allah dengan manusia. Merpati yang dilepaskan Nuh untuk kedua kalinya pada akhir peristiwa air bah kembali dengan membawa pucuk daun zaitun di paruhnya. Kemudian untuk selanjutnya burung merpati dengan daun zaitun dipakai sebagai lambang perdamaian dunia.
Merpati dikenal karena kesetiaan kepada pasangannya yang merupakan pasangan sehidup semati. Ketika sepasang burung merpati dipisahkan mereka akan saling mengeluarkan bunyi agar dapat terdengar oleh pasangannya. Oleh sebab itu merpati juga digunakan sebagai simbol kekudusan, sehingga dalam Kidung Agung Salomo melukiskan kekasihnya sebagai seekor merpati: “Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku . . .”
Dalam Perjanjian Baru, Allah menggambarkan keintiman dan kekudusan juga dengan burung merpati. Itu sebabnya ketika Tuhan Yesus dibaptis terlihat Roh Kudus dalam rupa seekor burung merpati turun ke atas-Nya. Ada suara dari langit yang menyatakan, bahwa Yesus adalah Anak Bapa. Ada keintiman dan kekudusan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Yesus telah kembali naik ke sorga, namun seperti janji-Nya DIA meninggalkan Roh Kudus sebagai Penolong bagi setiap orang yang mau percaya kepada-Nya. Roh Kuduslah yang akan membimbing kita untuk bisa mampu berjalan sesuai kehendak-Nya agar tetap dapat hidup dalam kekudusan. Untuk itu, kita perlu memiliki sifat-sifat seekor merpati yang tulus, setia dan kudus, tanpa itu, mustahil Roh Kudus mau berdiam dalam kehidupan kita. (NK).
Doa: “Biarlah hati kami selalu tulus, setia dan kudus, agar Roh-Mu dapat bekerja melalui dan di dalam hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung