Bahan Care Cell Januari 2021

Oleh: Pdp.Dr. Ferry Simanjuntak

PERTEMUAN 1
Apa yang ada di Tanganmu?
(Kel. 4:1-17; Yoh. 6:1-15)

Pendahuluan
Pada dasarnya Allah menolong dan memberi mukjizat melalui apa yang telah Ia anugerahkan di tangan kita. Prinsip itu terlihat ketika Ia mengutus Musa untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir. Tuhan Yesus juga membuat mukjizat dari lima ketul roti dan dua ekor ikan yang ada di tangan seorang anak kecil.

Isi
Beberapa pelajaran rohani yang kita dapat dari kisah ketika Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki, yaitu:
1. Tuhan Yesus peduli atas kebutuhan kita.
Kepedulian Tuhan Yesus pada waktu itu ditunjukkan dengan menyembuhkan yang sakit (ay. 2), dan memberi makan yang lapar (ay. 9, 11). Karena itu, kita tidak perlu kuatir tentang kebutuhan-kebutuhan kita, karena kita percaya Tuhan Yesus tahu dan peduli terhadap kita.
2. Tuhan Yesus tahu bahwa kadang yang ada pada kita tidak sebanding dengan kebutuhan kita. Apalah arti lima ketul roti dan dua ekor ikan bagi orang sebanyak itu (ay. 9). Laki-laki dewasa saja berjumlah 5.000 orang, belum termasuk anak-anak dan perempuan (sekitar 20.000 orang). Tapi bila yang sedikit itu ada di tangan Yesus, maka akan terjadi mukjizat. Jadi kuncinya adalah, apakah yang sedikit itu di tangan kita atau kita serahkan ke tangan Yesus.
3. Ketika mukjizat diberikan, Tuhan Yesus mau kita bijaksana mengelolanya.
Mukjizat itu membuat semua orang makan dengan kenyang dan masih ada sisanya dua belas bakul (ay. 12-13). Tuhan Yesus memerintahkan mereka mengumpulkannya supaya jangan ada yang terbuang. Ini berarti setelah mukjizat dan kelimpahan datang, Tuhan mau agar kita mengelolanya dengan bijaksana dan bukan memboroskan atau menghambur-hamburkannya.
4. Mukjizat membuka mata hati kita
Setelah mukjizat itu terjadi, orang banyak menyadari bahwa Yesus yang berdiri di depan mereka adalah Mesias (ay. 14). Banyak orang justru melupakan dan meninggalkan Tuhan setelah mereka sukses, padahal berkat dan mukjizat diberikan dengan tujuan untuk menarik kita kepada persekutuan yang akrab dengan Tuhan dan mengasihi-Nya.

Kesimpulan
Tuhan Yesus tahu dan peduli terhadap semua kebutuhan kita. Ia bersedia memberikan pertolongan dan mukjizat. Ia bersedia memberkati dan melakukan mukjizat melalui apa yang ada di tangan kita. Serahkan semua kebutuhan kita pada Tuhan Yesus. Serahkan pula apa yang ada di tangan kita kepada Tuhan Yesus maka mukjizat pun pasti terjadi. Setelahnya, bijaksanalah mengelola berkat Tuhan dan melaluinya Tuhan mau saudara ditarik ke dalam persekutuan yang akrab dengan-Nya.

Pertanyaan dan Penerapan
1. Apakah saudara mempunyai kekuatiran tentang hal-hal tertentu akhir-akhir ini? Ceritakanlah!
2. Ajaklah setiap anggota cell mendoakan orang di sebelah kiri dan kanan mereka, dan mintalah supaya Tuhan memberkati apa yang ada di tangan mereka!

PERTEMUAN 2
Put God First (Mat. 6:19-24)

Pendahuluan
Setelah kita percaya, arah kehidupan kita harus berubah. Kalau dulu, orientasi hidup kita adalah untuk mengejar harta duniawi, sekarang arah hidup kita adalah hal-hal yang kekal. Dulu diri kita sendiri menjadi pusat kehidupan kita, sekarang Tuhan Yesus dan Kerajaan Allah adalah pusat kehidupan kita.

