
PERTEMUAN I
Prinsip Membangun Pernikahan yang Sukses (Kej.1:27-28; Ef.5:31-32)
Pendahuluan
Kehidupan kekristenan termasuk keluarga diumpamakan dengan sebuah rumah. Orang bisa membangunnya di atas pasir atau batu karang. Hanya rumah yang dibangun di atas batu karang yang akan bertahan saat badai ujian kehidupan datang. Rumah yang dibangun di atas batu karang adalah keluarga yang dibangun sesuai firman Tuhan.
Isi
Prinsip-prinsip yang diajarkan Alkitab untuk membangun pernikahan yang berhasil adalah sebagai berikut:
1. Ketaatan kepada firman Tuhan.
Menurut Kejadian 1:28, setiap pernikahan haruslah mengikuti pola diberkati – lalu beranak cucu melalui hubungan seksual. Artinya melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan. Kekudusan seksual bukan saja harus dijaga sebelum pernikahan, tetapi juga sesudah menikah. Allah menentang segala bentuk percabulan maupun perzinahan, termasuk perzinahan di dalam hati dan pikiran (pornografi). Pelanggaran terhadap kekudusan seksual merusak banyak keluarga. Ketaatan kepada firman selalu mendatangkan berkat atas keluarga.
2. Pasangan yang menikah harus melepaskan kebergantungan kepada orang tua mereka.
Laki-laki yang menikah harus meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya (Ef. 5:32). Ini adalah tindakan melepaskan kebergantungan kepada orang tua, entah secara ekonomi, emosional, bahkan spiritual. Kebergantungan adalah ciri kekanak-kanakan. Hanya anak-anak yang masih bergantung. Orang dewasa menjadi mandiri dan tahu mengurus dirinya sendiri. Hanya orang dewasa yang dapat menikah. Rumah tangga mengalami kesulitan karena masih bergantung secara ekonomi kepada orang tua, atau secara emosional di mana salah satu pasangan dikendalikan sepenuhnya oleh nasihat atau pendapat orang tua mereka.
3. Pernikahan adalah gambaran hubungan Kristus dengan gereja (Ef. 5:32).
Kristus berkorban dengan cara menyerahkan nyawa-Nya bagi gereja-Nya, demikian juga suami – ia harus memiliki roh yang rela berkorban untuk kesejahteraan istri dan anak-anaknya. Salah satu bentuk pengorbanan itu adalah bekerja keras mencari nafkah, sekaligus memberi waktu bagi istri dan anak-anaknya. Gereja adalah mempelai Kristus yang dipanggil untuk menghormati dan setia kepada Kristus. Demikian juga istri, dipanggil untuk menghormati dan setia kepada suami mereka.
Kesimpulan
Pernikahan yang sukses dibangun atas dasar ketaatan kepada firman Tuhan. Prinsip yang diajarkan firman Tuhan untuk keluarga adalah ketaatan dengan menjaga kekudusan seksual, melepaskan kebergantungan kepada orang tua, dan meneladani Kristus yang rela berkorban.
Pertanyaan Diskusi:
1. Ijinkanlah setiap anggota cell menceritakan salah satu pergumulan di dalam rumah tangga mereka masing-masing!
2. Nasihatilah setiap anggota cell agar sungguh-sungguh membangun kehidupan pernikahan mereka atas dasar ketaatan kepada firman Tuhan.
PERTEMUAN II
Peran Keluarga dalam Gereja – Belajar dari Keluarga Akwila dan Priskila (Kis.18:1-17)
Pendahuluan
Akwila dan Priskila adalah contoh tentang keluarga yang melayani Tuhan. Kita tahu, bahwa Gereja terdiri dari keluarga-keluarga. Keluarga-keluarga yang sehat secara rohani serta yang giat melayani akan membuat gereja menjadi kuat dan terus berkembang. Artinya, peran keluarga yang melayani sangat penting untuk kemajuan gereja.
Isi
Beberapa cara praktis yang dapat kita lakukan untuk menghormati pernikahan kita:
Keluarga yang berperan di Gereja terlihat melalui beberapa hal praktis berikut ini:
1. Menyediakan rumah sebagai tempat persekutuan atau care cell.
Akwila dan Priskila pada waktu itu membuka rumah mereka untuk pertemuan care cell sehingga jiwa-jiwa yang telah dimenangkan dapat mengadakan pertemuan rutin untuk dimuridkan, berdoa dan bersekutu, bahkan di kemudian hari rumah mereka menjadi gereja di kota Roma (Rm. 16:3-5). Bukalah rumah Anda untuk tempat pertemuan care cell.
