MODERNISASI GUDEG
Efesus 4:15
Efesus 4:15. “…tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”
Sebuah stasiun televisi swasta menayangkan tentang perkembangan kuliner gudeg. Salah satu merk yang diekspose adalah Gudeg Yu Djum. Salah satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam mengembangkan bisnis kuliner adalah soal rasa yang harus konsisten. Di tengah-tengah maraknya bumbu instan yang berkembang di pasar, Gudeg Yu Djum tetap memilih menggunakan bumbu yang diracik konvensional. Meskipun lebih memakan waktu dan tenaga, tetapi dengan cara itulah citarasa gudeg yang khas dapat terpelihara. Juga dalam memasak menggunakan tungku berbahan bakar kayu.
Selain menjaga kualitas rasa, salah seorang cucu Yu Djum yang juga meneruskan bisnis ini menyatakan bahwa pengembangan kemasan perlu dilakukan. Ada konsumen dari luar kota, bahkan luar negeri, yang ingin menikmati gudeg dengan membawanya pulang. Selama ini gudeg adalah makanan yang hanya bisa bertahan dalam 2-3 hari saja. Masalah ini diatasi dengan mengemasnya di dalam kaleng. Gudeg tidak hanya dapat dinikmati di pincuk daun pisang atau piring, tetapi sudah masuk dalam kemasan modern.
Kata kunci yang bisa kita pelajari dari kisah di atas adalah: perkembangan. Berkembang tidak berarti tercabut dari akarnya, tetapi juga bukan berarti menutup diri sama sekali dari kemajuan. Keduanya harus berjalan seimbang.
Sebagai murid Kristus, kita dituntut untuk bertumbuh ke arah Dia. Murid sejati berdiri di atas pondasi Yesus Kristus dan menjalani proses kemajuan. Dasar kuat yang kita miliki tidak boleh ditinggalkan karena justru dari sanalah sumber pertumbuhan itu berasal. Mari kita maju, selangkah demi selangkah, hingga mendapatkan kesempurnaan kita sebagai murid. (NK).
Doa: “Kami mau terus bertumbuh sampai kami mengalami kepenuhan Kristus. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung