
I.Beriman Teguh Saat Dibentuk Roma 5:1-5; Matius 11:29-30
Sering kali kita senang berbicara tentang mujizat, terobosan, kemenangan, dan berkat. Tetapi tidak banyak orang suka berbicara tentang “proses.” Padahal justru di dalam proses itulah iman dibentuk. Emas tidak menjadi murni tanpa dibakar. Berlian tidak menjadi indah tanpa tekanan. Demikian juga hidup orang percaya. Tuhan sering kali mengizinkan tekanan, kesesakan, pergumulan, dan penantian supaya iman kita menjadi kuat dan dewasa.
1.IMAN YANG TEGUH DIMULAI DENGAN PERCAYA PADA RENCANA TUHAN
Roma 5:3 berkata: “…Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita…” Kalimat ini terdengar aneh secara manusia. Bagaimana mungkin seseorang bisa tetap bersyukur di tengah penderitaan? Karena orang percaya memahami bahwa Tuhan bekerja melalui proses. Banyak kali kita hanya ingin hasil instan. Tetapi Tuhan lebih tertarik membentuk karakter daripada sekadar memberi kenyamanan. Yusuf harus dijual dahulu sebelum menjadi penguasa Mesir. Daud harus melewati padang gurun sebelum duduk di tahta. Bahkan Yesus pun mengalami penderitaan sebelum kemuliaan.
2.IMAN YANG TEGUH DIBANGUN MELALUI KETEKUNAN DALAM PROSES
Roma 5:3-4 berkata: “…kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji…” Tuhan memakai proses untuk melatih ketahanan iman kita. Iman bukan hanya tentang percaya ketika semuanya baik-baik saja. Iman terlihat nyata ketika kita tetap bertahan saat keadaan tidak mudah. Banyak orang ingin iman yang besar, tetapi tidak mau melewati latihan iman. Padahal otot rohani dibentuk melalui tekanan. Semakin seseorang berjalan bersama Tuhan dalam pergumulan, semakin kuat imannya.
3.IMAN YANG TEGUH DIPERTAHANKAN DENGAN BERJALAN BERSAMA YESUS
Matius 11:29-30 berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,…”
Yesus tidak berkata hidup orang percaya akan tanpa beban. Tetapi Yesus berkata bahwa kita tidak memikulnya sendirian. Kuk pada zaman dahulu dipasang pada dua ekor lembu untuk berjalan bersama menarik beban. Ketika Yesus berkata “pikullah kuk-Ku,” itu berarti Yesus berjalan bersama kita. Inilah kekuatan orang percaya. Jangan lepaskan imanmu hanya karena proses terasa berat. Tetap percaya…karena Tuhan sedang bekerja.
PERTANYAAN DISKUSI KOMSEL
- Proses hidup apa saat ini yang paling diuji untuk tetap beriman?
- Mengapa Tuhan sering memakai proses untuk membentuk iman seseorang?
- Apa tantangan terbesar untuk tetap percaya kepada Tuhan di tengah kesesakan?
- Bagaimana cara praktis menjaga iman agar tidak lemah saat menghadapi tekanan hidup?
II.Iman dan Hikmat Yakobus 1:2-8, Amsal 2:4-6
Dalam hidup ini, tidak semua persoalan bisa diselesaikan hanya dengan semangat. Ada situasi yang membutuhkan hikmat. Ada keputusan yang tidak cukup hanya memakai perasaan. Dan ada banyak orang percaya yang punya iman kepada Tuhan, tetapi masih salah mengambil keputusan karena tidak berjalan dengan hikmat. Iman dan hikmat adalah dua hal yang harus berjalan bersama. Iman membuat kita percaya kepada Tuhan. Tetapi hikmat menolong kita berjalan benar bersama Tuhan.
1.IMAN MEMBUAT KITA TETAP PERCAYA DI TENGAH UJIAN
Yakobus 1:2 berkata: “…,anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,…” Ayat ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya terlihat ketika hidup tenang, tetapi justru saat menghadapi ujian. Semua orang bisa berkata percaya ketika keadaan baik-baik saja. Tetapi iman sejati terlihat ketika hidup sedang sulit. Iman membuat kita tetap percaya bahwa Tuhan bekerja sekalipun keadaan belum berubah.
Namun sering kali saat menghadapi masalah, manusia mudah panik dan mengambil keputusan yang salah.
2.HIKMAT MENUNTUN KITA MEMILIH JALAN YANG BENAR
Yakobus 1:5 berkata: “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,…” Ini menunjukkan bahwa hikmat adalah kebutuhan setiap orang percaya. Bahkan orang yang beriman tetap membutuhkan hikmat. Mengapa? Karena hidup penuh pilihan. Karena itu orang percaya harus belajar meminta hikmat. Amsal 2:6 berkata: “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat,…”
3.IMAN DAN HIKMAT HARUS BERJALAN BERSAMA
Yakobus 1:6 berkata: “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang,…” Ayat ini menegaskan bahwa hikmat diterima melalui iman. Artinya, ketika kita meminta hikmat kepada Tuhan, kita juga harus percaya bahwa Tuhan sanggup menuntun hidup kita. Banyak orang meminta petunjuk Tuhan, tetapi hatinya penuh keraguan. Akibatnya mereka tetap berjalan menurut kehendaknya sendiri.
Dalam hidup ini kita tidak cukup hanya memiliki semangat rohani. Kita juga membutuhkan hikmat surgawi. Mintalah iman yang teguh. Dan mintalah hikmat yang dari atas. Sebab ketika iman dan hikmat berjalan bersama, hidup kita tidak hanya menghasilkan sesuatu yang baik menurut manusia, tetapi sesuatu yang benar di hadapan Tuhan. Amin.
PERTANYAAN DISKUSI KOMSEL
- Apa perbedaan antara iman dan hikmat?
- Mengapa orang percaya tetap membutuhkan hikmat dari Tuhan?
- Pernahkah mengambil keputusan terburu-buru tanpa meminta hikmat Tuhan? Apa akibatnya?
- Bagaimana cara praktis meminta dan memperoleh hikmat Tuhan setiap hari?
III.Iman Tanpa Perbuatan = Mati Yakobus 2:14-16; Ibrani 11
Banyak orang berkata dirinya percaya kepada Tuhan. Banyak orang mengaku memiliki iman. Tetapi pertanyaannya adalah:Apakah iman itu benar-benar hidup? Karena iman yang sejati bukan hanya ada di mulut, tetapi terlihat dalam tindakan hidup sehari-hari.
Yakobus berkata dengan sangat tegas: “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Artinya, iman yang hidup pasti menghasilkan tindakan nyata.
1.IMAN SEJATI BUKAN HANYA SEKADAR PENGAKUAN
Yakobus 2:14 berkata: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?”
Perhatikan kata: “mengatakan.” Artinya ada orang yang hanya pandai berkata-kata tentang iman, tetapi hidupnya tidak mencerminkan iman itu. Iman sejati terlihat dari perubahan hidup. Kalau seseorang sungguh percaya Tuhan, maka hidupnya akan berbeda.
2.IMAN YANG HIDUP AKAN TERLIHAT DALAM PERBUATAN
Yakobus 2:15-16 berkata: “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari…”
Yakobus sedang menegur orang yang hanya pandai berkata: “Tuhan memberkati.”, “Tuhan menolong.”, Tetapi tidak mau melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Iman sejati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi bergerak dalam tindakan nyata. Kalau kita percaya kasih Tuhan, maka kita juga harus belajar mengasihi.
3.IMAN YANG SEJATI TETAP TAAT SEKALIPUN BELUM MELIHAT
Ibrani 11:1 berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Iman berarti tetap percaya sekalipun mata jasmani belum melihat hasilnya. Dan iman seperti itu akan terlihat melalui tindakan ketaatan. Abraham adalah contoh yang luar biasa. Ketika Tuhan memanggilnya keluar dari negerinya, Abraham taat. Ketika Tuhan menjanjikan keturunan, Abraham tetap percaya. Bahkan ketika diminta mempersembahkan Ishak, Abraham tetap taat. Mengapa? Karena Abraham percaya bahwa Tuhan tidak pernah gagal. Inilah iman yang hidup. Sebab iman tanpa perbuatan adalah mati. Tetapi iman yang hidup akan menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan.
