
Karena semakin yakin dengan kemampuan intelektual cucunya, Eunice mulai membaca karya dua penyair buta, Homer dan Milton. Mendengar kata-kata mereka yang menderita sepertinya mengilhami Fanny untuk menulis lebih banyak syair. Berkat neneknya, ia bisa membawakan puisinya di gereja dan pertemuan masyarakat. Meski banyak orang kagum pada kemampuannya, kebanyakan mereka percaya bahwa talenta Fanny yang luar biasa akan sia-sia lantaran ia tidak bisa melihat.
Sekali pun masih bersekolah, Fanny mulai sadar ia tertinggal dibanding teman-teman sekelasnya. Tidak mampu membaca atau menulis mengancam pertumbuhan intelektualnya dan membuatnya haus akan pengetahuan yang tidak bisa didapatkannya lantaran dia tidak bisa melihat.
Eunice merasakan frustrasi cucu perempuannya itu. Ia kemudian melipatgandakan usahanya untuk membuat cucunya mengenal dunia. Mereka berjalan-jalan ke hutan. Eunice memberi selembar daun sementara ia akan menggambarkannya secara detail. Pengalaman langsung semacam ini diulang-ulang. Fanny menyentuh berbagai hal dari batu hingga binatang, dari aliran air hingga pepohonan. Apa pun yang mereka lewati, Eunice akan menjelaskan dengan detail setiap pengalaman baru itu. Sekalipun demikian, sang nenek merasa hal itu tidak cukup.
Ketidakmampuannya untuk melihat semakin menjauhkan Fanny dari dunia. Semakin sedikit yang bisa dilakukannya di sekolah. Permainan yang dilakukan teman-temannya tidak dapat lagi disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan khususnya. Di dunia yang bagi kebanyakan anak nampak kian luas setiap hari, Fanny merasa dirinya semakin terjepit. Pada umurnya yang masih muda, ia bisa menyadari bahwa keajaiban kehidupan akan selamanya jauh dari jangkauan. Sekali pun mempelajari berbagai hal lebih banyak dibanding kebanyakan anak-anak buta seusianya, ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya tidak akan pernah bisa membaca, menulis, atau hidup bebas. Ia telah terbentur dan sama sekali tidak ada jalan keluar.
Suatu sore pada musim panas, selagi keduanya duduk di kursi goyang, Fanny yang saat itu berumur 11 tahun menanyakan kepada Eunice pertanyaan penting, “Apakah Tuhan mendengar doaku?”.
“Ya”, Sahut Eunice dengan cepat.
Sembari berlutut, dengan Eunice di sampingnya, Fanny dengan terbata-bata menaikkan permohonan sederhana, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku dapat belajar seperti anak-anak lain.” Doa inilah yang dipanjatkan dalam tiga tahun berikutnya.
Malam itu, dengan berurai air mata Eunice Crosby menuntun cucunya ke tempat tidur. Doa anak ini mengusik hatinya. Perempuan Calvinist yang tabah itu ingin percaya bahwa Tuhan mempunyai tujuan untuk cucu perempuannya yang buta. Namun, ketika ia sadar betapa dunia Fanny akan selalu terbatas, Eunice bahkan bimbang apakah tujuan itu bisa terwujud.
Beberapa bulan kemudian, Eunice tiba-tiba sakit. Umurnya baru 53 tahun, tetapi kerja keras dan penyakit telah membuatnya lebih tua darinya. Suara Eunice, yang mantap dan ekspresif, kini lemah dan tak berdaya.
Ketika ia merasakan ajalnya sudah tiba, Eunice memanggil cucu perempuannya. Mercy membawa gadis kecil itu ke samping tempat tidur neneknya. Dengan perlahan, memutar tubuhnya ke arah cucunya, mengusap wajahnya, dan melontarkan permintaan, yang nampak tidak lazim bagi mereka yang berkumpul di dekat tempat tidur itu. “Fanny, beri tahu nenek, akankah kamu bertemu nenekmu di rumah Bapa kita di Surga?”
Fanny menelan ludah, menghapus air mata, dan menjawab, “Dengan berkat Allah, aku akan bertemu nenek di Surga.”
Eunice merangkul cucu perempuannya, memeluknya untuk terakhir kali, kemudian kembali berbaring di tempat tidur. Beberapa jam kemudian, ia meninggal.
Bagi Fanny, ….bersambung
GBI Pasir Koja 39 Bandung