2. Mengambil bagian dalam pelayanan sesuai dengan bakat, karunia, keterampilan ataupun talenta yang dimiliki.
Akwila dan Priskila pada waktu itu juga memberi dukungan dengan cara mendampingi Paulus dalam pelayanannya, ikut mengajarkan firman Tuhan kepada jemaat, ikut memuridkan jiwa-jiwa yang baru bertobat dan mendoakan mereka. Artinya apa saja yang bisa kita lakukan, kita bisa ikut berperan dalam gereja. Mis. Pemain Musik, Worship Leader, Pendoa, Pemimpin Cell, Kunjungan, Konseling, atau yang lainnya.
3. Memberi persembahan-persembahan.
Di dalam Alkitab, semua orang yang beribadah kepada Allah selalu mempunyai tindakan selain mempersembahkan hidup mereka juga mempersembahkan harta. Contoh: Daud untuk pembangunan Rumah Allah, janda miskin, gereja mula-mula di Kisah Para Rasul, Jemaat Makedonia dan Akhaya yang walaupun sangat miskin tetapi senang memberi persembahan untuk memberi dukungan kepada pelayanan pemberitaan Injil (misi) – 2 Korintus 8:1-5.
Akwila dan Priskila pun mempersembahkan harta mereka yang didapat melalui kegiatan usaha mereka sebagai tukang kemah untuk memberikan dukungan bagi pekerjaan pelayanan pemberitaan Injil. Anda pun dapat berperan dalam gereja dengan memberikan persembahan-persembahan.
Kesimpulan:
Karena gereja terdiri dari keluarga-keluarga, maka keluarga-keluarga yang mengasihi dan melayani Tuhan mempunyai peran yang sangat besar bagi kemajuan dan pertumbuhan gereja. Keluarga yang melayani Tuhan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan praktis, seperti membuka rumah untuk pertemuan care cell, terlibat langsung dalam pelayanan dan juga memberikan dukungan keuangan melalui persembahan-persembahan.
Pertanyaan Diskusi:
1. Tanyakanlah kepada setiap anggota care cell, apa cita-cita mereka bagi kehidupan keluarga mereka masing-masing?
2. Tanyakanlah, langkah-langkah praktis apakah yang mereka bisa lakukan untuk menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga yang melayani Tuhan!
PERTEMUAN III
Membangun Keluarga Bahagia (Ams.18:20-22; 31:1-31; Ef.5:22-33)
Pendahuluan
Kebahagiaan dalam keluarga tidak datang secara otomatis hanya karena kita beriman kepada Kristus. Kebahagiaan dalam keluarga haruslah diperjuangkan. Setiap anggota keluarga mempunyai peran agar kebahagiaan keluarga dapat terwujud. Bila hanya satu pihak saja yang berperan, kebahagiaan keluarga tidak mungkin bisa terwujud.
Isi
Beberapa cara praktis yang diajarkan firman Tuhan agar keluarga kita berbahagia:
1. Menciptakan sorga melalui perkataan-perkataan positif.
Karena hidup dan mati dikuasai lidah (Ams. 18:21), maka kebahagiaan keluarga juga berhubungan dengan bagaimana keluarga menggunakan lidah mereka. Suami harus royal dengan kata-kata pujian kepada istri. Istri harus royal dengan kata-kata yang menyemangati suami. Orang tua harus royal dengan kata-kata yang membesarkan hati, ucapan-ucapan berkat dan doa terhadap anak-anak. Dan anak-anak harus royal dengan kata-kata santun dan hormat pada orang tua mereka.
2. Setiap anggota keluarga harus berperan.
Suami harus berjuang keras untuk kesejahteraan keluarga, agar kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Bila kebutuhan keluarga tidak terpenuhi, maka keluarga akan menderita. Istri ikut membantu suami mendidik anak-anak bahkan dalam kasus tertentu bisa ikut bekerja untuk membantu suami. Anak-anak mengambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan di rumah: mencuci piring, menyapu, mengepel lantai, bila sudah bisa membantu masak, mencuci pakaian dan menyetrika.