PERTANYAAN DISKUSI KOMSEL
- Apa arti “iman tanpa perbuatan adalah mati”?
- Apa perbedaan antara iman di mulut dan iman yang hidup?
- Dari tokoh iman dalam Ibrani 11, siapa yang paling menginspirasi? Mengapa?
- Dalam hal apa Tuhan sedang melatih untuk melangkah dalam iman?
IV.Sikap Pantang Menyerah 2 Timotius 1:6-7; Bilangan 14; Yosua 1:8-9
Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah merasa lelah, kecewa, bahkan ingin menyerah. Ada doa yang belum dijawab, pergumulan yang tidak kunjung selesai, dan tantangan yang terasa terlalu besar. Kadang kita berkata:“Tuhan, saya sudah tidak kuat.”, “Tuhan, kenapa jalan hidup saya begitu berat?”, “Tuhan, apakah saya masih bisa melewati semuanya?” Tetapi firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa orang percaya dipanggil bukan untuk mudah menyerah, melainkan tetap berdiri dalam iman.
Iman bukan berarti hidup tanpa masalah. Iman adalah kemampuan untuk tetap percaya dan tetap melangkah meskipun menghadapi rintangan besar.
1.IMAN MEMBUAT KITA BERANI MENGHADAPI TANTANGAN
2 Timotius 1:7 berkata: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ketakutan bukan berasal dari Tuhan. Memang tantangan hidup itu nyata. Masalah keluarga nyata. Tekanan ekonomi nyata. Kegagalan dan penolakan juga nyata. Tetapi Tuhan tidak mau kita dikendalikan oleh rasa takut.
Bangsa Israel melihat raksasa di Tanah Kanaan lalu menjadi tawar hati. Mereka berkata: “Kita seperti belalang.” Padahal masalah terbesar mereka bukan raksasa itu, tetapi hati yang kehilangan iman. Sering kali yang mengalahkan kita bukan keadaan di luar, tetapi ketakutan di dalam hati. Iman membuat seseorang mampu berkata: “Masalah ini besar, tetapi Tuhan saya lebih besar.”
2.TUHAN MENGHARGAI KETEKUNAN DAN KESETIAAN
Bilangan 14 menunjukkan bahwa sebagian besar bangsa Israel memilih bersungut-sungut dan menyerah. Mereka sebenarnya sudah melihat mujizat Tuhan: laut terbelah, manna turun dari surga, tiang awan dan tiang api menyertai mereka. Tetapi ketika menghadapi tantangan baru, mereka kehilangan iman. Akibatnya mereka gagal menikmati janji Tuhan. Sebaliknya Yosua dan Kaleb tetap setia dan percaya. Kaleb berkata: “Kita akan maju dan menduduki negeri itu.” Inilah sikap pantang menyerah yang lahir dari iman.
3.KEKUATAN UNTUK PANTANG MENYERAH DATANG DARI FIRMAN DAN PENYERTAAN TUHAN
Yosua 1:8-9 berkata: “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini… kuatkan dan teguhkanlah hatimu…” Ketika Yosua menggantikan Musa, tugas yang dihadapinya tidak mudah. Ia harus memimpin bangsa yang besar dan menghadapi banyak peperangan. Tetapi Tuhan memberikan dua kunci: 1. Berpegang pada firman Tuhan, 2. Percaya kepada penyertaan Tuhan. Inilah rahasia kekuatan orang percaya.
PERTANYAAN DISKUSI KOMSEL
- Tantangan apa yang paling sering membuat ingin menyerah?
- Apa yang membedakan sikap Yosua dan Kaleb dengan bangsa Israel lainnya?
- Mengapa firman Tuhan penting untuk menjaga iman tetap kuat?
- Bagaimana cara praktis tetap setia kepada Tuhan di tengah proses yang berat?
GBI Pasir Koja 39 Bandung