
VISI KELUARGA
Lukas 14:28-33
Amsal 29:18a. Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.
Kapal besar dapat dikendalikan oleh seorang nahkoda yang pandai memainkan kemudinya dengan mengikuti arahan kompas, ke mana nahkoda itu memainkan kemudi ke situlah kapal itu bergerak. Sama dengan sebuah kapal, maka sebuah keluarga harus mempunyai nahkoda dan arahan kompas dengan baik.
Sepasang manusia yang akan membangun rumah tangga diperlukan visi yang jelas. Visi keluarga itu harus ada kalau tidak ada, maka hidup keluarga ini akan menjadi liar, tanpa arah dan tanpa pertanggung jawaban. Webster mendefinisikan visi sebagai, “The ability to perceive something not actually visible” dengan “special ability” yaitu kemampuan yang khusus untuk menangkap sesuatu yang tidak nampak bagi penglihatan mata, persepsi intuisi dan kepekaan insting pada umumnya.
Suami istri membutuhkan visi dari Allah. Jika tidak ada visi, maka rumah tangga tersebut tidak mungkin mengerti apa yang harus dilakukan dan apa kehendak Allah baginya. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus demikian: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif … jangan kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” – Efesus 5:15-17.
Setelah suami Istri mempunyai visi keluarga dari Allah, maka visi tersebut perlu dikomunikasikan kepada anak-anak mereka. Orang tua harus memberikan gambaran yang jelas dalam hati dan pikiran anak-anaknya tentang masa depannya. Gambaran yang jelas dimaksud ialah berkaitan dengan karakter, sikap, integritas, perbuatan, pendidikan, pasangan hidup dan karir mereka di masa depan.
Pernikahan dan keluarga yang dibangun dengan visi yang jelas dari Allah, maka akan menikmati kebahagiaan.
Doa: “Ya Allaku, berikanlah visi-Mu dalam keluargaku agar keluargaku menikmati kebahagian. Amin.”
Bacaan Setahun: Lukas 18:18-30; I Korintus 6:1-11; Pengkhotbah 5:7-6:12; Yosua 17-18.
GBI Pasir Koja 39 Bandung