PENTINGNYA KOMUNITAS

Untitled-2Paul Yoggi Cho mengatakan: “Saya sangat menekankan kepada pentingnya arti mempertahankan kelompok sel sebagai sarana dalam lingkungan gereja Anda untuk melebarkan sayap ke luar. Salah satu masalah yang ditemui sekelompok orang-orang yang mengadakan himpunan pertemuan secara tetap dan teratur ialah bahwa mereka menjadi tertanam kaku di dalam lingkungan kelompok mereka sendiri.”

Dalam pelaksanaan “CARE CELLS” (kelompok-sel), mudah sekali kelompok ini mengalami penyelewengan dari tujuan mengapa Care sel diadakan. Ada kelompok yang menjadi besar dan sudah waktunya untuk dibagi dua, tapi tidak mau karena mereka sudah akrab satu dengan yang lain. Ada juga anggota yang begitu terikat dengan pemimpinnya. Pada awal pembentukan kelompok-sel, Yonggi Cho-pun menemui masalah ini. Dia menjelaskan kepada jemaatnya tentang maksud utama diadakannya kelompok sel, yaitu untuk menginjili para tetangga, kaum kerabat dan orang-orang yang dekat di sekitar mereka dengan jalan menyediakan tempat agar mereka dapat membawa tetangga dan teman-teman mereka kepada Kristus.

Jangan menjadikan CARE CELLS/ kelompok-sel/sebuah komunitas yang hanya sebagai wadah untuk persekutuan, pengakraban dan pembinaan saja. Suatu kelompok-sel yang hanya bersekutu saja, tapi tidak menjangkau (kurang menjangkau) orang baru, akan mengalami beberapa masalah dalam kelompoknya.

Masalah pertama: Para anggota akan merasa bosan karena ketemu dengan orang yang itu-itu saja. Suasana menjadi monoton. Bahan pembicaraan akan berulang lagi karena pengalaman hidup yang dibagikan “sudah habis.” Tapi kalau ada orang baru yang hadir, maka suasana menjadi segar dan tidak monoton. Paling tidak ada masalah baru yang akan dihadapi oleh kelompok tersebut, dan ini akan membuat para anggota kelompok bergairah. Indahnya saling berbagi tanggung jawab (Kis. 2:44-47). Mereka yang sudah cukup lama dalam kelompok, mempunyai PR untuk memuridkan orang yang baru.

Sewaktu saya memberikan ceramah tentang gereja-sel, biasanya ada orang yang menanyakan hal ini: “Apa tidak bosan, kalau kita setiap minggu sekali bertemu dalam kelompok-sel?” Dan saya menjawab, “Ya, pasti akan bosan, kalau tidak ada hal yang baru dalam kelompok tersebut!” Tapi kalau tujuan utama kelompok-sel (yaitu menjangkau jiwa baru) benar-benar dilaksanakan, maka kebosanan ini tidak akan ada. Mengapa? Setiap orang yang kita jangkau pasti mempunyai masalah masing-masing yang unik. Saat kita berhubungan dengan orang tersebut, kita terlibat untuk ikut membantu atau mendoakan orang tadi, dan menggairahkan terjadinya saling melayani (Gal. 5:13-15). Pengalaman kita akan bervariasi dan tidak monoton. Oleh sebab itu, sehat tidaknya suatu kelompok-sel, terutama dilihat dari: “Apakah ada jiwa-jiwa baru yang datang ke dalam kelompok-sel tersebut?”

Masalah kedua yang timbul dari kelompok yang kurang menjangkau orang lain yaitu: mereka menjadi terlalu kental, sangat akrab, kompak dan solid. Memang, bisa jadi, mereka tidak menjadi bosan dengan kelompok yang anggotanya tetap tadi, karena kebetulan para anggotanya “cocok” satu dengan yang lain. Mereka sangat akrab, satu dengan yang lain sangat menikmati persekutuan itu. Tanpa mereka ucapkan atau tanpa disadari para anggotanya menjadi enggan untuk menerima orang baru yang hadir dalam kelompoknya. Kehadiran orang baru, bagi kelompok yang sudah akrab dan kompak ini malah membuat acara persekutuan yang semula “asyik” menjadi terganggu. Sebaliknya, orang baru itupun akan tersisih dan tidak bisa merasa nyaman dalam kelompok tadi. Akibatnya orang yang baru ini akan merasa risih dan keluar dari kelompok tadi. Kondisi yang terlalu akrab ini, menurut Peter Wagner adalah suatu penyakit yang dinamakan koinonitis (suatu persekutuan yang kurang sehat, karena munculnya perasaan tertolak).

Masuknya orang baru dalam suatu kelompok-sel adalah hal yang penting dan harus dilakukan. Inilah yang membedakan kelompok-sel dengan kelompok-kelompok yang lain seperti: KTB (Kelompok Tumbuh Bersama), Kelompok Pemahaman Alkitab, Persekutuan doa, Kelompok Kerja, dll. Kelompok- kelompok yang saya sebutkan ini tidak bisa dikatakan sebagai kelompok-sel karena kelompok ini tidak berkembang dengan menambah jiwa baru dan juga kelompok ini tidak membelah diri atau tidak bermultiplikasi.

Dengan masuknya orang baru dalam suatu kelompok-sel, maka terdapat suasana baru dalam kelompok-sel tersebut. Hal ini penting supaya kelompok tersebut tidak monoton dan membosankan. Tapi, hal yang lebih penting lagi yaitu: berlangsungnya proses pemuridan dalam kelompok tadi. Dapat saling memperhatikan dan mendorong dalam kasih Kristus (Ibrani 10:24-25). Seorang yang baru saja mengikuti pemuridan, apabila kepadanya tidak diberikan seseorang untuk mengajarkan apa yang ia kini sedang pelajari, maka ia pun tidak dapat belajar dengan gairah yang sama seperti jika ia mempunyai seseorang untuk dapat ia salurkan pengetahuannya itu kepada orang tadi. Dengan cara terus-menerus mendapatkan petobat-petobat baru, maka orang-orang yang baru dimuridkan tadi mendapat kesempatan untuk mendorong semangat dan mengajar seseorang lain yang lebih baru lagi daripada mereka sendiri. Dengan cara inilah proses “merampas mereka dari api yang membinasakan” (Yudas 22-23). Dapat terselenggara serta aktivitas pemuridan menjadi berjalan lancar. Yang dimuridkan maupun yang memuridkan, keduanya sama-sama bertumbuh dan bertambah.

Oleh: Pdt. Dr. A.L. Jantje Haans

Check Also

Pesan Gembala April

PASKAH

Oleh: Pdt. Dr. A. L. Jantje Haans (Gembala Sidang) Rangkaian Paskah yang dikenal dengan Tri …