IMAN UNTUK MELAMPAUI PENGHARAPAN FANNY CROSBY – 03

Artikel Wanita Sept 26 copy

Meskipun guru-gurunya di sekolah tidak punya waktu untuk memperhatikan murid mereka satu persatu, mereka tidak dapat berhenti memperhatikan cara Fanny merekam semua yang mereka ajarkan. Ia cerdas, mengingat setiap detail pelajaran, dan mampu menceritakan hampir seluruh pelajaran secara lisan dan tulisan. Pada tahun ketiga, Fanny menemukan puisi.

Baris yang mengalir itu membangkitkan pikirannya pada keindahan yang tak mampu dilihat orang lain. Baginya, kata-kata itu hidup dan membawa Fanny ke berbagai tempat yang tak dapat dibayangkan oleh orang lain. Ketertarikannya pada irama dan sajak menjadi hampir seperti keharusan. Selama berjam-jam, gadis belia berumur delapan tahun itu bermain dengan kata, menyusunnya kembali ke dalam pola-pola yang memberi makna dan kedalaman pada hidupnya. Di suatu dunia di mana kebanyakan orang tidak tahu bagaimana berhadapan dengan orang buta, puisi menjadi alat baginya untuk memahami.

“Oh what a happy soul I am,
Although I cannot see;
I am resolved that in this world
Contented I will be
How many blessings I enjoy,
That other people don’t;
To weep and sigh because I’m blind,
I cannot, and I won’t.”
(“Oh betapa bahagia jiwaku
Walau aku tidak dapat melihat
Betapa nyaman dan bahagianya aku
Banyak berkat yang ku nikmati
Sementara orang lain tidak
Menangis dan mengeluh karena aku buta
Tidak akan dan tidak ingin ku lakukan.)

Di gereja, sekolah, dan toko, mereka yang bertemu Fanny kagum akan kemampuannya. Namun, mereka juga sadar bahwa di pedesaan New York, cacat mata akan menghalangi gadis ini. Sekalipun gadis cilik ini memberikan banyak kegembiraan, ia juga membuat mereka cemas. Masyarakat secara bersama-sama segera melakukan sesuatu untuk anak perempuan ini.

Setelah mengumpulkan uang, teman-teman keluarga Crosby mengirim Mercy dan putrinya ke New York City untuk bertemu spesialis mata terkemuka, Dr. Valentine Mott. Mott memeriksa anak perempuan itu, dan menggelengkan kepalanya. Kesedihan mewarnai suaranya saat ia berbisik kepada Fanny, ”Anak malang, aku khawatir kamu tidak akan pernah melihat lagi.”

Dokter kagum dengan tanggapan gadis itu. Ia tidak menangis, saat mendengar kabar itu, senyuman justru terukir di bibirnya. Gadis kecil ini meyakinkan Mott dan ibunya bahwa ia baik-baik saja, tak seorang pun perlu mengasihaninya. Meskipun matanya tidak bisa melihat seperti orang lain, ia masih bisa melihat dengan hatinya.

Bersambung…

Check Also

Artikel Wanita Okt 26 copy

IMAN UNTUK MELAMPAUI PENGHARAPAN FANNY CROSBY – 04

Artikel Wanita Okt 26 copy Karena semakin yakin dengan kemampuan intelektual cucunya, Eunice mulai membaca …