Renungan Harian (09 Juli 2016)

09KEKRISTENAN SEJATI

Yakobus 3:13-18

Yakobus 3:17. “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Dunia, dalam beberapa tahun terakhir, telah kembali ke semacam era barbarisme. Sebagaimana penerapan nilai-nilai kekristenan telah menurun, maka kekasaran dan kekerasan pun meningkat. Tetangga bertengkar dengan tetangga. Perkelahian menjadi persoalan utama di sekolah dan tawuran antar geng motor menyajikan sebuah ancaman serius di kota kita. Ayah dan ibu bertengkar sehingga terjadi perpecahan keluarga. Pemerintah dan wakil rakyat pun seolah tidak mau kalah untuk melengkapi fenomena ini dengan konflik yang tidak berkesudahan.

Mengapa dan bagaimana semua hal ini mewabah dalam kehidupan sosial bermasyarakat kita? Hal ini karena kita melupakan Tuhan. Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Berbahagialah orang yang lemah lembut; sebab mereka akan memiliki bumi (Mat. 5:5).”  Saya kerap melihat, bagaimana orang yang sulit dan kasar yang kemudian membuka hatinya dengan iman, menerima Kristus sebagai Juruselamat, berubah menjadi lembut, sabar dan pribadi yang penuh kasih dan penyayang.

Satu-satunya cara untuk mengubahkan dunia adalah dengan memulainya dari diri kita sendiri. Kekristenan sejati bicara tentang kehidupan yang diubahkan lewat pengenalan akan Pribadi sang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus. Anda dan saya tidak cukup hanya menjadi percaya kepada-Nya tetapi juga harus hidup di dalam pimpinan-Nya. Dan itu artinya hidup sesuai dengan nilai-nilai kebenaran firman Tuhan yang telah ditulis di dalam Alkitab.

Saat kita ramah dan baik hati, akan sulit bagi orang lain untuk terus membenci kita. Saat kita mengampuni, konflik pasti terakhiri. Dengan kita hidup menerapkan prinsip-prinsip firman Tuhan, maka secara otomatis nilai-nilai tersebut pun akan juga mempengaruhi nilai-nilai hidup mereka yang ada di sekitar kita. Dengan demikianlah kita menjadi garam yang meski tidak terlihat tetapi dapat dirasakan dampaknya bagi dunia.

Doa: “Penuhi kami dengan kasih dan rahmat-Mu, ya Allah. Dengan demikian kami dapat membawa damai sejahtera di tengah dunia yang penuh dengan perselisihan. Amin.”

 

Check Also

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN

Renungan 31 Desember 2023

Ilustrasi Renungan 31 Desember 2023 TUHAN ADA DI SETIAP MUSIM KEHIDUPAN Renungan 31 Desember 2023 …