
Renungan 18 Desember 2022, Bacaan Alkitab 2 Korintus 5:17-21.
PEMBAWA DAMAI
2 Korintus 5:17-21
Matius 5:9. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Apakah yang dimaksud dengan menjadi pembawa damai? Ini jelas tidak berarti orang yang menghindari konflik, lari dari masalah atau berpura-pura masalah itu tidak ada. Saat Anda menunda dalam menghadapi konflik, justru itu berbahaya karena akan membuat konflik menjadi semakin besar dan dalam. Bersikap mengalah dan membiarkan orang lain bersikap semena-mena kepada Anda, juga bukan merupakan hal yang tepat.
Membawa damai artinya secara aktif Anda berusaha mengakhiri konflik, berinisiatif untuk berdamai ketika hubungan hancur dan mengampuni serta memberikan kasih karunia kepada mereka yang telah melukai Anda. Membawa damai artinya terbuka untuk berekonsiliasi.
Rekonsiliasi artinya menghentikan sikap bermusuhan, bukan berarti Anda serta merta meniadakan masalah yang masih ada. Kita dapat tetap tidak sepakat tanpa permusuhan. Berfokuslah untuk memperbaiki hubungan terlebih dahulu, membuka ruang komunikasi, dan kadang kala ketika emosi mereda, perbedaan menjadi tidak lagi signifikan.
Hal lain yang perlu kita ketahui, adalah bahwa pengampunan itu berbeda dengan percaya. Kita mengampuni, itu harus. Namun untuk percaya lagi jika Anda telah dikhianati, tentu perlu waktu untuk mengembalikan kepercayaan itu.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menjadi pembawa damai: 1. Merencanakan pertemuan damai, tentu didahului dengan berdoa meminta pimpinan dan hikmat Roh Kudus. 2. Berempati dan dengarkan penjelasan mereka dengan sikap terbuka dan mau peduli. 3. Bahaslah masalahnya, bukan pribadinya sambil menyatakan kebenaran dalam kasih. 4. Usahakanlah untuk mencapai kesepakatan.
Dengan siapa Anda harus berdamai pada Natal ini?
Doa: “Tuhan Yesus, beri kami hikmat dan pimpin kami untuk mengusahakan perdamaian di bulan Natal ini. Amin.”
Bacaan Setahun: Amos 5-9; Wahyu 4-5.
Renungan 18 Desember 2022, Bacaan Alkitab 2 Korintus 5:17-21.
18 , 18 Desember 2022, 2022, Desember, Renungan Harian
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
Paulus mengatakan, bahwa ibadah yang sejati tak dapat dipisahkan dari konsep mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Banyak orang memahami ibadah dalam arti menghadiri kebaktian gereja, berdoa, menyanyikan pujian, dan memberikan uang persembahan, tidak salah. Lebih jauh ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita. Orang-orang Kristen daripada mempersembahkan sesuatu di luar diri mereka, sebaliknya, harus mempersembahkan tubuh mereka sendiri kepada Allah sebagai korban yang hidup, kudus, dan pantas. Yang dimaksudkan adalah suatu pelayanan rohani yang melibatkan seluruh kemampuan nalar mereka.
GBI Pasir Koja 39 Bandung