1 Korintus 13:4-8
1 Korintus 13:4,7. “Kasih itu …menutupi segala sesuatu…”
Sepasang suami-istri datang kepada seorang konselor untuk meminta nasihat. Tak lama setelah mereka duduk, segera saja mereka mulai berbicara saling mengkritik satu sama lain. Ketika mereka akhirnya berhenti karena kehabisan napas, konselor menyarankan bahwa sekarang giliran mereka untuk saling bercerita mengenai semua hal yang baik, yang mereka lihat pada pihak lain. Ada keheningan.
Kemudian masing-masing diberi pulpen dan selembar kertas, dan diberitahu untuk menuliskan sesuatu yang patut dipuji mengenai pihak lain. Tak satu pun dari mereka menulis. Mereka berdua duduk dan menatap kertas. Setelah beberapa lama, sang suami mulai menulis sesuatu. Segera sang istri juga mulai menulis, dengan cepat dan gusar. Akhirnya, mereka berhenti menulis. Ada keheningan lagi.
Sang Istri menyodorkan kertasnya kepada konselor, namun didorong kembali kepadanya seakan mengatakan, bahwa sang istri sendirilah yang harus memberikan langsung kepada suaminya. Dengan enggan ia mendorong kertas itu melintasi meja. Sang suami mengambilnya dan ganti menyodorkan kertasnya ke arah istrinya. Masing-masing mulai membaca.
Konselor menyaksikan. Tak lama air mata meluncur menuruni pipi istrinya. Dia meremas kertas dalam telapak tangannya sambil menggengam erat-erat. Itu mengungkapkan betapa dia terharu dengan pernyataan spontan mengenai hal-hal baik yang dilihat suaminya pada dirinya. Seluruh suasana ruangan berubah. Tidak ada sesuatupun yang perlu dikatakan. Pujian menyembuhkan seribu luka. Suami dan istri meninggalkan ruangan sambil bergandengan tangan.
Berfokus pada kesalahan pasangan akan membawa kepada jalan penyelesaian yang tak kunjung tiba. Tetapi berfokus pada kebaikan yang patut dipuji, membuka jalan lebar perdamaian. (NK).
Doa: “Bapa, biarlah kasih Kristus terus memancar dari hidup kami kepada orang-orang di sekitar kami. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