3. Kehidupan yang saling (Ef. 5:22-33).
Setiap keluarga harus berupaya menciptakan suasana “saling”. Saling mengasihi, saling melayani, saling peduli, saling memperhatikan, saling mendoakan, saling menyemangati dan sebagainya. Suami mengasihi istri dan istri menghormati suami. Orang tua mengasihi anak-anak dan anak-anak menghormati orang tua.
Kesimpulan
Kebahagiaan keluarga tidak otomatis terjadi karena kita orang percaya. Kebahagiaan keluarga harus diperjuangkan bersama. Setiap anggota keluarga harus berperan untuk menciptakan kebahagiaan dalam keluarga mereka masing-masing dengan cara: menciptakan sorga melalui perkataan-perkataan positif dalam keluarga, melibatkan setiap anggota keluarga dalam tugas-tugas di rumah, dan kehidupan yang saling: saling melayani, saling mengasihi, saling peduli, saling memperhatikan dan sebagainya.
Pertanyaan Diskusi:
1. Doronglah setiap anggota cell untuk membangun kebiasaan mengucapkan hal-hal yang positif di dalam keluarga mereka masing-masing juga untuk belajar membagi-bagi tugas pekerjaan rumah kepada setiap anggota keluarga!
2. Doakanlah setiap anggota cell Anda agar mereka bersemangat membangun kebahagiaan keluarga mereka masing-masing!
PERTEMUAN IV
Warisan Keluarga Bahagia – Belajar dari Keluarga Abraham(Kej.12:7-8; 26:23-25; Ef.6:1-4)
Pendahuluan
Menurut Amsal 13:22 “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya.” Anak-anak akan menderita bila orang tua tidak mewariskan hal-hal baik di dalam kehidupan mereka. Menyediakan warisan bagi anak cucu adalah hal yang baik untuk dilakukan, termasuk bagi orang-orang beriman.
Isi
Melalui teladan Abraham, ada tiga warisan yang baik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka:
1. Warisan iman.
Abraham adalah orang beriman. Imannya terus bertumbuh melalui berbagai ujian di sepanjang hidupnya. Bahkan Abraham dikenal sebagai “Bapa orang beriman”. Iman Abraham akhirnya diwariskan dan diimpartasikan juga baik kepada anaknya Ishak maupun kepada cucunya Yakub. Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk menjalani hidup dengan iman dan mewariskan iman itu kepada anak-anak mereka. Semua tokoh iman di dalam Alkitab selalu mewariskan iman kepada anak-anak mereka, seperti Timotius yang menerima warisan iman dari neneknya Lois dan ibunya Eunike. Itu sebabnya orang tua harus mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka dan mengajak anak-anak mereka untuk tekun beribadah dan berdoa.
2. Warisan pendidikan.
Abraham juga mendidik anak serta semua orang yang ada di dalam rumahnya. Jadi warisan berikut yang perlu diberikan orang tua kepada anak-anaknya adalah pendidikan terbaik. Sangat menyedihkan bila di dalam Gereja ada keluarga yang tidak berpikir efek negatif yang berkepanjangan dari anak-anak yang tidak mendapat pendidikan layak. Karena itu, hai orang tua, “Saudara harus berjuang agar anak-anak saudara mendapatkan pendidikan yang layak.” Pendidikan adalah cara yang terbaik agar anak-anak kita mendapatkan pengetahuan dan berbagai keahlian untuk masa depan mereka kelak.
3. Warisan harta.
Harta juga adalah warisan yang patut juga diperjuangkan orang tua bagi anak-anak. Orang tua tidak boleh merasa tidak mampu mewariskan harta untuk anak-anak mereka kelak karena kondisi ekonomi yang pas-pasan sekarang. Sebab bila kita bekerja keras, kerja rajin, kerja cerdas dan dengan berkat Tuhan, keadaan ekonomi bisa berubah. Seandainya pun orang tua pada akhirnya tidak dapat mewariskan harta bagi anak-anaknya, setidak-tidaknya dua warisan di atas sebelumnya, yaitu: iman dan pendidikan diberikan kepada anak-anak.
