IMAN, PENGHARAPAN, DAN KASIH

Pemunculan tiga kata benda pada konteks ini: – iman, pengharapan, dan kasih – sekilas agak mengejutkan. Kata “pengharapan” selama ini tidak muncul di pasal 13. Walaupun kata “iman” sudah muncul di ayat 2b, tetapi “iman” di sana jelas mengarah pada karunia iman (bdk. 12:9a). Mengapa Paulus perlu menyinggung tentang iman, pengharapan, dan kasih di ujung pembahasannya di pasal 13?

Dengan menyertakan iman dan pengharapan dalam diskusinya, Paulus sedang memasukkan ide baru sebagai penekanan atau klimaks bagi seluruh pembahasan di 1 Korintus 13. Kasih bukan hanya lebih utama daripada karunia-karunia rohani. Kasih bahkan lebih utama daripada hal-hal lain yang juga sama-sama esensial dalam kekristenan. Walaupun iman, pengharapan, dan kasih sangat berkaitan erat, ketiganya masih dapat dibedakan dari sisi kepentingan. Kasih tetap yang terbesar. Betapa luar biasanya kasih bagi orang-orang Kristen!

Ketidakterpisahan antara iman, pengharapan, dan kasih dapat dilihat dengan jelas dari fakta bahwa ketiganya berkali-kali muncul secara bersamaan dalam Perjanjian Baru (misalnya Rm. 5:1-5; Gal. 5:5-6; Kol. 1:4-5; 1 Tes. 1:3; 5:8; Ef. 4:2-5; Tit. 2:2; Ibr. 6:10-12; 10:22-24; 1 Pet. 1:3-9).

Dalam beberapa teks, dua atau tiga kata ini bahkan secara eksplisit dikaitkan begitu erat. Sebagai contoh, Ibrani 11:1 berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Dari sini terlihat bahwa iman dan pengharapan mustahil untuk dipisahkan. Hubungan antara iman, pengharapan, dan kasih sangat kompleks. Hal ini tidak mengagetkan, karena masing-masing kata mengandung arti yang luas. Misalnya, kata “iman” (pistis) bisa merujuk pada ajaran kekristenan (Kol. 2:6-7), keyakinan terhadap sesuatu (Kol. 2:12; Yak. 2:1), salah satu jenis karunia rohani (1 Kor. 12:9a; 13:2b), maupun kesetiaan (Gal. 5:22).

Arti mana yang tepat harus ditentukan oleh konteks pemunculan kata tersebut.

Di 1 Korintus 13:13 Paulus tampaknya sedang memikirkan keterkaitan secara umum dan mendasar. Iman adalah titik awal dan dasar dari keberadaan kita sekarang. Pengharapan adalah sesuatu yang masih ada di depan, tetapi pasti kita akan dapatkan dari Allah. Kasih selalu ada di tiap titik. Keselamatan rohani kita – dari awal sampai akhir – tidak mungkin dipisahkan dari iman, pengharapan, dan kasih.

Tidak hanya dalam hal keselamatan rohani secara umum, kemutlakan iman, pengharapan, dan kasih juga terlihat pada situasi-situasi khusus tertentu dalam kehidupan orang percaya. Karena itu, penderitaan bukan hanya tidak meruntuhkan iman dan pengharapan; penderitaan justru akan menguatkan pengharapan orang percaya (Rm. 5:3-4).

Bahasan firman Tuhan di GBI Pasirkoja 39 Bandung tentang iman, pengharapan dan kasih sepanjang bulan Juli 2017 mencakup: 1) Pentingnya hidup dalam kasih (1 Kor. 13:1-13); 2). Kasih yang tidak berpura-pura (Luk. 10:25-37); 3). Pengharapan adalah sauh yang kuat (Ibr. 6:17-19); 4). Keep Calm and have faith (Menjadi Tenang dan percaya) (Mrk. 5:25-34); 5). Living in Faith (Hidup Dalam Iman) (Fil. 1:12-26).

Dengan firman Tuhan tersebut, kita memahami bahwa iman, pengharapan, dan kasih sebenarnya tetap ada selama-lamanya sampai kekekalan, tetapi dalam arti yang lebih baik. Dalam dunia ini iman, pengharapan, dan kasih kita selalu berada dalam tantangan dan ketegangan. Dalam kekekalan nanti, ketiganya akan dipraktekkan dalam kenikmatan belaka. Di mana Kasih merupakan karya kekal yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Kita tidak perlu ditantang untuk menunjukkan semuanya itu. Dengan sukarela, sukacita, dan kekudusan, kita akan menghidupi iman, pengharapan, dan kasih kita.

Soli Deo Gloria. Tuhan Yesus memberkati dan menyertai kita dalam Kasih-Nya! Amin.

 

Check Also

Pesan Gembala April

PASKAH

Oleh: Pdt. Dr. A. L. Jantje Haans (Gembala Sidang) Rangkaian Paskah yang dikenal dengan Tri …