
Tujuh puluh sembilan (79) tahun sudah bangsa Indonesia Merdeka dari belenggu dan rantai ikatan kaum penjajah. Dalam refleksi kekristenan, kita memahami bahwa kebebasan sejati hanya ada di dalam Kristus (Gal. 5:1, 13: Yoh. 8:34-36), supaya kita mengalami dan menghidupi kebebasan di dalam anugrah-Nya, bahwasanya kemerdekaan memerlukan pengorbanan, dan Kristus telah mengorbankan diri-Nya, mati dan disalibkan sebagai harga pemutusan rantai perhambaan yang diperankan oleh Iblis.
Oleh sebab itu, kehidupan kekristenan yang sejati yang dilandasi Kasih Kristus kelak mencerminkan, hidup yang dibebaskan (1 Pet. 2:11-17), agar orang-orang atau umat yang telah mengalami kemerdekaan dalam Kristus, secara real harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, perspektif kekristenan bukan hanya sekedar slogan belaka, supaya di mana pun kita hidup di bawah kolong langit ini, kita dapat menjadi terang dalam kehidupan sehari-hari. Hiduplah sebagai orang merdeka, dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan untuk menyelubungi kejahatan, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
Tentu saja kebebasan dari belenggu dosa, yang dilakukan secara konsekuen oleh Yesus Kristus sebagai pahlawan Iman sejati itu, menghadirkan manusia baru, meninggalkan hidup lama yang menemui kebinasaannya yang menyesatkan (Efe. 4:16-24) dan hidup bersekutu dengan umat Allah (terutama di dalam Care Cells), baik di dalam hidup berjemaat atau kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan masyarakat pada umumnya, dalam terang dan kesaksian Injil yang memuliakan nama Tuhan Yesus Kristus.
Sebagai jemaat Kristen yang telah dibebaskan dan dimerdekakan oleh darah Yesus Kristus, tidak ada tempat sekecil apapun di ruang hati kita untuk memelihara kepahitan, yang akan dapat membusukkan tulang, sehingga dapat mengakibatkan putusnya hubungan dengan Tuhan, bahkan mendatangkan maut, kita harus bebas dari unsur-unsur kepahitan dan iri hati, segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari hidupmu serta kejahatan apa pun, sebaliknya hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu (Efe. 4:31-32).
Posisi kita sebagai orang percaya atau Jemaat saat ini menarik untuk dipertimbangkan, yaitu kita bukan hanya warga negara dunia ini, tetapi kita adalah warga Kerajaan Sorga, kita sudah belajar bahwa kita sudah dimerdekakan oleh karya Kristus di kayu salib. Kita sudah dimerdekakan oleh kuasa Injil, status kita ada yang dalam Kristus dianggap benar di hadapan Allah. Tetapi bagaimana saat kita dapat merefleksikan dan menghidupi kemerdekaan yang Allah telah berikan dalam hidup kita? Oleh sebab itu, Rasul Paulus mengingatkan dan meneruskan suratnya kepada orang percaya di Galatia, tentang bagaimana hidup sebagai orang merdeka dan berdiri teguh di dalam kemerdekaan yang Kristus telah berikan, dan tentunya sekali lagi kita juga belajar bagaimana kehidupan kita sebagai orang percaya menghidupi kemerdekaan yang Kristus telah berikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Mari kita songsong Kemerdekaan RI yang ke-79 ini dengan penuh ucapan syukur, sambil memuliakan Allah Bapa di sorga, sekali dimerdekakan Kristus, tetap merdeka selama-lamanya, Tuhan Yesus Kristus memberkati jemaat GBI Pasirkoja 39, Haleluya AMIN!
GBI Pasir Koja 39 Bandung