
Renungan 23 November 2022, Bacaan Alkitab 1 Samuel 1:1-20.
KRISIS IDENTITAS
1 Samuel 1:1-20
1 Samuel 1:7. Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.
Krisis ekonomi menjadi topik yang sering kita dengar hari-hari ini. Namun, ada sebuah krisis yang juga menyedihkan dan telah berlangsung cukup lama, yaitu: krisis identitas.
Krisis identitas adalah krisis dalam kehidupan seseorang ketika ia gagal memahami siapa dirinya dengan benar. Krisis identitas akan menyebabkan banyak konflik terjadi dalam kehidupan seseorang. Orang yang gagal memahami dirinya dengan benar juga tidak akan mampu untuk memahami orang lain.
Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengisahkan tentang kehidupan seorang wanita bernama Hana. Ia mengalami krisis identitas ketika ia meletakkan keberhargaan dirinya kepada kemampuannya untuk memiliki anak. Seolah hidupnya lebih baik atau lebih buruk karena apa yang dikatakan orang terhadapnya. Banyak orang saat ini pun sangat terganggu dengan komentar orang tentang dirinya, padahal keberhargaan kita tidak ditentukan oleh penampilan atau apa yang kita miliki.
Jangan membangun keberhargaan yang keliru dan jangan mencarinya di tempat yang salah. Kita berharga karena kita mengenal dan dikenal Tuhan. Tanpa ditambah apa pun, Anda dan saya sudah berharga karena Kristus sudah menebus kita dengan nyawa-Nya dengan sempurna.
Mari, bangun keberhargaan diri yang benar di dalam Dia. Bukan apa kata orang tetapi apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Maka Anda akan dapat berelasi baik dengan orang lain, memiliki emosi yang stabil, penuh syukur, dan akhirnya dapat berfungsi maksimal seperti yang Allah telah rancangkan atas hidup Anda.
Doa: “Tuhan Yesus, aku mau membangun keberhargaan diriku dengan merenungkan dan menghidupi perkataan-Mu setiap waktu. Amin.”
Bacaan Setahun: Yehezkiel 19-20; Ibrani 12.
Renungan 23 November 2022, Bacaan Alkitab 1 Samuel 1:1-20.
2022, 23, 23 November 2022, Renungan Harian, November
Untuk membaca artikel atau renungan yang lain silakan klik disini
Paulus mengatakan, bahwa ibadah yang sejati tak dapat dipisahkan dari konsep mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Banyak orang memahami ibadah dalam arti menghadiri kebaktian gereja, berdoa, menyanyikan pujian, dan memberikan uang persembahan, tidak salah. Lebih jauh ibadah yang sejati adalah mempersembahkan seluruh kehidupan kita. Orang-orang Kristen daripada mempersembahkan sesuatu di luar diri mereka, sebaliknya, harus mempersembahkan tubuh mereka sendiri kepada Allah sebagai korban yang hidup, kudus, dan pantas. Yang dimaksudkan adalah suatu pelayanan rohani yang melibatkan seluruh kemampuan nalar mereka.
GBI Pasir Koja 39 Bandung