Alergi, Flu & COVID-19

Oleh: Imelda Variastuty, dr.

Hampir semua orang pernah mengalami batuk, bersin-bersin dan pilek, tidak enak badan atau kondisi yang kerap dikenal dengan masuk angin. Pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, kita perlu waspada dan belajar untuk mengenal lebih jauh untuk membedakan apakah batuk, pilek, bersin atau masuk angin yang kita alami merupakan kondisi yang ringan dan tidak berbahaya atau sebaliknya memerlukan perhatian serius.

                Batuk, bersin, pilek merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan zat asing yang masuk ke dalam tubuh, baik berupa mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dll) maupun alergen atau zat yang dapat merangsang reaksi alergi (serbuk sari, tungau, debu, partikel bulu binatang, bau menyengat, dll). Alergi, asma, flu, dan COVID-19 merupakan beberapa kondisi yang dapat memberikan gejala-gejala yang mirip satu dengan yang lain.

                Alergi merupakan respon kekebalan tubuh terhadap alergen, yang umumnya  relatif tidak berbahaya. Alergen adalah istilah untuk benda asing yang biasanya menyebabkan respon alergi dimulai. Ketika alergen memasuki tubuh seseorang maka tubuh akan mengeluarkan histamin. Histamin inilah yang bertanggung jawab menyebabkan munculnya reaksi alergi, antara lain bersin, pilek, gatal, kemerahan pada kulit, bengkak pada kelopak mata serta bibir, dsb. Alergi biasanya bersifat menahun, dan dapat dikenali jenis alergennya sehingga reaksi alergi dapat dicegah dengan menghindari alergen.

                Asma merupakan kondisi alergi yang lebih berat, ditandai dengan  sesak nafas, dada terasa menyempit, mengi, dan batuk. Asma merupakan penyakit yang diturunkan, umumnya asma muncul lebih berat saat kanak-kanak dan usia lanjut. Beberapa kondisi dapat menyebabkan kambuhnya asma, yakni infeksi pernafasan, paparan alergen, kelelahan, olahraga, stress,dsb. Pengobatan asma berdasarkan berat ringannya serangan dan seberapa sering kambuhnya. Pada saat serangan yang berat asma dapat mengancam nyawa seseorang dikarenakan menyempitnya saluran pernafasan.

                Flu merupakan infeksi saluran pernafasan bagian atas yang disebabkan oleh virus, bersifat mudah menular, masa inkubasi 12-72 jam dan umumnya berlangsung 7-11 hari. Masa inkubasi merupakan waktu yang diperlukan sejak paparan hingga munculnya gejala. Iritasi hidung (hidung terasa kering) merupakan gejala yang pertama kali dirasakan penderita. Keluhan diikuti dengan nyeri menelan, bersin-bersin, hidung merah disertai pilek dengan   lendir hidung berwarna bening, kuning atau hijau, maupun hidung tersumbat. Keluhan akan  semakin memberat selama 2-3 hari, nyeri kepala, nyeri pada wajah dan telinga, hilangnya penciuman dan pengecapan, batuk, suara serak, muntah serta demam.  Walaupun sebagian besar flu bersifat ringan dan sembuh sendiri, namun pada beberapa kasus dapat menjadi berat dan timbul komplikasi. Infeksi telinga tengah, infeksi sinus, radang paru, dan kambuhnya asma merupakan komplikasi yang dapat terjadi. Pengobatan flu difokuskan untuk mengurangi gejala, meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah penularan. Istirahat, banyak minum, konsumsi obat flu dapat membantu penyembuhan. Penularan dapat dicegah dengan memakai masker, rajin cuci tangan, dan mendesinfeksi lingkungan.

                COVID-19 merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus corona tipe baru (SARS COV-2), gejala yang sering ditemukan antara lain demam, batuk kering, kelelahan. Sakit badan, hidung tersumbat, nyeri kepala, infeksi mata, sakit menelan, diare, hilang penciuman, hilang pengecapan, ruam kulit juga merupakan gejala-gejala yang dapat ditemukan. Gejala-gejala ini awalnya ringan dan bertambah berat seiring waktu. Namun sebagian orang dapat terinfeksi dan tidak bergejala, 80% penderita akan sembuh tanpa perawatan di RS, 5% penderita akan jatuh ke keadaan yang berat bahkan hingga kesulitan bernafas dan meninggal dunia. Usia lanjut dan atau memiliki penyakit pemberat (komorbid) seperti penyakit tekanan darah tinggi, kencing manis/diabetes, kanker, kelainan immune (lupus, alergi, dll) merupakan kelompok yang sering jatuh ke keadaan yang berat.  

Check Also

Kesehatan April 26 copy

ASAM LAMBUNG NAIK,TERASA TERBAKAR & NYERI DI DADA : Keluhan Sepele Yang Tidak Boleh Diabaikan

Oleh: Andreas Adiwinata, dr., M.Biomed Banyak orang pernah merasakan sensasi panas di dada setelah makan, …