
LIRIK ATAU NADA?
Mazmur 100:1-5
Mazmur 100:4. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!
Secara teknis, bernyanyi adalah proses merekonstruksi apa yang kita dengar. Pengalaman pertama manusia dengan suara berawal dalam kandungan. Bukan hanya suara, janin juga dapat mengenali emosi yang terhubung dengan suara yang didengar. Kemampuan ini berkembang melalui suara ibu pada trimester akhir kehamilan. Pembentukan reaksi emosi terhadap suara dipengaruhi oleh reaksi neuro-endokrin yang dihasilkan ibu dan dikomunikasikan kepada janin melalui hormon dalam darah (Miel, MacDonald, & Hargreaves).
Menurut beberapa penulis himnologi, bernyanyi dalam konteks kekristenan bukan untuk memamerkan aspek seni penyanyinya. Bernyanyi lebih pada mempersilakan Allah berbicara melalui lirik lagu. Bernyanyi dan bermusik adalah media atau pelayan pesan firman Allah. Bermusik dan bernyanyi yang berfokus pada kepuasaan indera sensori akan mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Keutamaan lagu terkandung dalam lirik, bukan nada.
Calvin berpendapat, bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah rutinitas gerejawi yang dingin dan tidak bernyawa, menjadi pemujaan penuh semangat dan bergairah. Ia menganjurkan gereja untuk bernyanyi sekaligus berhati-hati agar fokus bukan pada pendengaran melodi, namun pada makna spiritual (Guthrie, 2003).
Mari kita memuji Tuhan dengan sepenuh hati, baik dengan atau pun tanpa musik.
Doa: “Tuhan Yesus, kami mau bernyanyi sepenuh hati kepada-Mu, bukan untuk memuaskan daging kami tetapi berfokus seutuhnya hanya kepada Pribadi-Mu yang Maha Kuasa. Amin.”
Bacaan Setahun: 2 Petrus 2:1-10a; 2 Timotius 2:14-21; Yehezkiel 2:1-3:15; Hosea 5-6
GBI Pasir Koja 39 Bandung