Kejadian 1:26-28
Ulangan 22:5. “Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.”
Dari zaman dulu, kasus LGBT (lesbian, gays, bisex, transgender) bukanlah hal yang baru. Jelas Alkitab mencatat kisah kota Sodom dan Gomora. Pada zaman post-modern ini, perbuatan LGBT bukanlah hal yang “tabu”. Orang-orang mulai terbuka dan menerima akan keberadaan LGBT. Dengan demikian dosa mulai dianggap lumrah. Kisah-kisah nyata orang yang terlibat LGBT, tidak dianggap bersalah. Seorang yang terlibat LGBT, dengan terbuka tanpa malu, menyatakan keadaannya. Diperparah dengan pernyataan, bahwa apa yang mereka lakukan bukan suatu yang salah. Mereka menyakinkan diri mereka sendiri, bahwa mereka diciptakan seperti itu. Mereka seakan menyalahkan Tuhan salah menciptakan mereka. Misalnya seorang homoseks menyatakan bahwa mereka adalah laki-laki tapi jiwa wanita mereka dalam tubuh seorang laki-laki, jadi mereka menyakini kalau mereka adalah wanita. Kemudian mereka menyukai sesama laki-laki. Hubungan yang rusak seperti ini mulai diterima masyarakat, dilegalkan negara dan mereka mulai menuntut gereja untuk turut melegalkannya.
Begitulah gencarnya pekerjaan setan untuk menyangkal kedaulatan Allah. Dosa dibuat indah dan nikmat, dan masuk logika untuk dibenarkan. Dalam perkara LGBT, Kitab Kejadian mencatat Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Menurut gambar Allah diciptakan laki-laki dan perempuan. Suatu perpaduan yang sempurna, yang diberkati Allah untuk beranak cucu.
Sebagai orang Kristen kita memiliki iman kepada Allah pencipta. Allah yang menciptakan laki-laki dan perempuan. Tidak ada alasan bagi kita untuk membenarkan atau sedikit bertoleransi dalam perkara LGBT. Ini bukanlah penyakit atau kelainan kejiwaan, namun ini adalah pelanggaran terhadap kedaulatan Allah. Ini adalah dosa. Sebab itu kita harus menjaga diri kita dan anak-anak kita dari pengaruh jahat yang semakin berkembang. Setiap pelanggaran dan dosa, harus kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah pencipta.
Bagaimana sikap kita terhadap mereka yang terjerumus LGBT. Tentu saja kita membenci perbuatan yang menjijikan itu, namun kita harus berdoa agar mereka mendapatkan jamahan Roh Kudus dan bertobat. Pertobatan LGBT perlu belasan kasihan kita dalam doa. Dosa tidak bisa diselesai hanya dengan nasehat dan khotbah, tetapi jamahan Roh Kudus yang bekerja melalui doa kita. Dosa ini mengikat jiwa dan Iblis bekerja di dalamnya.
Doa: “Tuhan Yesus, kami berdoa bagi mereka yang masih tersesat dan terikat dengan dosa LGBT, biarlah Roh Kudus menjamah dan menginsafkan mereka akan dosa. Amin.”
GBI Pasir Koja 39 Bandung
