MERDEKA DARI KEMISKINAN DAN HUTANG (2)
2 Raja-raja 4:1-7
2 Raja-raja 4:1b. “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.”
Selama masih hidup di dalam dunia ini, kita tidak akan pernah lepas dari kebutuhan sandang, pangan dan papan. Banyak orang bekerja siang dan malam bahkan ada juga yang sampai berhutang demi membuat usaha yang baru atau untuk memperbesar usaha yang dikerjakan, dan berharap hasilnya dapat memenuhi kebutuhan hidup tersebut. Ironisnya, hidup yang terlilit hutang bisa saja menimpa kehidupan seorang beriman. Entahkah hal itu karena keputusan yang salah, atau karena suatu musibah. Teks Alkitab yang kita baca hari ini mengisahkan isteri seorang pelayan (nabi) Tuhan yang terlilit hutang karena musibah kematian yang menimba suaminya. Ada dua hal yang dapat kita pelajari dari kisah ini:
Pertama, terbuka. dalam 2 Raja-raja 4:1 mengisahkan bahwa isteri nabi mengungkapkan apa yang dialaminya kepada nabi Elisa, bahwa jika ia tidak sanggup melunasi hutang yang dimilikinya maka anaknya akan diambil menjadi budak bagi orang yang menagih hutang tersebut. Kita pun ketika mengalami hal yang sama, maka kita harus berani terbuka di hadapan Tuhan. Kita harus mengungkapkan secara jelas apa yang menjadi persoalan kita di hadapan Tuhan. Hal ini merupakan sebagai tanda bahwa kita tidak mampu menyelesaikannya sendiri dan butuh pertolongan Tuhan.
Kedua, mengikuti kehendak Tuhan. Dalam ayat 2-7 nabi Elisa sebagai alat Tuhan bertanya kepada perempuan itu, perihal apa yang masih ia miliki dan perempuan itu menjawab bahwa ia hanya memiliki sebuah buli-buli berisi minyak. Dan nabi Elisa menyuruh perempuan itu untuk mengambil bejana-bejana yang kosong sebanyak mungkin lalu menyuruh perempuan itu untuk menuang minyak itu ke dalam bejana-bejananya. Mujizat pun terjadi. Seluruh bejana terisi minyak. Hasil penjualannya dapat melunasi hutang-hutangnya termasuk membiayai kehidupan perempuan tersebut bersama dengan anak-anaknya.
Jadi langkah kedua yang harus kita lakukan di hadapan Tuhan selain terbuka adalah mengikuti kehendak-Nya. Saya percaya sejauh apa pun kita pernah gagal dalam berusaha dan bahkan mungkin sampai berhutang banyak, kita akan mampu melunasi hutang-hutang tersebut dan akan tetap hidup di dalam kelimpahan, asalkan kita mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita.
Doa: “Tuhan Yesus saya percaya, bahwa Engkau akan campur tangan dalam usaha/pekerjaan yang sedang saya kerjakan, sehingga semuanya berhasil dan segala kebutuhanku dapat terpenuhi. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung