
ARTI BERSUKACITA YANG SESUNGGUHNYA
Yakobus 1:3-5.
Yakobus 1:2-3. Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Benarkah himbauan untuk tetap bersukacita ketika Anda terpaksa kehilangan pekerjaan, akibat penolakan Anda melakukan KKN dalam perusahaan merupakan aplikasi yang tepat dari pernyataan Yakobus ayat 2? Tidak sepenuhnya benar, bila hanya sebatas pengertian, bahwa orang Kristen harus meminimalkan dukacita yang dialaminya dan bersikap seolah-olah tidak pernah merasakan sedih, pedih, merintih, dan menangis.
Dalam menghadapi pencobaan dan pergumulan yang berat, orang Kristen harus hidup dalam dunia realita. Namun tidak terhanyut dalam perasaan yang menekan, gagal, dan suasana perkabungan. Mengapa demikian? Karena ada satu keyakinan, bahwa pencobaan yang dialaminya diijinkan Tuhan untuk menguji imannya dan mendewasakan kehidupan rohaninya (Ayat 3-4). Itulah sebabnya kata ‘berbahagia’ yang dipakai Yakobus bukan berdasarkan dukungan secara material tetapi kekayaan rohani, sehingga mampu menempatkan pencobaan sebagai batu uji iman (ayat 2-3). Pengenalan seseorang akan Allah menolong dia menyikapi pencobaan dengan hikmat.
Bagaimana dengan seseorang yang tidak memiliki hikmat? Yakobus pun membahas dalam suratnya (5-8). Orang yang kekurangan hikmat hendaknya datang kepada Sumber Hikmat, yakni datang kepada Allah sendiri. Pencobaan tidak kenal status sosial, baik orang yang kaya ataupun orang miskin. Penggambaran status yang sama rendah dan fana seperti bunga rumput yang segera layu (9-11).
Pencobaan dan pergumulan apakah yang sedang Anda alami saat ini? Bagaimana Anda memandang dan menyikapinya, sangat bergantung pada persepsi Anda tentang pencobaan tersebut. Renungkanlah kata-kata dalam kitab Yakobus yang kita baca hari ini.
Doa: “Tuhan Yesus, bantulah kami agar kami dapat merespon pencobaan yang menerpa kami dalam perspektif firman Tuhan. Amin.”
Bacaan Setahun: Markus 10:1-16; Kisah Para Rasul 21:27-40; Mazmur 102-103; Bilangan 5.
GBI Pasir Koja 39 Bandung