Pengkhotbah 9:10
Pengkhotbah 9:10. “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”
Seorang pengusaha kaya terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring santai di samping perahunya, sambil mengudap makanan dan menyeruput kopi. “Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?’ tanya pengusaha itu. “Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini,” jawab nelayan.
“Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?” tanya pengusaha. “Untuk apa?” nelayan balas bertanya. “Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak”, jawabnya. “Dengan uang itu engkau dapat membeli mesin motor, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal, bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.”
“Selanjutnya aku mesti berbuat apa?” tanya si nelayan. “Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup”, jawab si pengusaha. “Menurut pendapatmu,sekarang ini aku sedang berbuat apa?” kata si nelayan puas.
Memahami makna berkat Tuhan dalam pekerjaan atau usaha, kadang memunculkan dua pola sikap yang berbeda pada kebanyakan orang. Di satu sisi, ada sikap yang sangat antusias mengelola berkat Tuhan dengan meraih sebanyak mungkin apa yang bisa dihasilkan. Di lain sisi, ada pandangan bahwa dalam mengelola berkat Tuhan tidak perlu ‘ngoyo’— belajar bersyukur dan puas atas apa yang dihasilkan. Manakah yang tepat?
Raja Salomo mengajarkan keseimbangan di antara kedua kutub ini: semangat produktif (‘kerjakan dengan sekuat tenaga’) dan juga sikap bersyukur atas apa yang ada (‘Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan’). Ia juga mengingatkan bahwa pada akhirnya semua kesempatan itu ada batasnya, yaitu kematian. Jadilah berhikmat dalam mengelola berkat Tuhan! (NK).
Doa: “Tuhan, ampunilah kami jikalau kami melalaikan setiap berkat yang Engkau anugerahkan. Bimbinglah kami untuk mengenal mana yang terpenting dan bersikap benar ketika kami menerima berkat-Mu.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
