Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yohanes 21:17)
Dalam babak di tepi danau ini, Yesus membawa Petrus melalui suatu pengalaman yang akan menyingkirkan rasa bersalah akibat penyangkalannya. Petrus telah tiga kali menyangkali Yesus. Dan tiga kali pula Yesus menanyai Petrus apakah ia mengasihi-Nya. Ketika Petrus menjawab ya, Yesus meminta dia menggembalakan domba-domba-Nya.
Gambaran indah tentang Allah sebagai Gembala banyak terdapat di PL. Salah satu Mazmur berbunyi, “Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring Yusuf sebagai kawanan domba!” Mazmur 80:2. Sungguh indah bahwasanya Allah yang kekal, Sang Pencipta yang mahakuasa, merendahkan diri menjadi Gembala bagi umat-Nya.
Daud menjadikan hubungan itu sebagai hubungan pribadi di dalam Mazmur paling terkenal “Tuhan adalah gembalaku,” serunya gembira, “Takkan kekurangan aku” Mzm 23:1. Selanjutnya dikatakan kita tidak akan kekurangan karena makanan tersedia ketika Dia membawa kita ke rumput yang hijau, Dia membimbing kita di sepanjang jalan kebenaran, Dia menyertai kita di lembah gelap. Tidak mengherankan bahwa Daud bersaksi, “Pialaku penuh melimpah” Demikianlah berkat Allah tak terbatas.
Yesaya menambahkan pandangan lebih lanjut pada gambaran itu ketika berkata , “Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak- anak domba dipangku-Nya (Yesaya 40:11). Gambaran di sini menunjukkan pemeliharaan Tuhan yang lembut dalam mendukung umat-Nya diperjalanan mereka, dan betapa kasih- Nya yang besar melingkupi mereka.
Dalam PB, Yesus menggunakan gambaran serupa bagi diri-Nya. Dia berkata , “Akulah gembala yang baik. gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba- dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai beraikan domba-domba itu…Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku (Yoh. 10:11-14).
Perjanjian Lama melukiskan pemeliharaan Tuhan yang lembut dalam mendukung umat- Nya diperjalanan mereka, dan betapa kasih-Nya yang besar melingkupi mereka. Dan Perjanjian Baru menegaskan pribadi Allah dalam diri Yesus yang menyatakan dirinya sebagai “gembala yang baik”. Tidaklah aneh jika Yesus meminta kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya, dan mengambil teladan kepada Dia, untuk menjadi seorang gembala yang baik, dan bukan sebagai gembala upahan.
Kunjungan team misi GBI Pasko ke Tumbang Bemban, di mana Daud Lolo yang ditetapkan dan diutus menjadi gembala jemaat adalah salah satu penggembalaan. Pak Simon sebagai wakil gembala senior datang mengunjungi, memberi semangat dan mencari tahu apa yang sedang dibutuhkan domba-dombanya. Saya pribadi merasakan sukacita yang dipancarkan Daud dan kawan-kawan ketika team misi GBI Pasko tiba, bahkan ketika kami pamit undur, mereka melepaskan kami dengan rasa sukacita karena kehadiran Bapa gembalanya sudah cukup memberi semangat baru dalam melayani pekerjaan Tuhan yakni menggembalakan domba-domba yang Tuhan percayakan kepadanya.
Ada rasa saling membutuhkan diantara kita yang diberi tanggungjawab untuk menggembalakan domba-domba milik Tuhan. Pak Jantje dan pak Simon sebagai gembala senior GBI pasko membutuhkan perhatian dan penggembalaan yang baik dari BPD Jabar dan seterusnya kepada otoritas yang ada lebih diatasnya. Sekalipun secara rohani gembala kita adalah Tuhan Yesus, namun menyimak permintaan Tuhan Yesus kepada Petrus, maka siapapun sebagai gembala harus menggembalakan domba- dombanya dengan baik dan benar serta penuh rasa tanggung jawab (kasih).
Gambaran yang Tuhan Yesus sampaikan di Yohanes 10:11-14 ternyata bukan lagi peringatan namun sudah menjadi kenyataan. Dalam misi Kalteng, kami mendapatkan sebuah gereja (GBI) yang ditinggalkan gembalanya! Mereka meminta kepada kami untuk melayani minimal satu kali satu bulan dalam perjamuan kudus. Bahkan, gereja yang saat ini sudah dilayani dan dibapai GBI Pasko, ternyata mereka adalah jemaat yang menjadi “korban” karena ditinggalkan gembalanya dengan berbagai alasan- alasan yang dikemukakan tetapi intinya jelas bahwa upahan yang bukan gembala dan gembala yang memiliki domba domba itu memang ada .
Tuhan Yesus menanyai Petrus tiga kali apakah Petrus mengasihi-Nya. Pertanyaan pertama, Yesus bertanya tentang kasih yang rela mengorbankan diri (lebih dari mereka), pertanyaan kedua lebih fokus hanya kepada Petrus walau tetap tentang kasih yang rela berkorban (agape) dan pertanyaan ketiga, Yesus menanyakan tentang kasih yang lebih bersifat persahabatan (phileo). Yesus tidak menghendaki jawaban yang cepat dan dangkal, Yesus mempunyai cara untuk masuk ke dalam inti permasalahan dan Petrus harus menghadapi perasaan dan motif sebenarnya dari dirinya ketika Yesus berhadapan muka dengan dia.
Jemaat GBI Pasirkoja yang dikasihi Tuhan Yesus, apapun kontribusi yang telah Anda berikan dalam setiap pelaksanaan misi, mungkin kecil, namun ketahuilah hal itu tetap menyempurnakan apa yang Tuhan Yesus minta kepada Petrus. Jangan menjadi ragu dan bimbang dengan apa yang engkau dengar dan lihat di sekelilingmu. Tetap laksanakan dan nyatakan bukti bahwa engkau mengasihi, bahkan sungguh-sungguh mengasihi Yesus dan mau menjadi sahabat-Nya dengan cara memberi apa yang bisa dan pantas Anda berikan.
Team misi GBI Pasko tetap semangat dalam misi. Amin
Oleh Pdm.Dede Imawan
GBI Pasir Koja 39 Bandung