Matius 6:19-24
Matius 6:20. “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”
Seorang pengacara kondang pernah ‘mempresentasikan’ hartanya kepada publik dalam sebuah tayangan televisi. Selain memiliki active income melalui kariernya di dunia peradilan, dia juga punya passive income melalui bisnis ruko yang dimilikinya. Di Jakarta saja, ia memiliki 200-an ruko yang ia sewa dan jual-belikan.
Suatu ketika, ia menuturkan bahwa dirinya adalah manusia 30 Milyar. Maksudnya, dari busana yang ia kenakan, perhiasan yang melekat, sepatu, dll bernilai 30 Milyar Rupiah. Fantastis! Ketika anak lelakinya berulang tahun, ia menghadiahinya dengan sebuah mobil Ferari seharga 7 Milyar. Saat putrinya berulang tahun juga, sebuah mobil Bentley Mulsanne seharga 9 Milyar diberikan sebagai hadiah. Total kekayaannya lebih dari 1 Trilyun.
Siapa yang tidak silau dengan harta kekayaan? Siapa yang tidak mau memiliki kelimpahan materi di dalam hidupnya? Semua orang menginginkannya. Hanya saja, ketika direnungkan lebih jauh, semuanya hanya bisa dinikmati dalam kesementaraan. Banyaknya harta itu juga tidak pernah memberi jaminan bahwa kebahagiaan menyertai secara otomatis.
Yang kerap terjadi justru sebaliknya, harta menjadi sumber bencana ketimbang berkat. Harta hanya menjadi sumber ‘ATM’ bagi rumah sakit, habis untuk membiayai pengobatan di masa tua. Uang yang diwariskan justru menjadi bahan rebutan anak-cucu hingga menimbulkan persoalan berlarut. Kekayaan yang dimiliki bisa lenyap sesaat karena dicuri atau dirampok. Harta yang tersimpan di bank pun bisa lenyap ketika banknya mengalami kebangkrutan.
Betapa rapuhnya tempat penyimpanan harta titipan Tuhan yang sering kita pilih. Bacaan ayat kita di atas mengingatkan bahwa tempat penyimpanan yang paling tepat adalah pada sumbernya, yaitu sorga yang kekal. Caranya? Dengan menggunakan harta sesuai prinsip sorga: menabur, menolong, memberi. (NK).
Doa: “Tuhan, hari ini aku mau belajar menggunakan segala berkat-Mu untuk sesuatu yang bernilai kekal. Ajarkan aku untuk menggunakan dan mengelolanya secara bijak. Biarlah nama-MU selalu dipermuliakan atas kehidupanku. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