Isi
Matius 6:19-24 adalah penjelasan Tuhan Yesus tentang orientasi hidup orang percaya yang harus berubah.
1. Jangan mengumpulkan harta di bumi, tetapi kumpulkanlah harta di sorga (ay. 19-20)
Ini bukan berarti orang Kristen tidak boleh bekerja mencari uang/harta, sebab orang Kristen diperintahkan untuk bekerja keras. Ini bukan berarti bahwa orang Kristen tidak boleh kaya, ingat bahwa orang-orang beriman seperti Abraham juga diberikan kekayaan yang berlimpah-limpah. Yang dimaksud adalah jangan mengumpulkan harta bagi diri sendiri. Harta itu harus berguna bagi orang lain dan bagi kepentingan Kerajaan Allah (penginjilan, dan keselamatan jiwa-jiwa, penyebarluasan firman Tuhan).
2. Miliki cara pandang yang benar tentang kehidupan ini (ay. 22-23)
Cara pandang yang benar diistilahkan “mata yang baik” atau “mata yang terang”. Cara pandang yang salah diistilahkan “mata yang jahat” atau “mata yang gelap”. Cara pandang yang salah masih berhubungan dengan ayat sebelumnya, yaitu menjadikan pengejaran harta dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup. Karena itu, kita harus mengarahkan pandangan mata kita tentang hidup ini, pada hal-hal yang kekal (Kerajaan Allah, hal-hal yang kudus, yang mulia).
3. Kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (ay. 24).
Tuan berasal dari kata kurios yang artinya pemilik atau pengendali hidup kita. Yesus berkata kita tidak bisa mengabdi kepada mamon (uang) dan sekaligus mengabdi kepada Allah. Jika uang menjadi pengendali hidup kita, maka kita jadi budaknya, maka pada saat yang sama tidak mungkin kita menghambakan diri dan melayani Tuhan. Artinya: kita harus memilih salah satunya, Allah atau uang!
Matius pemungut cukai yang kaya dan Zakheus yang tamak akan uang akhirnya meninggalkan kekayaan mereka dan memilih untuk melayani Yesus. Pemuda kaya dalam Matius 19:21-22 memilih uang dari pada Yesus dan kehilangan hidup kekal.

Kesimpulan:
Tidak ada sikap netral di hadapan Tuhan. Kita harus memilih untuk mengasihi Dia atau dunia ini. Mengabdi kepada Allah atau kepada mamon. Pilihlah untuk mengumpulkan harta di sorga bukan di dunia ini. Milikilah cara pandang yang benar tentang kehidupan. Ingat! Kita tidak bisa mengabdi kepada mamon (uang) dan sekaligus kepada Allah.

Pertanyaan dan Penerapan
1. Manakah yang lebih banyak saudara pikirkan setiap harinya? Mendapat lebih banyak uang atau bagaimana supaya hidup saudara berkenan kepada Tuhan?
2. Menurut saudara, mengapa orang Kristen setelah percaya Tuhan, namun orientasi hidupnya tetap tidak berubah? Berilah kesempatan anggota cell untuk mengemukakan pendapatnya.

PERTEMUAN 3
Jaminan Pemeliharaan dan Mukjizat (Mzm. 23; Yoh. 10:1-2)

Pendahuluan
Dalam Alkitab, ada banyak gambaran tentang siapakah Allah bagi kita. Dalam Mazmur 23 dan Yohanes 10:1-2, Allah digambarkan sebagai gembala yang baik bagi orang percaya. Tuhan tidak hanya menggembalakan orang percaya secara kolektif, tetapi juga secara pribadi orang per orang. Sama seperti gembala yang juga mengurusi kawanan dombanya satu persatu.

Isi
Jika Tuhan adalah gembala kita, maka:
1. Ada jaminan pemeliharaan-Nya (ay. 1, 5)
Daud menyebut bahwa orang yang digembalakan Tuhan takkan kekurangan. Tuhan akan mencukupkan semua kebutuhan orang yang digembalakan-Nya (ay. 1-2). Rumput dan air adalah kebutuhan utama domba selain perlindungan. Jadi pasti ayat ini menggambarkan pemeliharaan Tuhan atas orang percaya. Karena itu, berilah dirimu digembalakan oleh Tuhan.
Jangan biarkan menggembalakan dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu digembalakan oleh dunia ini.
2. Tuhan akan memimpin hidup kita (ay. 3)
Kalau Tuhan memimpin, pasti kita tidak akan tersesat. Apa saja yang kita perbuat pasti berhasil. Karena itu, kita tidak boleh hidup sembarangan, kita harus sungguh-sungguh mencari tuntunan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita: rumah tangga, bisnis, pekerjaan, studi, pelayanan.
3. Tuhan menyertai sekaligus melindungi (ay. 4-6)
Penyertaan Tuhan diberikan di dalam setiap musim kehidupan. Termasuk saat kita mengalami “lembah kekelaman”, suatu gambaran tentang keadaan yang menakutkan, atau tidak menyenangkan.
Penyertaan Tuhan atau kehadiran-Nya dalam hidup kita juga sekaligus adalah wujud perlindungan-Nya. Sebab, ada banyak lawan yang menentang kita. Seperti domba yang memiliki banyak lawan (binatang buas, keberingasan alam), demikian juga orang Kristen.
Walaupun begitu kita aman, dan tidak boleh takut. Dan janji penyertaan-Nya itu diberikan seumur hidup kita (ay. 6) sampai kelak kita akan kembali ke rumah Tuhan (sorga).

Kesimpulan
Tuhan adalah gembala yang baik. Orang percaya seharusnya menyerahkan hidup mereka kepada penggembalaan Tuhan Yesus yang telah menebus mereka melalui kematian-Nya di kayu salib.
Jika Tuhan Yesus dijadikan sebagai gembala dalam kehidupan, maka saudara akan mengalami pemeliharaan-Nya. Tuhan akan menuntun saudara dan Ia akan membuat apa saja yang saudara perbuat berhasil. Tuhan pasti menyertai dan melindungi saudara seumur hidup.

Pertanyaan dan Penerapan
1. Siapa yang menggembalakan hidup saudara selama ini? Diri sendiri, dunia ini atau Tuhan?
2. Menurut saudara, apakah langkah-langkah praktis yang dapat saudara lakukan untuk menyerahkan hidup saudara pada penggembalaan Tuhan?

PERTEMUAN 4
Mengatasi Badai Bersama Kristus (Luk. 8:22-31)

Pendahuluan
Tuhan kadang mengijinkan badai datang dalam kehidupan kita. Yang penting bukan bertanya: mengapa badai ini datang? Yang terpenting adalah: siapa yang bersama kita saat kita menghadapi badai dan apa yang harus kita lakukan saat badai datang dalam kehidupan?

Isi
Melalui Lukas 8:22-31, kita dapat belajar bagaimana kita dapat mengatasi badai dalam kehidupan ini.
1. Orang Kristen yang taat pun menghadapi badai kehidupan
Tuhan Yesuslah yang memerintahkan murid-murid untuk menyeberangi danau (ay. 22-23).
Namun bukan berarti ketaatan mereka menghindarkan mereka dari badai. Jadi cara pikir bahwa kalau kita taat, maka hidup akan selalu tenang tanpa badai tidak dapat dibenarkan.
Sepanjang Alkitab dikisahkan bahwa orang-orang beriman dan taat pun melewati banyak pergumulan di sepanjang kehidupan mereka. Bahkan ayat 23 menyebut bahwa badai itu datang sekonyong-konyong, tidak diduga sebelumnya.
2. Murid-murid ketakutan dan mengatakan bahwa Yesus tidak peduli (Mrk. 4:38, 41).
Badai yang datang tiba-tiba menimbulkan kejutan yang luar biasa. Murid-murid menjadi ketakutan dan menganggap Yesus tidak peduli. Reaksi murid-murid adalah reaksi yang umumnya terjadi di dalam kehidupan banyak orang Kristen sekarang ini. Menurut Tuhan Yesus, ketakutan dan perasaan bahwa Tuhan tidak peduli adalah manifestasi dari ketiadaan iman (ay. 25). Dan Tuhan Yesus menegur setiap ketidakpercayaan.
3. Yesus menghardik dan menenangkan badai (ay. 24)
Tapi Tuhan Yesus tidak pernah terlambat, Ia bertindak tepat pada waktunya. Ia menghardik badai sehingga danau itu menjadi tenang kembali. Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang berkuasa atas apa pun termasuk alam. Dan tindakan Tuhan Yesus telah menyelamatkan murid-murid dari bahaya, Ia juga pasti menyelamatkan kita dari badai.
4. Setelah badai ditenangkan, jiwa diselamatkan (ay. 26-31)
Setelah peristiwa itu, Tuhan Yesus menyelamatkan orang yang dirasuk roh jahat di Gerasa.
Tuhan Yesus memang sangat mengutamakan keselamatan jiwa setiap orang. Karena bagi Yesus, setiap jiwa sangat berharga. Orang-orang Kristen dilatih untuk menang dari badai kehidupan mereka, bukan saja supaya iman mereka bertumbuh, bukan saja supaya karakter mereka ditempa, juga supaya mereka dilatih untuk membawa banyak jiwa kepada keselamatan.

Kesimpulan
Ada saatnya Tuhan mengijinkan badai datang dalam kehidupan kita. Bahkan pada saat kita
taat pada kehendak Tuhan. Reaksi kita seharusnya tetap tenang dan percaya pada kehadiran Tuhan.
Dan Tuhan akan memberikan pertolongan kepada kita pada waktu-Nya. Melalui badai dalam
kehidupan, Tuhan melatih iman dan menempa karakter kita, sekaligus mengasah kita untuk efektif membawa jiwa-jiwa pada keselamatan.

Pertanyaan dan Penerapan
1. Apakah reaksi saudara pada umumnya, ketika badai kehidupan datang?
2. Menurut saudara, apakah Tuhan sekedar peduli agar kita melewati badai kehidupan untuk kebaikan kita, atau hal itu juga sangat berhubungan dengan tanggung jawab kita untuk membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan?

PERTEMUAN 5
Tetaplah Berpengharapan (Yes. 41:1-10; Ul. 31:6-8)

Pendahuluan
Rasa takut telah memasuki kehidupan manusia sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sekarang manusia bisa mengalami ketakutan terhadap: kematian, bahaya, kesusahan bahkan masa depan. Tuhan meminta kita berulang-ulang, supaya tidak takut tetapi menguatkan dan meneguhkan hati kita.

Isi
Melalui Yesaya 41:1-10 dan Ulangan 31:6-8, Tuhan meminta kita untuk tidak takut, tetapi
supaya kita menguatkan dan meneguhkan hati kita, karena:
1. Allah yang berjanji bahwa Ia akan menyertai dan menolong, dan pasti Ia akan menggenapinya. Hanya mereka yang mau tetap berpegang teguh pada janji-janji Tuhan, yang akan mengalami ketenangan saat menghadapi segala keadaan. Itulah yang Tuhan minta pada kita. Tuhan tidak pernah melupakan atau meninggalkan kita. Ia menyertai kita senantiasa
2. Tuhan menolong mereka yang lemah
Saat berita itu disampaikan, Israel sedang dalam pembuangan di Babel (Yes. 41:1-10). Di pembuangan mereka merasa sangat lemah dan terpuruk. Tetapi pada saat seperti itu, iman umat Tuhan tidak boleh kendor.
3. Tuhan pasti menolong umat-Nya
Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai pribadi yang dapat menghadapi musuh sehebat apa pun musuh itu. Di kemudian hari, kita tahu akhirnya Tuhan membangkitkan raja kafir yaitu Koresy justru menjadi alat-Nya untuk mengembalikan Israel dari pembuangan. Artinya, Tuhan berkuasa untuk membalik keadaan: kekalahan diubah menjadi kemenangan, kelemahan diubah menjadi kekuatan, kutuk diubah menjadi berkat. Umat-Nya hanya diminta percaya dan tetap menguatkan dan meneguhkan hati mereka.

Kesimpulan
Orang Kristen dapat menang dari setiap ketakutan di dalam kehidupan mereka. Dalam keadaan apa pun, Tuhan meminta agar kita menguatkan dan meneguhkan hati kita serta percaya bahwa Allah setia untuk menggenapi apa yang Ia janjikan. Percaya bahwa Allah akan menolong dan membalikkan keadaan: kekalahan diubah menjadi kemenangan, kelemahan diubah menjadi kekuatan, kutuk diubah menjadi berkat. Luar biasa!

Pertanyaan :
1. Jika Tuhan berulang-ulang meminta agar kita menguatkan dan meneguhkan hati kita, maka menurut saudara bagaimana hal itu dapat kita lakukan setiap hari?
2. Bila ada dari anggota care cell yang sedang lemah atau merasa terpuruk, mintalah agar semua anggota care cell yang lain mendoakannya secara bersama-sama!

Check Also

Care Cell Mei

ROH KUDUS

Oleh: Pdm. N. Tonny Saputra I.Be and Stay Humble (Bersikap Tetap Rendah Hati) Matius 5:3; …