Maleakhi 4:1-6
Ulangan 7:1. “Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, …..dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu,”
Yebus adalah bangsa ke tujuh yang harus dihadapi oleh bangsa Israel. Arti kata “Yebus” adalah penolakan, tempat yang dinjak-injak. Ini adalah spirit yang berkuasa atas keluarga yang harus dilawan tanpa kompromi. Spirit Yebus yang merupakan spirit penolakan dan menginjak-injak dan akhirnya mengakibatkan kekerasan hati yang membuat manusia semakin sulit berhubungan dengan Tuhan saat ini banyak terjadi di keluarga-keluarga, bahkan di keluarga Kristen.
Malaeakhi 4:6 menyiratkan, bahwa ada terjadi keretakan dalam keluarga, sehingga pemulihan harus terjadi di dalam keluarga. Seperti yang tertulis dalam buku bulan keluarga GBI tahun 2015, saya pun menyakini, bahwa keretakan ini akibat dari spirit Yebus. Penolakan artinya: menolak untuk menerima, memperhatikan, tunduk kepada otoritas, mendengarkan, mengakui, memperoleh. Menolak sama dengan menuntut atau tertolak.
Pada akhir Alkitab Perjanjian Lama dinyatakan bahwa kedatangan Elia akan membawa pemulihan bagi keluarga. Keluarga harus diselamatkan dan dipulihkan fungsinya. Pemulihan keluarga dimulai dari pemulihan laki-laki untuk berfungsi sebagai bapa. Kerusakan dalam keluarga menjadi penyebab utama berbagai masalah sosial, emosional dan kesehatan fisik.
Maleakhi 4:6, menyatakan bahwa Allah akan memukul bumi jika tidak terjadi pemulihan hubungan orang tua dan anak. Oleh sebab itu, ijinkanlah Allah memulihkan keluarga Anda dan proses itu dimulai pemulihan para suami. Jika Anda seorang suami dan ayah, bertobat dan sungguh-sungguhlah hidup takut akan Tuhan! Jika Anda seorang Istri atau anak, doakan suami dan ayah Anda, agar ia hidup sesuai dengan firman Allah.
Doa: “Kami berdoa agar kiranya Roh Kudus-Mu menjamah hati para bapa agar mereka kembali kepada keluarga mereka. Kiranya para ayah di gereja kami menjadi ayah yang hidup takut akan Tuhan. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
