
Kisah Para Rasul 4 ini mengajarkan bahwa meskipun Allah telah memanggil Petrus dan Yohanes untuk menjadi saksi-saksi-Nya serta memperlengkapi mereka dengan kemampuan untuk menjalankannya dengan begitu baik, Petrus dan Yohanes tidak menyombongkan diri dengan kehormatan yang mereka terima itu. Sebaliknya, mereka pergi kepada teman-teman mereka. Selain itu, meskipun musuh telah mengancam mereka dengan keras, dan berusaha mematahkan semangat dengan menakut-nakuti mereka supaya tidak melakukan kembali tugas yang mereka terima, namun kedua rasul itu pergi kepada teman-teman mereka tanpa merasa takut dengan murka para pemimpin itu.
Kedua rasul tersebut menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka, supaya mereka mengetahui apa saja yang dapat diharapkan baik dari manusia maupun Allah mengenai kemajuan pekerjaan mereka. Selain itu, supaya mereka dapat mencatatnya dalam sejarah gereja, demi kepentingan generasi selanjutnya, terutama demi peneguhan iman kita menyangkut kebangkitan Kristus; bahwa Allah telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, dan meskipun imam-imam itu bersatu untuk menentangnya, namun mereka tidak dapat menyangkalinya. Sebaliknya, dengan cara yang licik mereka memerintahkan para rasul-rasul itu untuk tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.
Ketika mereka mendengar tentang kejahatan para imam terhadap kedua rasul itu, mereka lalu mengumpulkan teman-teman yang lain dan berdoa bersama. Di dalam seruan khidmat kepada Allah ini kita melihat, pemujaan mereka terhadap Allah, dengan satu hati, yang diperlihatkan dalam satu suara, mereka memuliakan Allah. Dari sikap dan tindakan ini kita dapat belajar untuk mengawali doa-doa kita dan juga deklarasi iman kita dengan menyatakan bahwa Allah adalah Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, serta segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Dalam seruan itu juga kita melihat bahwa para murid memperdamaikan diri dengan pemeliharaan Allah ketika itu dengan merenungkan ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang menubuatkan bahwa kerajaan Sang Mesias akan menghadapi perlawanan seperti ini sejak awal kerajaan itu ditetapkan di dunia (Kis. 4:25-26). Allah yang menjadikan langit dan bumi, tidak dapat kalah dari perlawanan apapun yang melawan rancangan-rancangan-Nya, karena tidak ada yang dapat bertahan menghadapi Allah. Bahkan, demikianlah yang tertulis, Allah telah berfirman atau menuliskan dengan perantaraan hamba-Nya Daud, haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci (Mzm. 2:1-2).
Jawaban penuh rahmat yang diberikan Allah atas seruan ini, bukan dalam bentuk kata-kata, melainkan kuasa. Allah memberi mereka sebuah tanda sebagai pengabulan doa-doa mereka (Kis. 4:31), ketika mereka berdoa goyanglah tempat mereka berkumpul itu. Allah menunjukkan hal ini untuk membangunkan dan membangkitkan pengharapan mereka, dan untuk memberi mereka tanda yang dapat dilihat bahwa benarlah Allah menyertai mereka. Allah memberi mereka Roh Kudus dalam kadar yang lebih besar, seperti yang mereka minta dalam doa. Mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lebih dari sebelumnya. Dengan demikian hati mereka tidak saja dikuatkan, tetapi mereka juga dimampukan untuk memberitakan firman Allah dengan berani, dan tidak perlu takut kembali dengan kesombongan manusia yang hendak mengancam mereka. Amin.
GBI Pasir Koja 39 Bandung