1 Timotius 6:8-9
1 Timotius 6:8. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”
Mahatma Gandhi pernah berkata, “Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.” Dalam terjemahan bebasnya kurang lebih berarti: “Dunia dapat mencukupi kebutuhan tiap orang, tetapi bukan keserakahan tiap orang.” Gandhi bukan orang Kristen tapi dia tahu kebenaran soal bagaimana manusia harus hidup mencukupkan diri, seperti Paulus juga pernah berkata: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).
Firman Tuhan menganjurkan bahkan memerintahkan agar orang percaya merasa cukup, yaitu asal ada makanan dan pakaian, ini tidak dimaksudkan agar menjadi orang miskin atau menjadi penganut teologia penderitaan, tetapi lebih jauh agar tidak terbelenggu oleh berbagai keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki atau yang dunia sediakan. Dengan demikian orang percaya akan merasa cukup dan puas berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi selalu merasa belum puas berkenaan dengan keberkenanan di hadapan Tuhan.
Orang percaya yang telah lahir baru seharusnya tidak lagi mengingini apapun yang disediakan dunia, kecuali hal itu untuk kepentingan Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus menyatakan, bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang tetapi Anak manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Tuhan Yesus telah melepaskan kemuliaan-Nya dan mengosongkan diri sebagai manusia. Dalam kemiskinan tersebut Ia melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Gaya hidup seperti ini harus dikenakan oleh setiap orang yang mengaku bersedia mengikut Tuhan Yesus Kristus. Dengan gaya hidup tersebut seseorang tidak akan dapat diperbudak oleh dunia ini.
Akhirnya, hidup kekristenan harus menghasilkan suatu sikap, yaitu perasaan cukup dan puas terhadap segala hal. Hal inilah yang akan menghentikan nafsu keserakahan (keinginan daging dan mata) serta gila kehormatan (keangkuhan hidup). (NK).
Doa: “Bapa yang baik, ampuni kami kalau kami seringkali gagal bersyukur dan tak pernah merasa cukup atas semua yang kami sudah miliki dan nikmati. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
