Renungan Harian (27 September 2016)

27KOPONG

Matius 6:5-15

Matius 6:7. “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.”

Alkisah seorang petapa sudah mencapai angka ke-sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Hanya tersisa satu kali lagi tugas berdoa ditunaikannya. Maka genaplah tekad seribu doa dipanjatkannya. Sehari suntuk ia berdoa. Tanpa bergerak, tanpa aktivitas lainnya. Mengosongkan pikiran dan terus meracaukan mantra doa. Diambilnya sebiji karet dari hutan, ditampungnya dalam bejana rotan. Begitulah seusai sehari berdoa dipanjatkannya. Tentu telah seribu biji akhirnya. Penanda tamatlah rangkaian seruan rohaninya. Dengan berharap sang dewa memuji ketekunannya itu, si Petapa mengangkat bejananya tinggi ke langit. Seraya ia berujar, “Demi baktiku sang dewa langit, perkenankanlah kidung doaku yang kini telah berujung seribu!”

“Baiklah.. Kini, pecahkanlah biji-biji yang ada padamu itu!” terdengar jawaban dari langit. “KRAAAKK!!” Tiap butir ditinjunya dengan kepalan tangan. Hingga terbelahlah seribu biji karet itu. “Apa yang kau lihat?” | “Serpihan kulit biji, wahai penguasa langit!” | “Seperti itulah arti seribu doamu bagiku! Kosong tanpa isi! Seruan tanpa makna!” Dan gundahlah hati si petapa.

Seperti itu pula kerap kali, mutu doa yang kita serukan ke hadapan Tuhan. Hanyalah seruan kosong bagai isi butiran biji karet. “Kopong”, begitu orang Betawi menyebutnya. Ingin diperkenan Tuhan, hanya agar berkat Tuhan segera kita raup. Doa kita bukan murni memuja Tuhan, bukan maksud mendatangkan hadirat-Nya.  Doa kita tak lebih hanya ritual “menjilat” Tuhan. Bagai memberi sesajian demi merayu para dewa. Orientasi doa kita bukanlah Kristus tetapi ‘aku’.

Kekristenan bukanlah agama, yang sibuk menjunjung ritual. Bagaimana kehidupan doa kita selama ini? Jujurlah pada diri kita sendiri. Ingat, tiada yang tersembunyi di hadapan Tuhan kita! (NK).

Doa: “Ampuni kami ya Allah, kalau doa kami hanyalah doa yang kosong dan hanya merupakan ritual belaka. Ajar kami untuk sungguh-sungguh berdoa dengan hati yang penuh tertuju pada-Mu. Amin.”

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …