LIDAH DAN TELINGA SEORANG MURID
Yesaya 50:4-11
Yesaya 50:4. “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.”
Dalam kitab Injil, kita melihat ketaatan Yesus orang Nazaret. Yesus ke Yerusalem untuk menggenapi misi-Nya yaitu mati di Yerusalem. Dia datang ke Yerusalem untuk mati, merupakan bukti nyata dari ketaatan-Nya. Dan ketaatan-Nya yang patut diteladani berkaitan erat dengan dua panca indra penting: lidah dan telinga.
Murid sejati, demikian Yesaya bernubuat, siap diasah. Setiap pagi siap dipertajam pendengarannya. Ia tidak hanya mendengarkan dirinya sendiri, kemauannya sendiri, juga suaranya sendiri. Lebih dari itu, ia perlu mendengarkan pihak lain. Mendengarkan merupakan sikap kemuridan. Pada titik ini, mendengarkan mengandaikan sebuah tindakan aktif, bukan sambil lalu. Mendengarkan berarti menyendengkan telinga kepada sesuatu yang dianggap penting.
Sebuah pemahaman memang dimulai dari pendengaran yang baik. Bahkan, ketika seorang murid membaca buku dalam hati, sejatinya dia sedang mendengarkan suaranya sendiri yang sedang membaca buku tersebut. Tanpa pendengaran yang baik kita tidak akan pernah mampu menyerap pengetahuan. Tentu ini berdampak besar pada pemahaman.
Sebagai orang Kristen yang notabene murid Kristus perlu mempunyai pemahaman yang baik seperti Kristus dengan menjaga lidah agar lidah kita dapat memberikan semangat yang baru, pendengaran kita setiap pagi dipertajam dengan mendengar firman Tuhan dan melakukannya sesuai ketaatan yang Tuhan kehendaki. Bagaimana lidah dan pendengaran kita hari ini?
Doa : Ya Tuhan Yesus, kuduskan lidahku dan pertajam pendengaranku dalam melakukan kehidupanku hari ini.
GBI Pasir Koja 39 Bandung