Kesimpulan
Kehidupan rohani bukanlah bagian yang terpisah dari aspek kehidupan yang lainnya. Orang yang sangat rohani pun perlu mewariskan warisan yang baik kepada anak-anaknya, yaitu: iman, pendidikan dan harta. Atau setidak-tidaknya, orang tua mewariskan iman dan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya.
Pertanyaan Diskusi:
1. Ijinkanlah setiap anggota cell yang telah berkeluarga untuk menceritakan, apakah mereka telah benar-benar mempersiapkan warisan yang baik bagi anak-anak mereka!
2. Doakanlah setiap anggota cell supaya semuanya mengalami terobosan dalam setiap aspek kehidupannya!
PERTEMUAN V
Membangun Hidup Keluarga Kristen di Zaman Milenial (1Tim.4:11-13)
Pendahuluan
Setiap zaman mempunyai tantangannya sendiri. Zaman di mana anak-anak kita hidup sekarang disebut era industry 4.0, yaitu zaman di mana hampir segala sesuatu terhubung dengan internet (internet of things – IOT). Mereka disebut dengan generasi milenial yang lebih banyak memiliki hubungan melalui media sosial lewat dunia maya. Dari sejak kecil mereka telah akrab dengan teknologi smart phone (telepon pintar) dan mereka disebut generasi milenial.
Karena sering tenggelam dalam dunia maya, maka generasi milenial diperhadapkan kepada tiga tantangan serius, yaitu:
1. Finansial dan Gaya Hidup.
Generasi milenial sangat mudah mendapatkan informasi. Mereka bisa sangat mudah terpengaruh oleh trend: rambut, fashion, gaya hidup. Trend di berbagai negara langsung dapat diketahui hanya hitungan detik melalui smart phone. Bila tidak menguasai diri, ini bisa membangkitkan nafsu berbelanja hal-hal yang belum tentu mereka butuhkan. Apalagi metode berbelanjanya sangat mudah, hanya menggunakan 2 jempol. Akibatnya mereka bisa menjadi boros.
2. Kesehatan mental.
Interaksi sosial melalui dunia maya atau virtual bagaimana pun memiliki kekurangan. Di media sosial, sangat mudah orang menggunakan identitas samaran, dan terlihat baik padahal penipu, bahkan pelaku kejahatan. Kita sudah membaca hal itu diberita, bagaimana orang akhirnya tertipu, mengalami kejahatan melalui dunia maya. Hubungan palsu di dunia maya memberi dampak negatif terhadap mental.
3. Pornografi, kejahatan kemanusian, narkoba.
Karena sangat mudah mengakses segala sesuatu, generasi milenilal dapat juga terjerat pada konten-konten pornografi dan bila tidak hati-hati bisa ditawarkan narkoba, atau bahkan menjadi korban human trafficking (penjualan atau perbudakan manusia dan ekploitasi seksual).
Isi
Bagaimana generasi milenial dapat menghadapi tantangan tersebut? Melalui: 1 Timotius 4:11-13 ada tiga hal yang dapat dilakukan:
1. Tekun membangun diri melalui firman Tuhan.
Generasi milenial harus dididik untuk mempunyai disiplin membangun diri di atas firman Tuhan, karena hanya firman Tuhan yang mempunyai kuasa melepaskan mereka dari yang jahat.
2. Tekun beribadah.
Ibadah memberikan kekuatan rohani kepada generasi milenial, karena ibadah mengandung kuasa untuk mengubahkan kehidupan. Dengan ibadah, generasi milenial juga mempunyai komunitas yang sehat dalam kehidupan mereka.
3. Tekun melayani.
Dengan terlibat melayani sejak muda, generasi milenial terbiasa mempergunakan waktu dan talenta mereka untuk hal-hal yang berguna.
Kesimpulan
Agar generasi milenial kuat menghadapi tantangan pada zamannya ada tiga hal yang harus mereka lakukan: tekun membangun diri melalui firman Tuhan, tekun beribadah dan tekun melayani.
Pertanyaan dan Penerapan
Berdoalah sungguh-sungguh untuk anak-anak anggota cell Anda atau anggota cell generasi milenial agar Tuhan menolong mereka menang dalam semua tantangan hidup yang mereka alami.
GBI Pasir Koja 39 Bandung